Review: Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? — Film yang Awalnya Saya Pilih Karena Mengalah

Ada satu hal yang tidak saya sangka sebelum akhirnya menonton Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu: ternyata keputusan memilih film bisa dimulai dari diskusi alot di rumah.

Bukan diskusi serius soal masa depan keluarga atau keputusan besar lainnya.

Cuma soal mau nonton film apa.

Saya sebenarnya punya pilihan sendiri. Ada film yang lebih ingin saya tonton, salah satunya Avengers. Dari awal sudah ada niat untuk menonton itu. Sebagai orang yang memang suka film action dan cerita yang lebih "berisik", pilihan tersebut terasa lebih masuk akal buat saya.

Tapi setelah diskusi yang lumayan panjang dengan orang rumah, akhirnya saya memilih mengalah.

"Oke, kita nonton Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?."

Kurang lebih begitu keputusan akhirnya.

Jujur, saat itu saya tidak punya ekspektasi terlalu tinggi. Saya sudah bisa menebak film ini akan membawa cerita yang sedih. Dari judulnya saja sudah cukup menjadi peringatan.

Tapi saya pikir, paling cuma sedih.

Nangis? Ah, nggak mungkin.

Ternyata saya salah. 

Dari Niat Mengalah, Malah Jadi Pengalaman yang Membekas. 

Saya datang ke bioskop dengan kondisi yang bisa dibilang biasa saja.

Tidak ada ekspektasi besar. Tidak sedang mencari film yang bisa bikin menangis. Bahkan awalnya saya masih merasa bahwa keputusan menonton film ini adalah bentuk kompromi karena saya mengalah dari pilihan pertama.

Tapi ternyata justru film yang awalnya saya pilih karena mengalah ini yang akhirnya memberikan pengalaman menonton paling emosional.

Saya benar-benar nangis. Bukan cuma sekali. Tapi beberapa kali.

Film ini sebenarnya tidak dari awal sampai akhir memaksa penonton untuk sedih. Ada bagian yang ringan, ada humor, dan tingkah karakter yang membuat saya tertawa.

Lalu tiba-tiba film kembali menghantam emosi. Begitu terus. Sampai akhirnya saya sadar bahwa saya sudah terlalu masuk ke dalam ceritanya.

Jadi air matanya tidak dibiarkan kering, baru nyengir dikit melihat konyolnya Praz Teguh atau Ivan Gunawan yang bibirnya tebal itu, kemudian ada aja adegan yang menguras air mata, mewek lagi. 

Review Filmnya Dulu


Buat yang belum tahu, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu bukan cerita yang sepenuhnya orisinal.

Film ini merupakan adaptasi dari film Korea Selatan berjudul Wedding Dress yang dirilis pada 2010.

Film aslinya disutradarai Kwon Hyung-jin dan dibintangi Song Yoon-ah serta Kim Hyang-gi. Ceritanya sama-sama berpusat pada hubungan seorang ibu dan anak perempuan serta bagaimana sang ibu mempersiapkan anaknya menghadapi kehidupan ketika dirinya sudah tidak ada.

Versi Indonesianya digarap oleh Herwin Novianto dengan skenario Alim Sudio. Ceritanya kemudian dibawa ke konteks Indonesia melalui karakter Stella yang diperankan Marsha Timothy dan Rere yang diperankan Fara Shakila.

Saya sendiri belum menjadikan Wedding Dress sebagai pembanding utama ketika menonton film ini. Jadi saya bisa menikmati Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu sebagai sebuah film keluarga tanpa terlalu sibuk membandingkan setiap adegan dengan versi aslinya.

Dan menurut saya, pendekatan seperti itu cukup membantu.

Marsha Timothy dan Fara Shakila Terasa Seperti Ibu dan Anak Beneran

Hal pertama yang paling mencuri perhatian saya adalah chemistry Marsha Timothy dan Fara Shakila.

Keduanya terasa natural.

Bukan tipe hubungan ibu-anak yang cuma terlihat karena film mengatakan mereka adalah ibu dan anak. Interaksi mereka terasa dekat, intim, dan punya rasa sayang yang cukup kuat.

Marsha Timothy berhasil membawa karakter Stella sebagai seorang ibu yang tahu bahwa waktunya tidak banyak.

Yang menarik, fokus Stella bukan hanya pada penyakitnya. Dia lebih banyak memikirkan anaknya.

Bagaimana Rere nanti? Bagaimana kalau dirinya sudah tidak ada? Bagaimana Rere menjalani hidup?

