January 2016 - Hadi Ku
News Update
Loading...

Sunday, 31 January 2016

Review Buku: Di Bawah Langit yang Sama

Helga Rif
Judul : Di Bawah Langit yang Sama
Penulis : Helga Rif
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : pertama
Tebal : 276 hlm
ISBN : 979-780-811-4

Di kotaku, gadis-gadis berkebaya meriung merangkai bunga.
Menyanyikan kidung. Juga membicarakan cinta, yang ternyata tak semudah yang kita sangka.

Seperti cintaku, yang kini kupertanyakan di tepi pura dekat taman bunga.
Dia dan aku sungguh berbeda meski berada di bawah langit yang sama.
“Kau seperti kupu-kupu,” katanya, “yang sempurna dan cantik warnanya.”
Seharusnya, aku bahagia mendengarnya.
Namun, aku sadar, sayapku tak bisa terbang bebas.

Cinta tumbuh di tempat yang jauh, sementara sayapku terikat di sini.
Di pulau para dewa, yang menyimpan banyak rindu untuk memanggilku kembali.
Yang nyanyian ombak di pantainya mampu mendamaikan risau di hati.

Langit masih memiliki warna yang sama, aku dan dia berada di bawahnya.
Kami mengirimkan cinta dan doa.
Namun, diam-diam juga saling bertanya, apakah doa kami akan sampai ke tempat yang sama?

Jika kau pernah mendengar kisah serupa, kabarkan kisahnya ke Pulau Dewata; apakah bahagia atau sesal yang ada di ujung kisahnya?

—Indira


Indira, gadis Bali yang melanjutkan kuliah di Singapura. Setelah lulus kuliah, dia bekerja di salah satu perusahaan tekstil sebagai desainer. Di sana dia berpacaran dengan Maximilian Liem, yang merupakan atasan sekaligus anak dari pemilik perusahaan.

Suatu ketika Max menawarkan Indira sebuah proyek besar dengan Mr. Howard,  klien dari Australia, bersamaan dengan berita duka yang didapatkannya dari  Iswara, adiknya yang tinggal di Bali, bahwa Niang—panggilan nenek untuk masyarakat Bali yang berkasta kesatria—meninggal. Berita duka itu membuat Indira harus pulang ke Bali dan meninggalkan segala hal, pekerjaannya, proyek besarnya dengan Mr. Howard, dan termasuk pula kekasihnya—Max.

Di situlah bagian paling menarik dari novel ini. Deskripsi budaya Bali yang digambarkan penulis sangat kental, belum lagi elemen-elemen adatnya, dan hal-hal yang erat sekali  kaitannya dengan agama Hindu. Diceritakan pula prosesi ngaben yang cukup merepotkan dan memakan waktu lama.

Setelah pulang ke Bali, waktu Indira banyak tersita untuk merayakan upacara ngaben neneknya. Desain pesanan untuk proyek dengan Mr. Howard jadi terbengkalai. Selain itu dia juga terpaksa memperpanjang masa cuti kerja, sebab upacara ngaben baru akan selesai berminggu-minggu kemudian. Sehingga membuatnya bertemu lagi dengan teman main semasa kecilnya yang setelah tamat SMP merantau ke Jakarta, namanya Gung Wah. Masalah bertambah saat Gung Wah ketahuan jatuh cinta pada Indira.

Konflik novel ini lekat dengan adat. Ada empat kasta di Bali, yaitu Brahmana, Kesatria, Wesya, dan Sudra. Di Bali, perkara kasta sangat sering menjadi pro-kontra, terutama dalam masalah pernikahan. Ada aturan jika perempuan yang menikah harus mengikuti kasta suami. Konflik semakin berkembang saat Indira terjerat pada keadaan yang memaksanya untuk memilih Max—laki-laki beragama Budha yang punya status sosial dan ekonomi yang bagus di Singapura, atau memilih Gung Wah—laki-laki berkasta sama yang dalam sistem kasta bisa masuk ke dalam keluarganya, tetapi tidak dicintainya. Sangat rumit sekali. Namun seru.

Berbeda dengan novel lain yang mengangkat latar Bali, novel ini hampir tidak membeberkan tempat-tempat wisata yang berada di pulau Dewata. Namun, novel ini akan membuat para pembacanya dekat dengan Bali melalui budaya, adat, ritual, dan kearifan lokalnya yang kental.

Review Buku: Everybody's Man

Penulis: Arie Fajar Rofian
Judul: Everybody's Man
ISBN: 9786020263618
Editor: Pradita Seti Rahayu
Est. Terbit: 29-Apr-2015
SPT Design Cover: Hadi
Penulis: Arie Fajar Rofian Judul: Everybody's Man
 Everybody's Man

R-I-A-N. Empat huruf, satu raga. Lima cerita, satu jiwa... Perempuan punya cara masing-masing dalam bercerita tentang cinta. Manis, getir, harap, juga bencana. Mana yang benar-benar Rian cinta?

