Catatan Kecil Kita sebagai Guru yang Sama-Sama Belajar

Kalau dipikir-pikir, jadi guru itu sering membuat kita berada di posisi yang unik. Di satu sisi, kita dituntut menjadi sosok yang memberi arahan. Tapi di sisi lain, kita juga manusia yang masih terus belajar. Ada hari ketika pembelajaran terasa berhasil, murid antusias, dan kelas berjalan seperti yang kita bayangkan. Tapi ada juga hari ketika pulang sekolah rasanya kepala penuh pertanyaan: “Tadi kurangnya di mana ya?” atau “Kenapa muridku malah makin sulit fokus?”


Lucunya, kita sering lebih mudah membantu orang lain dibanding membantu diri sendiri. Saat rekan guru curhat tentang kelasnya, kita cepat menemukan ide. Tapi ketika kita sendiri yang menghadapi masalah, semuanya terasa lebih rumit. Mungkin karena itulah coaching menjadi penting. Bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena kadang kita hanya butuh seseorang yang membantu melihat masalah dari sudut pandang berbeda.

Selama ini, kata “coaching” mungkin terdengar berat. Terasa seperti istilah pelatihan yang penuh teori dan bahasa formal. Saya juga sempat berpikir begitu. Tapi setelah dipahami, coaching ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai guru. Intinya sederhana: coaching bukan tentang mengajari orang lain seolah kita paling tahu, tetapi membantu seseorang menemukan cara terbaik dari dirinya sendiri.

Di video-video Youtube bahkan dijelaskan bahwa coaching adalah proses membuka potensi seseorang agar ia bisa memaksimalkan kemampuannya. Kalau dipikir lagi, sebenarnya bukankah itu juga yang kita lakukan kepada murid setiap hari?

Coaching Itu Mirip Teman Duduk Sebelah Saat Kita Bingung


Sebagai guru, kita pasti pernah mengalami masa ketika semuanya terasa mentok. Misalnya, ada murid yang sulit fokus, suasana kelas tidak kondusif, atau metode pembelajaran yang sudah dicoba berkali-kali ternyata belum memberi hasil. Dalam kondisi seperti itu, kadang kita tidak benar-benar membutuhkan ceramah panjang. Kita hanya butuh teman berpikir.

Bayangkan ada rekan guru datang lalu berkata, “Sudah, kamu harus begini. Salahnya di situ.” Niatnya mungkin membantu, tapi jujur saja, kadang rasanya malah bikin makin tertekan.

Berbeda kalau seseorang datang lalu bertanya, “Menurutmu bagian paling sulitnya di mana?” atau “Apa yang sudah pernah dicoba?”

Pertanyaan seperti itu terdengar sederhana, tetapi sering kali membuat kita mulai berpikir lebih jernih. Kita jadi merasa didengar, bukan dihakimi. Dari situlah coaching bekerja.

Kadang solusi terbaik ternyata sudah ada di kepala kita. Hanya saja selama ini tertutup oleh rasa capek, bingung, atau terlalu banyak tekanan. Kehadiran orang lain yang mendengarkan tanpa menghakimi sering kali membantu kita menemukan jawaban sendiri.

Coaching Sebenarnya Dimulai Sebelum Kita Duduk dan Mengobrol

Hal yang cukup menarik dari coaching adalah prosesnya ternyata tidak dimulai saat percakapan berlangsung. Bahkan sebelum duduk bersama rekan guru, kita sebenarnya sudah mulai melakukan refleksi.

Misalnya kita ingin mendampingi seorang guru yang mengalami kesulitan mengelola kelas. Sebelum bertemu, kita perlu bertanya ke diri sendiri: apakah kita sudah memahami situasinya dengan baik? Apakah kita benar-benar ingin membantu, atau jangan-jangan diam-diam sudah punya penilaian duluan?

Kalau jujur, kita sebagai guru kadang suka cepat menyimpulkan.

“Oh memang beliau kurang tegas.”

“Kayaknya metode ngajarnya yang salah.”

Padahal kenyataannya belum tentu sesederhana itu.

Di modul coaching ada bagian refleksi sebelum memulai coaching. Kita diajak memikirkan apa yang sudah kita ketahui tentang peserta coaching, bagaimana menjaga fokus tujuan, dan bagaimana tetap fleksibel selama proses berlangsung. Kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, mungkin maknanya sederhana saja: jangan buru-buru merasa paling paham kondisi orang lain.

