February 2015 - Hadi Ku
News Update
Loading...

Monday, 16 February 2015

Review Antologi Babu Backpacker

Backpacker (n) kegiatan melakukan sebuah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang dengan membuat beberapa rincian mengenai dana, tempat tujuan dan segalanya secara sistematis. 

Desi - salah satu tokoh yang ada  dalam buku ini melakukan backpacking bersama rekannnya yang bernama Febri selama sepuluh hari, dengan rute: dari Malaysia, Hanoi, Halong Bay, Ho Chi Minth City, Phnom Penh, Siem Reap, Bangkok, Phuker, Phuket, dan berakhir di Jakarta.

Selama sepuluh hari tersebut, tokoh Desi diceritakan mengalami beberapa kesan enak dan tidak enaknya dalam melakukan backpack, seperti kesulitan dalam mencari makanan halal, karena agama Islam termasuk minoritas di negara yang mereka kunjungi. Selain itu dalam sebuah kasus mereka berdua juga mengalami ketakutan-ketakutan lain, diantaranya takut kalau tas punggung mereka tiba-tiba dicolong orang, hingga mereka memutuskan untuk mengikatnya dengan tangan mereka, ketika mereka terpaksa tidur di tempat umum. Juga perlakuan tidak baik dari seorang pria mabuk yang mereka temui di suatu negara, pria mabuk itu ngajakim having sex, serta kesulitan dalam berkomunikasi karena tak semua penduduk yang negaranya mereka singgahi tidak semuanya mampu berbahasa Inggris. Namun dibalik itu semua mereka juga mengalami kemudahan, seperti mendapatkan penginapan yang murah, juga tour guide yang sangat bertanggung jawab.

Babu Backpacker adalah sebuah buku antologi yang dibuat oleh Aisy Lastatie dan kawan-kawan.  Buku ini ditulis oleh para TKI yang bekerja di Malaysia. Ada empat belas penulis yang berkontribusi untuk buku ini, termasuk Aisy Lastatie, dengan yang menceritakan tentang pengalamannya dalam melakukan backpacking. 
Kerangka berpikir dalam buku ini emang Backpacker. 
Babu Backpacker

Antologi Karya TKI Malaysia
Judul: Babu Backpacker
Penulis: Aisy Laztatie, dkk
Penyunting dan Editor: Pipiet Senja
Cetakan I: Februari 2015
Penerbit: Yayasan Bunda Hadijah
Halaman: 242 

*** 

Yang menarik dari buku ini, bukan hanya menceritakan kisah-kisah Backpacking saja. Melainkan juga memberikan tips yang mungkin bisa berguna untuk para calong backpacker. Seperti yang tercantum di halaman 146, tips wisata Karimun Jawa. Serta tips yang perlu diketahui dan yang tidak boleh dilakukan yang tertulis di halaman berikutnya.

Dari smeua cerita yang disuguhkan, gue paling suka sama tulisan yang dibikin oleh Aisy Laztatie seperti yang udah gue beberin di awal, tokohnya Desi dan Febri. Gue nggak ngerti ini buku genre apa. Kayaknya target pembaca bisa segala umur, karena backpacker sendiri  bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun jika iya, menurut gue cover buku ini kurang kece untuk menggaet target pembaca remaja, walaupun sekilas cover buku ini sudah sangat mewakili tentang isi buku.

Judul buku Babu Backpacker diambil dari satu kalimat yang ada di dialog, seseorang meledek sang tokoh dengan kalimat Babu Backpacker, menyangkut profesi tokoh yang merupakan Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. 

Gue nggak tahu ini buku harganya berapa. Karena gue dikasih sih. Tapi kayaknya nggak terlalu mahal. Ini buku rekomended. Cocok menemani lo yang punya banyak waktu luang, daripada boring, mending baca buku. Ya kali lo juga pengen backpack ke suatu tempat, bisa belajar dari buku ini. 

