Review Film Milea – Suara dari Dilan

Diposting pada

Postingan kali ini adalah review dari film Milea (Suara dari Dilan). Kalau kamu sudah mengikuti cerita Dilan 1990 dan 1991, maka film Milea ini adalah cerita yang sama hanya saja bercerita mengenai banyak kejadian yang diceritakan oleh Dilan. Jadi kebalikan dari kisah sebelumnya meski pun ceritanya sama.

DAN INI YANG KITA BAHAS SEKARANG

Jalan Cerita

Kalau disimpulkan sebenarnya gini, film pertama dan kedua judulnya sama, hanya berbeda angka 1 di belakang. Sementara di film ketiga ini hanya mengubah sudut pandang saja. Sebelumnya dari sudut pandang Milea, menjadi sudut pandang Dilan.

Review film milea

Jadi film ini masih berupa tumpukan kenangan pacaran antara Dilan dan Milea semasa SMA. Sederhana sih sebenarnya. Kaum emak-emak, pasti ngatain film ini nggak mutu dan nggak penting – terus berdoa semoga anaknya jangan baca buku atau nonton film ini. Sedangkan kaum muda, menganggap ini sebagai kisah yang inspiratif dan keren – lalu nyebut dalam hati semoga dia bisa dapat pasangan seperti Dilan/Milea juga.

Kenapa bisa beda pendapat? Makanya harus baca dulu buku 1 dan 2. Atau nonton filmnya.

Saya tidak menonton yang film kedua, yang Dilan 1991. Tapi ketika saya nonton Milea suara dari Dilan ini, saya kebawa flash back jauh sebelum Dilan jadian sama Milea di Dilan 1990. Karena diputar lagi adegan ketika di Bandung, pada tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea memproklamirkan isi hatinya dengan penuh perasaan, dan menyatakan telah resmi berpacaran. Lalu tanda tangan di atas materai 500. Adegan temannya Dilan mati yang diduga karena geng motor, hingga adegan Milea nampar Dilan sambil bilang putus juga ada.

Quote

Quote pada Dilan 1990 dan 1991 juga beberapa masih diputar ulang, dan ini makin mewujudkan kesan kocak karena membawa kenangan di film pertama.

Seperti kalimat “Jangan rindu, berat, biar aku saja!” atau “Cemburu itu hanya dimiliki oleh orang yang sedang putus asa. Aku sekarang sedang putus asa.” Juga quote di film Dilan 1991 “Senakal-nakalnya anak geng motor, mereka juga tetap sholat pada waktu praktek ujian agama.”

Intinya gini, di Film Milea ini Dilan memulai ceritanya dengan latar belakang keluarganya. Dia bercerita tentang bundanya yang biasa dia panggil Bundahara kalau dia sedang butuh uang, dan mengubahnya jadi Sari Bunda waktu lapar.

Ada juga cerita tentang Ayahnya yang seorang tentara AD, hingga masa kecilnya yang bandel. Dan hal-hal lain yang mungkin luput dari cerita Milea dalam film sebelumnya. Tapi kalau dipikir ya masuk akal juga sih, mana mungkin kan Milea tahu kalau Dilan itu menenggak air putih yang diberi doa Al Fatihah dari bundanya dulu sebelum mendekati Milea. Btw, adegan yang ini lucu.

Setting film ini adalah anak remaja yang ada di Bandung pada tahun 1990, mungkin beda dengan sekarang, tapi karakter Dilan di film ini jadi unik untuk ditayangin sekarang. Apakah semua remaja tahun segitu sama kayak Dilan ini?

Review Jujur

Karakter Dilan yang kuat menjadi nilai plus dari film ini, sosok remaja yang kreatif, imajinatif, sableng, kocak, polos, aneh, tapi mudah untuk dicintai. Terus dia konsisten, ketika dia bilang “Kalau ada yang menyakitimu orang itu akan hilang”. Dan ketika dia merasa Milea tersakiti olehnya maka dia pun hilang. Padahal mah sebenarnya ngarep.

Dramanya dapet waktu Dilan cemburu buta pas abis putus, Milea dikayakan pembantunya pergi sama cowok naok motor waktu Dilan menelpon. Dilan kecewa lalu mengutus temannya buat bilang ke Milea kalau dia udah punya pacar baru.

Selain itu ada juga beberapa adegan Dilan yang harus menggunakan bahasa Sunda. Di situ dia kayaknya agak kagok, karena memang bukan bahasanya Iqbaal sih, jadi bisa dimaklumi.

Secara keseluruhan saya merasa terhibur dengan menonton film Milea Suara dari Dilan ini. Adegan yang paling menyentuh adalah ketika Ayahnya meninggal di pangkuannya. Saya nangis, keingat bapak saya. Juga pas Dilan ditanyai mau hadiah apa, Dilan jawab kalau dia minta bundanya bahagia. Terus tiba-tiba kepikiran ibu saya aja, apa ibu saya bahagia?

Kesimpulan

Menonton film ini jadinya komplit, ada ketawanya, ada sedihnya, ada serunya, ada pelajarannya, tapi ada juga yang bikin saya jadi kurang bersimpati sama Milea, yaitu ketika Milea dan Dilan ketemu lagi setelah beberapa tahun kemudian, si Milea diceritakan sudah bertunangan, tapi menghubungi Dilan duluan, kesannya kayak gagal move on banget.

Terus ada juga puisi buatan Dilan yang lucu. Kalau gak salah judulnya Aku masih bayi.

Sebenarnya aku ingin menemui Milea saat itu.
Tapi aku tidak bisa, karena aku juga masih bayi saat Miea bayi

Kalau tidak salah ingat sih puisinya cuma dua baris gitu aja. Tapi bikin semua penontonnya nyengir.

 230 total views,  2 views today

Gambar Gravatar
Hadi Kurniawan adalah nama lengkap dari pemilik blog ini. Berprofesi sebagai guru di Kab. Musi Rawas Utara. Seorang penyendiri yang tak lagi sendiri. Dapat dihubungi di hadisujatman@gmail.com

2 thoughts on “Review Film Milea – Suara dari Dilan

  1. Aku nonton nih yang Dilan 1990 dan Dilan 1991, tapi di TV, jadi feel nontonnya agak kurang dapat karena di TV kebanyakan iklannya.

    Tapi baca review ini jadi kebayang beberapa adegan. Dan malah baru eungeuh kalau ternyata Ayah nya Dilan pada akhirnya nggak ada. Kirain tugas keluar kota lama lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *