Banyak e-IPO Bermunculan, Harus Ambil yang Mana?
Setiap kali pasar modal sedang ramai, kita akan melihat fenomena yang sama: satu demi satu perusahaan menawarkan saham melalui e-IPO. Grup investasi mulai ramai membahas saham yang akan melantai, media sosial dipenuhi prediksi kenaikan harga, bahkan ada yang langsung menyebut sebuah IPO sebagai "calon auto cuan".
Di titik ini, banyak investor pemula mulai bertanya, apakah semua e-IPO layak diambil?
Jawabannya sederhana: tidak.
IPO bukan perlombaan mengoleksi sebanyak mungkin saham baru. Justru semakin banyak pilihan, semakin penting bagi investor untuk bersikap selektif. Jangan sampai keputusan investasi hanya didasarkan pada rasa takut ketinggalan (FOMO) atau karena melihat orang lain ikut membeli.
Anggap saja memilih IPO seperti memilih bisnis yang ingin kita beli sebagian kepemilikannya. Kita tentu tidak akan membeli sebuah warung, pabrik, atau perusahaan tanpa mengetahui bagaimana kondisi keuangannya, siapa yang menjalankannya, dan untuk apa uang kita akan digunakan.
Berikut beberapa aspek yang sebaiknya diperhatikan sebelum memutuskan ikut dalam sebuah e-IPO.
Lihat Dulu Bisnisnya, Jangan Langsung Melihat Harga Sahamnya
Kesalahan yang paling sering dilakukan investor baru adalah menganggap harga saham yang murah berarti murah secara valuasi.
Misalnya ada dua perusahaan yang melakukan IPO.
- Perusahaan A menawarkan saham di harga Rp100 per lembar.
- Perusahaan B menawarkan saham di harga Rp2.500 per lembar.
Sebagian orang langsung berpikir Perusahaan A lebih murah sehingga peluang naiknya lebih besar. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Harga saham hanyalah angka nominal. Yang lebih penting adalah nilai perusahaan secara keseluruhan. Bisa saja perusahaan yang menawarkan harga Rp100 ternyata sudah dihargai sangat mahal dibandingkan laba yang dihasilkannya. Sebaliknya, perusahaan dengan harga Rp2.500 justru masih tergolong murah jika dibandingkan dengan kualitas bisnisnya.
Karena itu, sebelum melihat harga saham, pahami dulu apa bisnis perusahaan tersebut.
Tanyakan beberapa hal sederhana.
- Apa produk atau jasa yang mereka jual?
- Apakah produknya masih dibutuhkan lima hingga sepuluh tahun ke depan?
- Apakah perusahaan menghasilkan keuntungan atau masih merugi?
- Bagaimana pertumbuhan penjualannya?
Semakin mudah kita memahami bisnisnya, semakin mudah pula menilai prospeknya.
Perhatikan Valuasinya, Jangan Membayar Terlalu Mahal
Valuasi ibarat harga sebuah rumah. Bayangkan ada dua rumah dengan ukuran dan kondisi yang hampir sama.
- Rumah pertama dijual Rp500 juta.
- Rumah kedua dijual Rp1,5 miliar.
Tentu kita akan bertanya, apa alasan rumah kedua dihargai tiga kali lipat lebih mahal?
Logika yang sama berlaku pada saham.
Investor biasanya menggunakan indikator seperti Price to Earnings Ratio (PER) atau Price to Book Value (PBV) untuk membandingkan apakah harga IPO sudah terlalu mahal atau masih masuk akal.
Sebagai contoh, jika perusahaan-perusahaan sejenis diperdagangkan pada PER 12 kali, tetapi perusahaan yang baru IPO dihargai pada PER 35 kali, maka investor perlu bertanya apakah pertumbuhan bisnisnya memang mampu membenarkan harga setinggi itu.
Valuasi yang terlalu mahal membuat potensi keuntungan menjadi lebih terbatas karena ekspektasi pasar sudah sangat tinggi sejak awal.
Cari Tahu untuk Apa Dana IPO Digunakan
Saat perusahaan menjual saham ke publik, mereka akan memperoleh dana segar. Pertanyaannya, dana tersebut akan dipakai untuk apa? Ini adalah informasi yang sering diabaikan, padahal sangat penting.
Idealnya, dana IPO digunakan untuk hal-hal yang dapat meningkatkan nilai perusahaan, seperti:
- membangun pabrik baru,
- membuka cabang,
- membeli mesin produksi,
- mengembangkan teknologi,
- menambah modal kerja.
Sebaliknya, jika sebagian besar dana IPO hanya digunakan untuk melunasi utang lama atau sekadar memberikan jalan keluar bagi pemegang saham lama, investor perlu lebih berhati-hati.
Bayangkan kita meminjamkan modal kepada seorang pengusaha.