Bercerita tentang sudut pandang dari beberapa perempuan atas diri Rian. Penampakan dari cowok cool yang sangat digandrungi di seantero kampus. Awalnya, saya kira ceritanya akan sama dengan cerita-cerita romance anak kuliahan pada umumnya. Cowok keren. Suka sama cewek yang biasa. Ah, pokoknya khas romance. Tapi ternyata, di luar dugaan saya, ceritanya justeru merangkum banyak sekali sudut pandang. Bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang kehidupan yang benar-benar terjadi dan ada di sekeliling kita.

Kak Arie mampu mengontrol emosi pembaca dengan menyelipkan beberapa candaan ringan dan tokoh yang jarang ada, semacam Prio (sahabat Rian yang tidak jelas kadar kewarasannya).

Membaca novel ini, sama seperti kamu sedang duduk santai sembari nikmatin teh hangat. Dan di sebelahmu seperti ada beberapa perempuan yang sedang bercerita tentang satu nama. Rian.

Ah. Lagi-lagi Riaaaaaaannnnn. :')

Review

Setelah hampir berbulan-bulan tersesat di antah berantah yang mendapatkan signal kencang itu hanyalah sebuah impian, akhirnya hari ini saya bisa online dengan numpang wifi gretongan di sekolah adik saya. Meski udah kelar dari entah kapan membaca novel terbaru Kak Arie, rasa nyesek bacanya masih kerasa. Apalagi kalau ingat Ryan, si tokoh utamanya itu...

Inilah reviewnya. Disimak ya, soalnya pasti kalian akan nyesel kalau sampai nggak kebagian novel itu di toko buku.

Novel terbaru Kak Arie ini, cara berceritanya nggak terlalu jauh berbeda dengan novel pertamanya "Berikutnya Kau yang Mati". Banyak sekali teka-teki yang membuat kita sebagai pembaca sulit sekali berhenti membaca meski sekedar untuk ke kamar mandi.

Saya banyak sekali membaca novel romance. Tapi membaca novel romance yang memiliki gaya khas bercerita yang unik, ya cuma punya Kak Arie ini recomended.



Sunday, 3 January 2016

Review Buku: Cinta (Tidak Harus) Mati

 Cinta (Tidak Harus) Mati

Penulis: Henry Manampiring
Editor: Irwan Suhanda
Cover dan Grafis: Cindy Alif
Ilustrasi Isi: Delia Alif
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
ISBN: 978-979-709-676-2
Cetakan pertama, November 2012
258 halaman


Apa persamaan antara bendera Malaysia, anjing yang melahirkan kucing, Long Distance Relationship, dan petugas menara Air Traffic Control?


Tidak ada yang luput dari komentar penulis buku ini.



Cinta (Tidak mesti) Mati adalah sekumpulan refleksi Henry Manampiring atas berbagai fenomena sehari-hari. Komentar kritis, usil, bahkan menyebalkan, ia berikan pada berbagai topik. Mulai dari soal kejombloan, percintaan, Twitter, sampai masalah sosial budaya lain. Buku ini mengajak kita untuk tersenyum gemas, dan memiliki perspektif segar atas persoalan sehari-hari di sekitar kehidupan kita.



"Hysterical!!! And yet, insightful, and meaningful. Kita bisa lihat keresahan Henry dengan masalah sekitar kita, dan dia mengantarkan keresahan itu dengan cara yang humble, cerdas, dan sangat lucu. WAJIB BELI!
Adhitya Mulya @adhityamulya - penulis buku Mencoba Sukses dan Jomblo

Lupa kapan tepatnya follow Om Piring di twitter, tau dia dari siapa juga lupa, kayaknya udah lama jadi followersnya, yang saya ingat tweetnya kadang lucu kadang tidak penting kadang cerdas dan saya sukasekali salah satu ulasan film di blognya. Waktu tahu dia menerbitkan buku, anggapan saya sih mungkin lagi musimnya selebtweet membuat karya yang lebih dari 140 karakter dan dari banyaknya selebtweet yang bikin buku, karya penulis yang mempunyai akun bernama @newsplatter ini mungkin akan lebih menarik, karena saya suka tweet-tweetnya. Baca bagian pengantar, buku ini berisi kumpulan post yang ada di blognya yang terpilih, pastinya tidak semua dan saya tebak yang baru di buku ini adalah bagian survei tentang jomblo.

Dibagi menjadi tiga bab atau blok, blok A tentang Cinta, blok B tentang Kehidupan dan blok C tentang Pencarian Diri. Jujur saja, saya bosan setengah mati dengan bagian blok A, bagian yang tidak penting kalau menurut saya, habis bingung dan repetitifsekali, baca keterangan di bagan nanti dibawahnya diulang lagi, dengan melihat hasil di bagan sebenernya udah jelas kok tanpa mesti diperjelas lagi. Bagian yang paling saya suka malah blok B dan blok C, dan kalau disempitkan lagi, saya paling suka blok B :).