Karena setiap guru membawa cerita yang berbeda. Ada yang sedang menghadapi kelas sulit. Ada yang sedang kelelahan karena urusan keluarga. Ada juga yang sebenarnya punya kemampuan bagus, tapi sedang kehilangan rasa percaya diri.

Jangan Sampai Coaching Berubah Jadi Sidang

Menurut saya, bagian paling menantang dalam coaching justru menjaga cara berbicara kita. Sebab niat membantu kadang tanpa sadar berubah menjadi menghakimi.

Kalimat seperti, “Harusnya tadi begini,” atau “Lho kok bisa begitu?” mungkin terdengar biasa. Tapi bagi orang yang sedang kesulitan, itu bisa terasa seperti sedang dinilai gagal.

Karena itu coaching bukan soal memberi jawaban cepat. Coaching lebih banyak tentang mendengarkan dan bertanya.

Tujuannya bukan membuktikan siapa yang paling benar.

Tujuannya membantu seseorang melihat situasinya dengan lebih jelas.

Saya sering membayangkan coaching seperti menemani teman berjalan di jalan berkabut. Kita tidak menarik tangannya paksa. Kita juga tidak berteriak dari kejauhan memberi arah. Kita berjalan di sampingnya sambil sesekali bertanya, “Menurutmu langkah berikutnya bagaimana?”

Kadang sesederhana itu.

Rasa Aman Itu Kunci Utama

Ada satu hal yang tidak bisa ditawar dalam coaching: kepercayaan.

Coba bayangkan kalau kita sedang cerita kesulitan mengajar, lalu besoknya jadi bahan obrolan di ruang guru. Pasti rasanya tidak nyaman. Karena itu coaching harus menjadi ruang yang aman.

Apa yang dibicarakan tetap dijaga. Apa yang menjadi tantangan tidak dijadikan bahan candaan. Sebab orang hanya akan terbuka kalau mereka merasa aman untuk jujur.

Dalam refleksi coaching juga dibahas pentingnya membangun kepercayaan, membantu peserta coaching menyiapkan harapan, dan mendokumentasikan proses yang dijalani bersama. Tapi kalau disederhanakan, intinya mungkin begini: kita hadir bukan untuk mencari kesalahan teman, tetapi membantu teman bertumbuh.

Dan pertumbuhan itu tidak mungkin terjadi kalau seseorang merasa sedang dihakimi.

Tidak Semua Coaching Berjalan Mulus

Kadang kita membayangkan coaching itu akan berjalan lancar. Duduk bersama, ngobrol, lalu masalah selesai.

Nyatanya tidak selalu begitu.

Ada rekan yang jawabannya pendek-pendek. Ada yang defensif. Ada yang terlihat tidak nyaman. Bahkan ada yang mungkin belum siap membuka diri.

Dulu saya mengira itu tanda coaching gagal. Tapi lama-lama sadar, mungkin orang itu hanya belum siap. Sama seperti murid di kelas, setiap orang punya waktunya sendiri untuk bertumbuh.

Kadang seseorang tidak langsung membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin didengarkan dulu.

Dan ternyata, mendengarkan dengan sungguh-sungguh itu jauh lebih sulit daripada memberi nasihat.

Kita Tidak Harus Hebat Sendirian

Mungkin pelajaran terbesar dari coaching adalah kesadaran bahwa kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Menjadi guru bukan perlombaan siapa yang paling sempurna. Kita semua pernah bingung. Pernah gagal. Pernah merasa pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan.

Dan itu normal.

Kadang yang kita butuhkan hanyalah satu orang yang mau duduk sebentar, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, lalu membantu kita melihat jalan keluar dengan lebih tenang.

Mungkin itulah kenapa coaching terasa penting di sekolah. Bukan supaya terlihat modern atau sekadar menjalankan program. Tapi karena pendidikan memang tidak dibangun sendirian.

Kita tumbuh bersama.

Kita belajar bersama.

Dan kadang, perubahan besar dimulai dari satu percakapan sederhana:

“Coba cerita, bagian mana yang menurutmu paling menantang?”

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url