Review Buku Silampari, Hikayat Putri yang Hilang

Diposting pada
85 / 100 Skor SEO

Postingan kali ini adalah Review: buku Silampari, Hikayat Putri yang Hilang karya Swandi Syam. Ada yang sudah baca? Btw saya dapat buku ini dari Bang Benny Arnas penulis Tanjung Luka. Kapan-kapan bakal saya review di sini kalau saya sempat. Ehe

Rasanya sudah lama sekali saya ngggak ngereview buku. Terakhir ngereview bukunya Haris yang judulnya Petualangan Seperempat Abad.

Jadi untuk postingan kali ini saya bakal membuat review buku Silampari, sebuah hikayat yang terkenal di daerah saya. Saya senang sih bisa membaca ini, karena sebelumnya nggak pernah dikasih tau oleh guru, maupun orangtua, dan berikut ini sinopsisnya.

SINOPSIS SILAMPARI, HIKAYAT PUTRI YANG HILANG

Review buku Silampari

Kita mulai dari sinopsis dulu. Dikisahkan Raja Biku, seorang pemimpin kerajaan di Ulak Lebar, yang punya permaisuri keturunan Dewa dari khayangan namun tidak memiliki keturunan.

Belasan tahun kemudian, permaisuri mendapatkan petunjuk dari Dewata melalui mimpi, diberikan bunga dengan enam kelopak, yang selanjutnya memiliki makna bahwa permaisuri bakal dikaruniai enam orang anak. Anak pertamanya Lelaki, yang selanjutnya adalah Perempuan semua.

Yang lelaki diberinama Sebudur, sedangkan kelima adiknya mempunyai nama depan yang sama yaitu Dayang, hanya nama belakangnya saja yang berbeda. Mendapat keenam anak ini adalah suatu amanah dari Dewata kepada Raja Biku, dengan melalui perjanjian, yang disebutkan suatu saat nanti mereka semua akan kembali ke asal.

Raja Biku yang menjadi tokoh pertama yang kembali ke asal. Dia hilang di Laut China. Kemudian dicari oleh Sebudur. Saat melakukan pencarian di Kerajaan Ulak Lebar terjadi penculikan Dayang Torek yang selanjutnya lahirlah seorang bayi keturunan Sultan Palembang.

Sebudur khawatir kejadian ini bakalan merusak nama baik kerajaan, Sebudur menjitak kepala bayi, karena dia sakti akhirnya membuat si bayi mati. Dayang Torek tidak terima, lalu di meminta kepada Dewata untuk kembali ke khayangan. Hilangnya Dayang Torek tersbut yang menjadi awal hikayat putri yang hilang ini.

Silam berarti hilang, pari artinya peri atau putri dari khayangan. Setelah Dayang Torek, lalu disusul adiknya yang hilang di Rejang Lebong, terus adik-adiknya yang lain, hingga Permaisuri juga Sebudur.

REVIEW BUKU SILAMPARI, HIKAYAT PUTRI YANG HILANG

Menariknya buku ini dibungkus dalam bentuk hikayat. Jadi bukan cerita rakyat. Karena dari sampul bukunya juga sudah terpapang tulisan Hikayat Puteri yang Hilang. Padahal sebenarnya yang hilang tidak hanya putri saja, tapi putranya juga, alias si Sebudur, mungkin pengarang atau penyunting punya alasan tersendiri tentang hal ini.

Kata-kata yang digunakan tidak berat sehingga mudah dipahami, jadi dibaca anak-anak juga saya rasa langsung paham.
Bacaan yang ringan, jadi dapat dibaca dengan sekali duduk.

Kekurangannya mungkin ini bukunya terlalu tipis. Mungkin kalau bisa dikembangkan lagi konfliknya bisa jadi lebih panjang dan lebih seru lagi. Tapi ya lagi-lagi ini kan hikayat, bukan cerita rakyat. Mudah-mudahan suatu saat bakal muncul Silampari versi cerita rakyat yang konfliknya lebih dari buku ini.

Selain terlalu tipis, kekurangan lainnya buku ini hanya diedarkan secara lokal saja di Lubuklinggau. Sehingga masyarakat di luar sana masih banyak yang belum tahu mengenai buku ini. Meskipun sudah mengalami cetakan ke du, di buku yang saya baca ini.

Jadi kayaknya segini aja sih review buku Silampari ini. Tapi sejauh maa memangdang, jialah bahasannya, buku ini menarik dinikmati buat kaum kutu buku yang suka membaca hikayat daerah.

PESAN MORAL SILAMPARI, HIKAYAT PUTRI YANG HILANG

Banyak pelajaran yang bisa dipelajari dari hikayat ini. Tidak tersirat namun bisa ditemukan melalui kisah silamnya para peri. Sebagai berikut:

1. Semua makhluk yang berada di dunia sudah ada takdirnyaa: Takdir di sini maksudnya adalah mengenai nasib. Bagaimana kita diciptakan. Bagaimana kita ditakdirkan. Bgaimana kita lahir. Bagaimana kita hidup. Dan bagaimana kita mati. 

2. Harus lebih berlapang dada menerima semuanya: pelajaran selanjutnya setelah saya review buku silampari ini sudah saatnya kita untuk melapangkan dada, memanjangkan pikiran, dan untuk membuatnya panjang kita gak perlu repot-repot pergi ke Mak Erot.

3. Pelajaran sabarE: h goblok, sabar dan lapang dada kan sama aja. Yaudah poinnya ada di atas.

4 Tidak boleh berkeras hati dan tetap harus down to the earth : jangan terlalu egois. Semestinya kita bisa sejenak menjadi orang lain, untuk berpikir dari sudut lain. Serta lebih mencintai bumi dan menjagalingkungan tempat tinggal kita. 

 408 total views,  1 views today

Gambar Gravatar
Hadi Kurniawan adalah nama lengkap dari pemilik blog ini. Berprofesi sebagai guru di Kab. Musi Rawas Utara. Seorang penyendiri yang tak lagi sendiri. Dapat dihubungi di hadisujatman@gmail.com

One thought on “Review Buku Silampari, Hikayat Putri yang Hilang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *