Tugas 3.2.7 Penerapan Coaching Dengan Model Care
Penerapan coaching dengan model CARE adalah metode pendampingan yang berfokus pada menggali potensi seseorang melalui empat tahapan utama: Connect (membangun hubungan), Ask (bertanya), Reflect (berefleksi), dan Empower (memberdayakan). Pendekatan ini bertujuan untuk menuntun peserta coching (pihak yang didampingi) agar mandiri menemukan solusi atas tantangannya sendiri.
1. Manfaat dan Tantangan Penggunaan Coaching dengan Model CARE
Coaching merupakan salah satu pendekatan pengembangan profesional guru yang bertujuan membantu guru melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran serta menemukan solusi atas tantangan yang dihadapi di kelas. Dalam konteks pendidikan inklusif, coaching menjadi penting karena guru dituntut mampu mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang beragam, termasuk murid berkebutuhan khusus atau murid yang memerlukan dukungan tambahan. Salah satu pendekatan coaching yang dapat diterapkan adalah model CARE, yaitu Connect, Ask, Reflect, dan Empower. Berdasarkan pengalaman saya sebagai coach yang mendampingi guru di SDN Bukit Langkap, model ini memiliki berbagai manfaat sekaligus tantangan dalam penerapannya.
Manfaat pertama dari penggunaan coaching model CARE adalah membantu membangun hubungan profesional yang lebih positif antara coach dan guru. Pada tahap connect, saya berusaha membangun komunikasi yang nyaman sehingga guru merasa aman untuk menceritakan kesulitan pembelajaran tanpa merasa dihakimi. Hal ini penting karena proses coaching bukanlah supervisi yang menilai, melainkan proses pendampingan yang bertujuan membantu guru berkembang. Menurut Rahmatullah dan Putri (2024), hubungan kolaboratif antara pendamping dan guru dapat meningkatkan keterbukaan guru dalam melakukan refleksi praktik pembelajaran.
Manfaat kedua adalah membantu guru melakukan refleksi berbasis bukti pembelajaran. Pada tahap ask, saya menggunakan pertanyaan terbuka agar guru dapat mengevaluasi strategi pembelajaran yang telah dilakukan. Misalnya, saya mengajak guru mendiskusikan strategi mana yang paling membantu murid memahami instruksi atau bagaimana perkembangan murid setelah penggunaan media visual dan pendampingan teman sebaya. Pendekatan berbasis refleksi ini membantu guru memahami bahwa keputusan pembelajaran perlu berdasarkan bukti nyata, bukan sekadar asumsi pribadi. Menurut Ningsih (2023), refleksi berbasis data pembelajaran dapat membantu guru mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mendukung perkembangan peserta didik.
Dalam konteks pembelajaran inklusif, manfaat ketiga dari model CARE adalah membantu guru mengembangkan pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan murid. Pada tahap reflect, guru dapat mengevaluasi apakah strategi yang digunakan sudah membantu murid yang membutuhkan dukungan tambahan. Misalnya, guru dapat menilai efektivitas penggunaan media visual, instruksi sederhana, atau diferensiasi tugas berdasarkan kemampuan murid. Hal ini sejalan dengan pandangan Sari dan Kurniawan (2024) bahwa pembelajaran inklusif membutuhkan fleksibilitas strategi agar semua murid memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Selain manfaat, saya juga menemukan beberapa tantangan dalam penggunaan coaching model CARE. Tantangan pertama adalah keterbatasan waktu. Guru sekolah dasar sering kali disibukkan oleh administrasi pembelajaran, asesmen, dan kegiatan sekolah sehingga sulit meluangkan waktu untuk melakukan refleksi secara mendalam. Akibatnya, coaching terkadang hanya dilakukan secara singkat dan belum optimal.
Tantangan kedua adalah kesiapan guru dalam menerima refleksi dan perubahan praktik pembelajaran. Tidak semua guru terbiasa mengevaluasi proses mengajarnya secara kritis. Ada guru yang masih merasa kurang nyaman ketika diminta melihat kelemahan strategi pembelajaran yang diterapkan. Dalam situasi seperti ini, coach perlu berhati-hati dalam menggunakan bahasa agar coaching tetap terasa suportif.
Tantangan ketiga adalah keterbatasan dokumentasi perkembangan murid. Dalam praktik di sekolah dasar, data perkembangan murid sering kali belum tercatat secara sistematis. Padahal, pada model CARE, proses coaching akan lebih efektif apabila guru memiliki data berupa hasil kerja murid, catatan observasi, atau hasil asesmen sederhana sebagai dasar refleksi pembelajaran.
Berdasarkan pengalaman tersebut, saya melihat bahwa coaching model CARE memiliki manfaat besar dalam membantu guru mengembangkan pembelajaran inklusif yang lebih reflektif dan berpihak kepada kebutuhan murid. Namun demikian, keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru, dukungan waktu, dan budaya sekolah yang mendukung praktik refleksi profesional.
2. Nilai Personal, Nilai Profesional, Praktik, serta Keterampilan Saya dalam Menerapkan Coaching Model CARE
Dalam menerapkan coaching model CARE, saya menyadari bahwa keberhasilan coaching tidak hanya ditentukan oleh tahapan model yang digunakan, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai personal, nilai profesional, praktik, serta keterampilan yang saya miliki sebagai seorang coach. Sebagai guru sekaligus coach di lingkungan sekolah dasar, saya perlu membangun sikap reflektif agar coaching dapat memberikan dampak positif bagi guru yang saya dampingi.
Dari sisi nilai personal, saya memandang empati sebagai nilai utama dalam coaching. Saya menyadari bahwa setiap guru memiliki tantangan yang berbeda dalam mengelola pembelajaran inklusif. Oleh karena itu, saya berusaha mendengarkan tanpa menghakimi dan mencoba memahami situasi yang dihadapi guru. Selain empati, saya juga berusaha menjaga kesabaran dan keterbukaan dalam mendengarkan berbagai perspektif guru. Menurut Wibowo (2023), keterampilan interpersonal seperti empati dan komunikasi terbuka menjadi fondasi penting dalam praktik coaching pendidikan.
Dari sisi nilai profesional, saya meyakini bahwa coaching harus selalu berpihak pada kepentingan belajar murid. Tujuan utama coaching bukan hanya membantu guru menyelesaikan masalah pembelajaran, tetapi juga memastikan bahwa murid memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, saya berusaha menjaga profesionalisme, menjaga kerahasiaan hasil coaching, serta menggunakan bukti pembelajaran sebagai dasar diskusi. Saya percaya bahwa guru perlu mengambil keputusan berdasarkan perkembangan nyata murid, terutama bagi murid yang membutuhkan dukungan tambahan dalam pembelajaran.
Dalam praktik coaching, saya berusaha menerapkan kebiasaan mendengar aktif, bertanya reflektif, dan membantu guru merancang tindak lanjut sederhana yang realistis. Sebagai contoh, saya menggunakan pertanyaan seperti, “Menurut Ibu, strategi apa yang paling membantu murid memahami pembelajaran?” atau “Apa bukti yang menunjukkan adanya perkembangan belajar murid?” Pertanyaan seperti ini membantu guru melakukan refleksi tanpa merasa dihakimi. Menurut Yuliana dan Fitriani (2024), pertanyaan reflektif dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengevaluasi praktik pembelajaran secara mandiri.
Selain itu, saya menyadari pentingnya keterampilan observasi, komunikasi interpersonal, refleksi, dan pemecahan masalah dalam coaching model CARE. Saya juga perlu memiliki kemampuan membaca data sederhana, seperti hasil asesmen, hasil kerja murid, dan observasi pembelajaran agar coaching lebih berbasis bukti. Keterampilan ini menjadi semakin penting dalam pembelajaran inklusif karena kebutuhan belajar murid sangat beragam.
Namun demikian, saya juga menyadari beberapa keterbatasan dalam diri saya. Saya terkadang terlalu cepat memberikan saran sebelum guru benar-benar menemukan pemikirannya sendiri. Padahal, coaching yang baik seharusnya memberdayakan guru untuk menemukan solusi secara mandiri. Selain itu, saya juga masih perlu memperdalam pemahaman mengenai strategi pembelajaran untuk murid berkebutuhan khusus agar coaching yang saya lakukan lebih relevan.
Saya juga menyadari bahwa terdapat risiko terlalu fokus pada administrasi pembelajaran dibanding refleksi mendalam. Oleh karena itu, saya perlu terus belajar menjaga keseimbangan antara penggunaan data dan hubungan interpersonal dalam coaching. Dengan demikian, saya berharap coaching model CARE dapat menjadi sarana pengembangan profesional guru yang tidak hanya membantu guru berkembang, tetapi juga mendukung terciptanya pembelajaran inklusif yang lebih baik bagi seluruh murid.
DAFTAR PUSTAKA
Ningsih, D. (2023). Refleksi pembelajaran berbasis data untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 8(2), 45–56.
Rahmatullah, A., & Putri, S. (2024). Pendampingan guru melalui coaching dalam meningkatkan kompetensi profesional guru sekolah dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia, 4(1), 88–99.
Sari, N., & Kurniawan, R. (2024). Implementasi pembelajaran inklusif pada sekolah dasar dalam mendukung keberagaman kebutuhan belajar murid. Jurnal Pendidikan Inklusi Indonesia, 5(1), 22–34.
Wibowo, A. (2023). Kompetensi interpersonal dalam praktik coaching pendidikan di sekolah. Jurnal Manajemen Pendidikan, 12(1), 60–72.
Yuliana, R., & Fitriani, E. (2024). Penggunaan pertanyaan reflektif dalam meningkatkan kemampuan refleksi guru pada praktik coaching pendidikan. Jurnal Profesi Pendidikan, 3(2), 115–126.