Jika modal itu digunakan membeli mesin baru yang meningkatkan produksi, peluang usahanya berkembang lebih besar. Namun jika uang tersebut hanya dipakai menutup utang lama tanpa ada rencana ekspansi, pertumbuhan bisnisnya bisa jadi tidak berubah.
Pelajari Siapa Orang-Orang di Balik Perusahaan
Bisnis yang baik tidak hanya ditentukan oleh produknya, tetapi juga oleh orang-orang yang menjalankannya. Karena itu, luangkan waktu untuk mengenal direksi dan pemegang saham pengendali.
Cari tahu apakah mereka memiliki rekam jejak yang baik dalam mengelola perusahaan. Perhatikan juga apakah setelah IPO mereka masih mempertahankan kepemilikan saham dalam jumlah besar.
Mengapa ini penting?
Karena jika pemilik lama masih memegang sebagian besar sahamnya, berarti mereka masih memiliki kepentingan besar terhadap masa depan perusahaan.
Sebaliknya, jika mereka justru melepas porsi yang sangat besar saat IPO, investor perlu mencari tahu alasannya.
Jangan Abaikan Free Float
Istilah free float mungkin terdengar teknis, tetapi konsepnya cukup sederhana. Free float adalah jumlah saham yang beredar dan dapat diperdagangkan oleh publik. Semakin kecil free float, biasanya semakin mudah harga saham bergerak naik atau turun secara tajam karena jumlah saham yang tersedia di pasar relatif sedikit.
Memang kondisi ini terkadang menghasilkan kenaikan harga yang cepat. Namun risikonya juga sama besar.
Investor yang mengejar keuntungan jangka pendek mungkin tertarik dengan volatilitas seperti ini, tetapi investor jangka panjang umumnya lebih nyaman pada saham dengan likuiditas yang sehat.
Perhatikan Prospek Industri
Perusahaan yang hebat pun akan kesulitan tumbuh jika industrinya sedang mengalami penurunan. Sebaliknya, perusahaan yang dikelola dengan baik di industri yang sedang berkembang memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan.
Sebagai contoh, beberapa tahun terakhir sektor pusat data, layanan digital, kesehatan, energi terbarukan, dan logistik menunjukkan pertumbuhan yang cukup menarik.
Sementara itu, ada juga sektor tertentu yang pertumbuhannya mulai melambat karena perubahan perilaku konsumen atau kondisi ekonomi.
Karena itu, jangan hanya menilai perusahaannya. Nilai juga arah industrinya.
Jangan Tergoda Hanya Karena Oversubscribe
Banyak investor menganggap IPO yang mengalami oversubscribe tinggi pasti akan memberikan keuntungan saat hari pertama perdagangan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Oversubscribe memang menunjukkan minat investor yang besar.
Namun minat tinggi bukan jaminan harga akan terus naik. Ada IPO yang melonjak pada hari pertama lalu turun dalam beberapa hari berikutnya. Ada juga IPO yang justru bergerak stabil dan baru menunjukkan kenaikan signifikan setelah beberapa bulan karena fundamental perusahaan memang kuat.
Artinya, oversubscribe hanyalah salah satu indikator, bukan alasan utama membeli sebuah saham.
Sesuaikan dengan Tujuan Investasi
Sebelum ikut e-IPO, tentukan terlebih dahulu tujuan investasi kita. Jika tujuan kita adalah mencari keuntungan dari kenaikan harga saat listing, maka kita perlu memperhatikan sentimen pasar, minat investor institusi, kondisi IHSG, serta potensi permintaan pada hari pertama perdagangan.
Namun jika tujuan kita adalah membangun portofolio jangka panjang, fokuslah pada kualitas perusahaan.
Cari perusahaan yang memiliki pertumbuhan laba yang konsisten, arus kas yang sehat, tingkat utang yang terkendali, manajemen yang kredibel, serta valuasi yang masih masuk akal.
Pendekatan ini mungkin tidak selalu menghasilkan keuntungan instan, tetapi peluang menciptakan hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang biasanya jauh lebih besar.
Penutup
e-IPO memberikan kesempatan bagi investor untuk menjadi pemegang saham sejak awal sebuah perusahaan masuk ke bursa. Namun kesempatan ini hanya akan menguntungkan jika diiringi dengan analisis yang matang.
Jangan membeli hanya karena harga saham terlihat murah, karena ramai diperbincangkan, atau karena takut tertinggal dari investor lain.
Biasakan melihat perusahaan dari sudut pandang seorang pemilik bisnis. Pelajari model usahanya, nilai valuasinya, pahami penggunaan dana IPO, kenali manajemennya, perhatikan struktur kepemilikan saham, dan lihat prospek industrinya.
Pada akhirnya, investasi yang baik bukan ditentukan oleh seberapa banyak IPO yang kita ikuti, melainkan seberapa baik kita memilih perusahaan yang benar-benar layak dimiliki.