Sebagai orang tua, ketakutan seperti ini terasa masuk akal. Ketika menghadapi sesuatu yang berat, mungkin yang paling kita pikirkan bukan diri sendiri, tetapi orang yang akan kita tinggalkan.

Dan film ini cukup berhasil menangkap sisi tersebut.


Fara Shakila Bikin Saya Salut

Fara Shakila
Fara Shakila

Saya juga harus memberikan apresiasi khusus untuk Fara Shakila.

Aktingnya menurut saya lepas banget.

Ada beberapa adegan yang membuat saya benar-benar ikut terbawa suasana. Ekspresinya tidak terasa seperti anak yang sedang dipaksa untuk sedih.

Dan ini membuat saya teringat dengan anak-anak di kelas yang saya ajar.

Saya punya murid seusia Fara. Untuk maju ke depan kelas saja masih ada yang takut. Ada yang gugup, malu, bahkan ada yang langsung kehilangan percaya diri ketika harus berbicara di depan teman-temannya.

Jadi melihat anak seusia itu bisa memainkan karakter dengan emosi seperti yang ditampilkan Fara membuat saya semakin kagum.

Saya sampai berpikir, "Gila, anak ini bisa main juga."

Buat saya, Fara adalah salah satu alasan kenapa hubungan Rere dan Stella terasa hidup.

Saya Sudah Tahu Film Ini Sedih, Tapi Tetap Kena

Sebelum menonton, saya sudah tahu film ini bakal sedih. Tidak perlu menjadi ahli film untuk menebaknya. Tema ibu, anak, penyakit, dan perpisahan sudah cukup memberikan petunjuk. Tapi saya tetap merasa tidak akan menangis.

Ternyata saya terlalu percaya diri. Saya bisa nangis sepanjang film. Yang menarik, film ini tidak membuat penonton terus-terusan berada dalam suasana murung.

Ada Praz Teguh. Ada Ivan Gunawan. Kehadiran mereka memberikan warna dan membuat bagian awal film terasa lebih ringan. Saya bahkan sempat ketawa.

Jadi ketika suasana kemudian kembali berubah menjadi serius, efeknya justru lebih terasa. Baru saja ketawa, beberapa menit kemudian mata sudah mulai panas lagi.


Praz Teguh dan Ivan Gunawan Jadi Penyeimbang

Menurut saya, Praz Teguh punya fungsi yang cukup penting dalam film ini.

Kehadirannya memberikan jeda dari drama yang cukup berat. Dialog dan tingkahnya membuat film tidak terasa seperti satu garis lurus dari awal sampai akhir: sedih, menangis, sedih lagi.

Ada ruang untuk bernapas. Ada ruang untuk tertawa. Dan itu bagus.

Ivan Gunawan juga memberikan warna tersendiri, meskipun ada satu bagian yang menurut saya agak mengganggu.

Bukan karena adegannya tidak sedih, tetapi ekspresi wajahnya menurut saya terasa sedikit janggal, pas Igun akting nangis bibirnya yang tebal itu jadi melebar dan itu aneh banget, jujur bikin otak jadi bingung mau ketawa atau nangis.

Ini jelas subjektif.

Mungkin penonton lain tidak akan merasakan hal yang sama. Tapi bagi saya, momen itu cukup terasa.


Ada Satu Bagian yang Membuat Saya Terdiam

Nah, di sinilah film ini mulai terasa lebih personal.

Ada adegan ketika Mas Tio mengetahui kondisi Stella dan kemudian menangisi keadaan Stella. Saya langsung teringat pada pengalaman sendiri.

Terakhir kali saya menangis sedalam itu adalah sekitar dua tahun lalu, ketika kakak saya meninggal.

Jadi ketika melihat seseorang menangis karena saudara atau orang yang disayang sedang berada dalam kondisi sulit, rasanya memang berbeda.

Kita tidak lagi melihat karakter film semata.

Ada sesuatu yang terasa familiar.

Perasaan ketika orang yang kita sayangi sedang kesusahan, sementara kita tidak bisa berbuat banyak, adalah perasaan yang sulit dijelaskan.

Kita ingin membantu. Kita ingin keadaan berubah. Tapi ada situasi tertentu yang memang berada di luar kendali kita. Dan ketika film menyentuh bagian itu, pertahanan saya langsung jebol.

Film Ini Sebenarnya Bukan Cuma tentang Kanker

Kalau melihat premisnya, mudah untuk menganggap film ini sebagai film tentang seorang ibu yang menderita kanker.

Tapi buat saya, penyakit hanya menjadi jalan untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar.

Yaitu kehilangan.

Dan bagaimana seseorang mempersiapkan orang yang dia cintai untuk menghadapi kehilangan tersebut.

Stella tahu bahwa waktunya terbatas. Karena itu, dia berusaha menyiapkan Rere. Bukan cuma secara materi, tetapi juga secara emosional.

Dia ingin memastikan anaknya bisa berdiri sendiri. Dan di situlah hubungan ibu-anak menjadi semakin kuat.

Rere Harus Belajar Memahami Ibunya

Perjalanan Rere juga menjadi bagian menarik dari film ini. Dia bukan anak yang sempurna. Dia memiliki masalah dalam bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-temannya.

Tetapi seiring berjalannya cerita, Rere dipaksa menghadapi kenyataan yang mungkin belum siap dia terima.

Ibunya sakit. Ibunya tidak selalu bisa berada di sampingnya. Dan pada akhirnya, Rere harus belajar memahami ibunya.

Hubungan mereka menjadi semakin intens seiring kondisi Stella semakin memburuk.

Di titik ini film berhasil menunjukkan bahwa hubungan ibu dan anak tidak selalu soal siapa yang menjaga siapa.

Ada waktunya orang tua menjaga anak. Tapi ada juga saat ketika anak mulai belajar memahami dan menerima keadaan orang tuanya.


Dari Film Korea ke Versi Indonesia

Karena merupakan adaptasi Wedding Dress (2010), tentu ada tantangan tersendiri untuk membawa cerita ini ke penonton Indonesia.

Menurut saya, versi Indonesia ini cukup berhasil membuat ceritanya terasa dekat.

Esensi hubungan ibu dan anak tetap menjadi pusat cerita, tetapi karakter pendukung, humor, dan dinamika sosialnya terasa lebih familiar bagi penonton Indonesia.

Buat yang belum pernah menonton Wedding Dress juga, film ini tetap bisa dinikmati tanpa harus mengetahui film aslinya.

Sedangkan bagi yang sudah menonton film Korea tersebut, tentu akan menarik melihat bagaimana cerita yang sama diterjemahkan dalam konteks Indonesia.

Pada Akhirnya, Saya Bersyukur Sudah Mengalah

Kalau dipikir-pikir, ada sedikit ironi dari pengalaman menonton film ini.

Saya awalnya tidak memilih film ini. Saya memilihnya karena mengalah setelah diskusi alot dengan orang rumah.

Saya bahkan sebelumnya lebih ingin menonton Avengers.

Tapi justru film yang awalnya saya pilih karena kompromi ini yang akhirnya membuat saya pulang dengan pikiran yang berbeda.

Kadang memang begitu.

Kita datang ke bioskop karena ingin mencari hiburan. Ternyata malah mendapatkan sesuatu yang lebih personal.

Saya keluar dari bioskop bukan cuma membawa cerita tentang Stella dan Rere.

Saya juga membawa kembali ingatan tentang keluarga, tentang kehilangan, dan tentang orang-orang yang pernah ada dalam hidup saya.

Dan mungkin itu alasan kenapa film ini terasa cukup kuat buat saya.

Kesimpulan

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu bukan film yang sempurna.

Ada beberapa bagian yang menurut saya masih bisa diperbaiki, terutama beberapa momen humor dan penampilan pendukung yang sesekali membuat suasana emosional sedikit pecah.

Tetapi kalau bicara tentang hubungan ibu dan anak, film ini berhasil memberikan sesuatu yang terasa.

Marsha Timothy dan Fara Shakila punya chemistry yang kuat. Fara juga memberikan penampilan yang menurut saya sangat mengesankan.

Dan yang paling penting, film ini berhasil membuat saya mengingat kembali orang-orang yang saya sayangi.

Jadi, apakah saya menyesal mengalah dan batal menonton Avengers?

Setelah melihat hasil akhirnya, sepertinya tidak.

Karena ternyata malam itu saya tidak cuma menonton film. Saya juga diingatkan bahwa waktu bersama orang-orang yang kita sayangi itu ada batasnya.

Dan ketika film selesai, satu pertanyaan dari judulnya justru terasa semakin berat:

Ibu, bagaimana aku tanpamu?


Detail Film


Judul: Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu

Tahun: 2026

Sutradara: Herwin Novianto

Penulis skenario: Alim Sudio

Adaptasi: Wedding Dress (2010) — Korea Selatan

Pemeran: Marsha Timothy, Fara Shakila, Praz Teguh, Ivan Gunawan, Sara Wijayanto, Kiki Narendra, Haruka Nakagawa, Queen Lubis, dan Kinaryosih

Durasi: 111 menit

Rating pribadi: 9/10

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url