Tiga  koma lima dari lima bintang, gue bulatkan ke bawah deh. Mudah-mudahan nggak terlalu buruk. 


Tuesday, 10 February 2015

Review Novel Komedi: 3 Koplak Mengejar Cinta

Review Novel Komedi: 3 Koplak Mengejar Cinta

3 Koplak Mengejar Cinta
Ada tiga tokoh, Ardhan, Pasai dan Ibam. Diceritakan dengan sudut pandang orang ke satu, dalam hal ini adalah Ardhan, namun kayaknya tokoh yang lebih sering diceritain malah Ibam. Mereka punya geng koplak bersama Pasai yang naksir cewek yang sama. Mengejar cinta di sini ternyata ngejar cintanya guru agama biar naik kelas. Jadi mereka harus bikin diary. Serunya waktu Ardhan kehilangan bukunya, lalu dia harus berpetualang naik kereta api, sampai dapat konflik baru karena harus nolongin kakek yang kejambretan. Drama persahabatannya gak terlalu banyak tapi sempat membuatku tercenung. Aduh, soswit gimana lah gitu. 

Koplak, ya namanya koplak otomatis konyol. Ada kekonyolan waktu mereka harus bolos demi nonton film. Tapi keabisan gegara tiketnya diborong orang dan mereka mesti nonton film yang tayang jam dua. Jadi ngapain mereka bolos kalau sepulang sekolah masih bisa nonton? Nah, itulah koplaknya mereka. 

Ah tapi penulisnya juga koplak sih menurut gue. Gak mungkin penulisnya pendiem. Paling juga koplak. Kayak misalnya dia nyeritain tentang tulisan kuis bertirai, katanya deal or no deal. Itu sengaja dibikin biar koplak kan? Harusnya kuis yang buka tirai itu namanya kuis Family Seratus. Alach, makin ngaco lagi.

Sayangnya di ujung penulis bikin keterangan kalau si tokoh ada yang pake kacamata. Padahal sebelumnya kayaknya sih gak ada embel-embel yang bilang kalau tokoh itu pake kacamata. Semoga bukan karena gue yang kurang teliti sih.  Eh ternyata ada di perkenalan. Berarti emang gue nggak teliti.

Terus terang, waktu baca buku ini sebenernya gue terfokus buat nyari di mana letak sisi islaminya. Ada niatan pengen nulis islami tapi keislaman gue beneran dipertanyakan. Malah waktu gue update umpan di BBM juga sempat diketawain An Hasibuan.

Seperti buku-buku sebelumnya, Haris di sini juga nulis lucu. Baca tulisan lucu dia? Udah biasa gue mah. Kadang waktu chat juga udah lucu. Jadi kalau kata Bibi ini cowok orangnya pendiem kayaknya gak deh bi. Wong koplak begini. Masa di WA dia ngaku biseksual gegara terinspirasi dari Raditya Dika. Koplak kan? Jadi pas baca buku ini cukup nyengir aja gue. Kadang juga mikir sebentar, terus ngomong, ooh. Eh kadang pas gak fokus tiba-tiba nemuin yang lucu. Terpaksa ketawa. Celingukan dulu kiri kanan, ada yang curiga gue sakit jiwa atau gak. Baru akhirnya gue paham, ada nilai-nilai kebaikan dalam tiap bab walau samar-samar, dan tentu saja nilai keagaamaannya jelas ada. Karena di buku ini ada tokoh yang jadi guru Agamanya. 

Nama guru-gurunya unik-unik. Ada ibu Kabisat, ada Ibu Prasasti, kok pak Hadi gak ada yah, padahal kata bapak gue nama Hadi ini bagus banget. Dah lah gue mah apa atuh. #ngakak  

Jadi buat yang pengen bacaan, tapi bingung mau baca apa. Mending beli ini. Serius!

Btw, tadi waktu online FB kata  Editornya bakalan ada sikuelnya. gue ditanya mau nyumbang ide gak. Jelas gue mau dong. Ide gue  begini: 3 tokoh itu ikutan lomba dai di tivi dan terkenal. 

Monday, 2 February 2015

Review Buku: 3 Koplak Mengejar Cinta

Review Buku: 3 Koplak Mengejar Cinta

Ada tiga tokoh, Ardhan, Pasai dan Ibam. Diceritakan dengan sudut pandang orang ke satu, dalam hal ini adalah Ardhan, namun kayaknya tokoh yang lebih sering diceritain malah Ibam. Mereka punya geng koplak bersama Pasai yang naksir cewek yang sama. Mengejar cinta di sini ternyata ngejar cintanya guru agama biar naik kelas. Jadi mereka harus bikin diary. Serunya waktu Ardhan kehilangan bukunya, lalu dia harus berpetualang naik kereta api, sampai dapat konflik baru karena harus nolongin kakek yang kejambretan. Drama persahabatannya gak terlalu banyak tapi sempat membuatku tercenung. Aduh, soswit gimana lah gitu.

Koplak, ya namanya koplak otomatis konyol. Ada kekonyolan waktu mereka harus bolos demi nonton film. Tapi keabisan gegara tiketnya diborong orang dan mereka mesti nonton film yang tayang jam dua. Jadi ngapain mereka bolos kalau sepulang sekolah masih bisa nonton? Nah, itulah koplaknya mereka.

Ah tapi penulisnya juga koplak sih menurut saya. Gak mungkin penulisnya pendiem. Paling juga koplak. Kayak misalnya dia nyeritain tentang tulisan kuis bertirai, katanya deal or no deal. Itu sengaja dibikin biar koplak kan? Harusnya kuis yang buka tirai itu namanya kuis Family Seratus. Alach, makin ngaco lagi.

Sayangnya di ujung penulis bikin keterangan kalau si tokoh ada yang pake kacamata. Padahal sebelumnya kayaknya sih gak ada embel-embel yang bilang kalau tokoh itu pake kacamata. Semoga bukan karena saya yang kurang teliti sih.  Eh ternyata ada di perkenalan. Berarti emang saya nggak teliti.

Terus terang, waktu baca buku ini sebenernya saya terfokus buat nyari di mana letak sisi islaminya. Ada niatan pengen nulis islami tapi keislaman saya beneran dipertanyakan. Malah waktu saya update umpan di BBM juga sempat diketawain An Hasibuan.

Seperti buku-buku sebelumnya, Haris di sini juga nulis lucu. Baca tulisan lucu dia? Udah biasa saya mah. Kadang waktu chat juga udah lucu. Jadi kalau kata Bibi ini cowok orangnya pendiem kayaknya gak deh bi. Wong koplak begini. Masa di WA dia ngaku biseksual gegara terinspirasi dari Raditya Dika. Koplak kan? Jadi pas baca buku ini cukup nyengir aja saya. Kadang juga mikir sebentar, terus ngomong, ooh. Eh kadang pas gak fokus tiba-tiba nemuin yang lucu. Terpaksa ketawa. Celingukan dulu kiri kanan, ada yang curiga saya sakit jiwa atau gak. Baru akhirnya saya paham, ada nilai-nilai kebaikan dalam tiap bab walau samar-samar, dan tentu saja nilai keagaamaannya jelas ada. Karena di buku ini ada tokoh yang jadi guru Agamanya.

Nama guru-gurunya unik-unik. Ada ibu Kabisat, ada Ibu Prasasti, kok pak Hadi gak ada yah, padahal kata bapak saya nama Hadi ini bagus banget. Dah lah saya mah apa atuh. #ngakak 

Jadi buat yang pengen bacaan, tapi bingung mau baca apa. Mending beli ini. Serius!

Btw, tadi waktu online FB kata  Editornya bakalan ada sikuelnya. saya ditanya mau nyumbang ide gak. Jelas saya mau dong. Ide saya  begini: 3 tokoh itu ikutan lomba dai di tivi dan terkenal. 

3 Koplak Mengejar Cinta

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done