Pengalaman Turun 11 Kg dalam Setahun

Setahun terakhir ini aku sedang sibuk ngurusin badan. Udah gak tau lagi lah mau ngomong apa. Badan udah gak enak dipandang, udah kayak buntal. Gara-garanya niat tercetus itu ketika istri hamil berapa bulan gitu lupa tepatnya berapa, kita sama-sama jadi rajin nimbang badan, sekalian mantu bagaimana perkembangan janin, katanya kalau emaknya naik bobotnya itu bagus.

Lah, kalau bapaknya yang nambah bagaimana cerita ya kan?

hunger 413685 640
Image by Ryan McGuire from Pixabay

Alhasil terjadilah susul menyusul naiknya tubuh. Istri 47 kg, nah aku 74 kg. Terkesan kontras banget bukan? Dari sini masih santai. Gak ada perubahan yang berarti. Istri gawenya ngemil mulu, ikutan. Semenjak hamil memang di rumah ini kagak pernah berhenti ada makanan, pokoknya saban hari adaaaa aja makanan, dari yang beli di homemade gitu, sampai yang beli eceran di indomaret, oh ya bahkan ada yang sampe beli kiloan di shopee.

Gara-gara kebiasaan buruk itu, badan kita naik nih. Sampai akhirnya tercetuslah kalimat, “Aku gak bakal diet kalau gak belum 80 kg.”

Tiap hari nimbang, belum sampai 80 kg masih santai sekali. Makan cemal cemil santai. Mi apa aja lahap sampai puas dah. Sampai suatu ketika, pada suatu hari, timbangan sampai juga di angka 80 kg. Pak, pengin nangis rasanya pak. Kejadian juga dah sampai di angka segitu. Pipi udah kayak buntal beneran. Nah dari situ akhirnya aku mencoba diet.

Apakah langsung berhasil?

Oh tentu saja tidak. Ternyata membuat tubuh kurus tidak semudah itu. Pokoknya sejak sudah niat banget untuk melaksanakan diet, aku jadi rajin mencatat berat di twitter. Tapi tidak berlangsung lama, karena ternyata capek juga, aku kurang telaten untuk melakukan hal yang serutin itu.

Diet di tengah masa pandemi yang harus membiasakan diri dengan hal baru itu bukan perkara yang mudah. Ketika aku dituntut untuk di rumah aja, sedang makanan saban hari tidak pernah lepas di depan mata, namun harapan mau kurus masih ada.

Membaca sana-sini, dan menonton banyak chanel di youtube, akhirnya ketemu yang namanya water fasting. Diet ini aku sangat tidak menganjurkan. Karena terus terang rasanya mau meninggal. Badan terasa aneh. Sehat sih, tapi rasanya tidak bugar. Ampun banget.

Water fasting itu intinya dilakukan oleh seseorang yang menginginkan turunnya berat badan tubuh dengan cara cepat. Kenapa cepat? Karena tidak makan sama sekali selama 72 jam.

Puji syukur ternyata aku bisa melaluinya, meski rasanya terseok-seok, lemas sekali, tak ada kalori yang masuk blas selama 3 hari itu sangat menyiksa, mengingat selama ini aku makan bisa 3000 kkal. Ini beneran 0 kkal selama 72 jam, dan hanya boleh minum air.

Untungnya berhasil turun sih. Alhamdulillah, 5 kg terbuang begitu saja, meski 2 hari kemudian akunya sakit. Bego emang, terlalu memaksakan tubuh gitu. Tapi aku sebetulnya gak begitu paham, sakitnya gara-gara diet itu atau emang ketularan orang di kantor yang memang banyak yang sakit.

Pada waktu itu angka covid dan angka kematian memang sedang banyak-banyaknya. Setelah kejadian 3 hari gak makan sama sekali itu, dampaknya di tubuhku setelahnya jadi beneran enak, rasanya enteng, gak suka makan pedes, dan gak bisa makan banyak. Sebetulnya aku tidak akan merekomendasikan ini untuk siapapun, tapi jujur aku pengin mencobanya sekali lagi. Mengingat dampaknya enak banget di badan pada waktu itu. Tapi sekali lagi kalau ingat perjuangan tidak makan sama sekali itu bikin males banget.

Akhirnya aku maintance di berat badan yang setelah turun itu selama beberapa pekan. Berharap masih bisa turun lagi, meski kenyataannya kagak, minimal gak naik lagi itu aja cukup.

Terus gak lama setelah itu aku ketemu pola diet yang enak, santai banget. Aku pasang aplikasinya, di sana kita bisa input semua makanan yang kita makan sehari-hari dalam satu aplikasi, dan aplikasi akan langsung mengakumulasikan apakah total kkal yang kita makan sudah sesuai dengan angka kecukupan gizi, kurang, atau lebih.

Jika cukup, berat badan kita akan tetap. Kalau kurang, ini yang bikin tubuh jadi turun berat badannya. Nah, dari kegiatan yang kulakukan berulang-ulang ini, aku putuskan untuk mengkonsumsi makanan di bawah angka kebutuhan gizi, dan ditunjang dengan pola tidur yang cukup, minum air putih yang cukup, dan olahraga tipis-tipis.

Sebulan kemudian, aku gak nyangka, meski aku sangat santai melakukannya, aku ternyata bisa turun 5 kg lagi. Ternyata kunci utama diet yang sukses itu ada empat: defisit kalori, minum air putih yang banyak, olahraga dan tidur yang cukup.

Aku bersyukur sekali sekarang bisa keluar dari angka 80 kg ke 69 kg. Aku sadar kalau rasa puas yang terlalu cepat itu tidak baik, tapi kejadian ini aku rasa patut untuk aku syukuri. Meski targetku masih mau menurunkan maksimal 9 kg lagi. Semoga aku bisa melakukannya lagi.

Oh iya, sebetulnya untuk mempercepat penurunan berat badan kita juga bisa menunjangnya dengan minuman diet. Karena menurut para ahli:

Saat mengatur pola makan agar sistem imun terjaga, penting untuk mengenali status gizi kita misalnya dengan mengukur indeks massa tubuh. Dengan mengetahui status gizi, maka kita dapat mengetahui apa yang harus dikonsumsi dan apa yang harus dihindari. Dalam memenuhi kebutuhan gizi, perlu mendapatkan nutrisi yang adekuat. Maksudnya adalah terpenuhinya makronutrien dan mikronutrien yang diperlukan sel untuk dapat berfungsi normal. Makronutrien terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak, sedangkan mikronutrien terdiri dari vitamin dan mineral. Vitamin dan mineral banyak didapatkan pada sayur dan buah sehingga kedua makanan ini tidak boleh terlewatkan dan harus ada setiap kali kita makan. Selain itu, konsumsi serat juga penting untuk memelihara kesehatan pencernaan yang terkait juga dengan imunitas tubuh. Pencernaan adalah rumah dari Sebagian besar (70-80%) sel imun, jadi dengan menjaga kesehatan pencernaan, imun tubuh juga dapat optimal.

 373 total views,  3 views today