Tentang kehidupan, saya ikut trenyuh waktu baca bagian supir taksi yang rela menepi dan mencarikan taksi lain untuk penumpangnya dikarenakan dia tidak bisa mengantar sampai tujuan, ibu yang menolak anaknya menyontek tetapi malah dikucilkan, kakek nenek yang dikira dukun santet, seorang lelaki India yang menolak satu apartemen dengan bangsanya sendiri karena dia paham betul kebiasan buruk bangsanya yang bisa jadi tidak menyenangkan orang lain, mengapa orang yang tinggal di sekitar perbatasan Malaysia lebih memilih ingin menjadi warga negara Malaysia dan wawancara dengan followersnya yang berprofesi sebagai ATC atau pengatur lalu lintas udara. Saya suka pemikiran penulis dan benar juga apa yang dikatanya di buku ini.

Di masa sekarang, banyak remaja yang menyepelekan orang tua bahkan memaki mereka di media sosial, kisah si sopir taksi menjadi bukti kalau masih ada orang yang benar-benar tulus, mau melakukan apa saja untuk anaknya, jadi jangan semena-mena dengan orang tua kita. Pentingnya menanamkan kejujuran sejak dini, jangan hanya melihat dari tampaknya saja tetapi seharusnya kita menyelidiki kebenaran yang terjadi, belajar berpikir kritis tentang segala hal, mencoba membuat orang lain nyaman berada di sekitar kita, dan semua profesi itu unik, ada suka dukanya sendiri. Mungkin itulah yang ingin Om Piring bagi untuk pembacanya.

Bagian tentang pencarian diri, ini nih pemikiran Om Piring yang tidak penting tapi menarik dan seusai membacanya kita akan berkata, "bener juga ya." Misalnya saja dia tidak setuju mengkategorikan orang menurut astrologi, kamu orang sagitarius berarti kamu orang yang...... Kita tidak akan tahu seseorang dengan hanya melihat dari zodiaknya saja, tapi kita perlu mengenalnya, mempelajari sifatnya bukannya langsung menyimpulkan, dan saya setujusekali. Untuk bagian yang di bioskop itu, hehehe, kadang saya juga cerewet sendiri sih, khususnya film adaptasi dari buku :p. Tentang hidup itu memang pilih kasih, hidup memang tidak adil lewat contoh tikus yang sering dipelihara para ilmuan dan hamster yang dipelihara cewek imut. Yang lucu lagi tentang ketenaran rainbow cake yang sekarang udah ditrasnformasi ke berbagai macam makanan dan membuat Om Piring gerah, saya pun tidak mau kalo mesti makan rainbow nasi uduk, hueks.

Beberapa pemikiran lain dari Om Piring yang saya angguk-angguin adalah sebagai berikut:

    Beberapa artikel dan tulisan di buku yang gue baca memberikan pencerahan baru. Agar kita bahagia, tidak perlu memiliki pekerjaan yang perfect pas dengan minat dan bakat kita. Idealnya memang begitu. tetapi kalo tidak ketemu, ya tidak apa-apa, kita masih bisa merasa berguna dan mendapat kepuasan batin. Caranya? "Ekstrakulikuler". Carilah aktivitas di luar pekerjaan yang kita sukai. Gue kenal seseorang yang pekerjaanya (bagi dia) membosankan dan tidak fulfilling, tetapi di luar jam kantor, dia adalah pemain band yang aktif tampil. dan disitulah dia mendapatkan kepuasan dan makna hidup.

Ini benersekali,  kadang saya beranggapan kalau kerja di dunia bukulah passion saya yang sebenarnya tapi kenyataan berkata lain, saya kuliah di jurusan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia buku, entah itu pustakawan, editor, penulis, dsb. Tapi saya masih bisa mencintai dunia buku, masih bisa merasakan apa yang sebenarnya saya suka dengan menjadi pengulas, bergabung dengan komunitas buku dan nyatanya bisa balance juga.

    Dengan kata lain, "Be SOMEDAY first, and THEN people will listen to you" (ini quote asli gue, makanya gak keren. Coba kalo gue bilang yang ngomong ini Barack Obama atau Olga Syahputra, pasti kalian kejang-kejang mulut berbusa, iya kan?)
    Yang artinya, kita mesti membuktikan dulu diri kita dengan tindakan nyata, sebelum berharap omongan kita dipuja-puja dan di-live tweet! :)



Ah, bagus kok Om quotenya, mungkin Om Piring adalah the next Mario Teguh =))

Bagi yang jomblo, galau atau merasakan apa yang disurvei Om Piring ini benar adanya mungkin kamu akan sangat menyukai buku ini, dan pengalaman atau pemikiran dia tentang berbagai hal disekitar atau yang pernah dia alami menarik untuk dipikirkan juga. Overall saya cukup menikmati buku ini, ada pesan yang bisa saya tangkap dan saya suka. Layoutnya juga menarik, warna warni, hanya saja saya lebih suka kalau satu bab satu warna :)

Recommended untuk semua kalangan, khususnya kaum jomblo :p

3 sayap untuk cerita tentang ATC, kerensekali profesi itu.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done