Isnanto Fitriansyah: 4 dari 5 Buat Novel Long Distance Relationsick

LDR – Sick on everywhere-where
Oke, kenalin: gue Isnanto. Salah satu cowok terbaik di Lubuklinggau yang mempunyai tingkat ketidak-peka-an yang sangat tinggi. Kali ini gue bakal cerita mengenai pengalaman paling berharga dalam hubungan sosial antar sesama manusia, tapi kali ini hubungannya lebih ke masalah hati.  Special One. Who’s that? Beberapa tahun silam, doi-lah yang ngebuat gue ngerasa betah dalam pelajaran Fisika. Sesulit apapun pelajaran itu, ketika sang guru ngasih soal, si doi malah ngejawab soal itu di papan kelas. Super. Kami sekelas merasa lega seketika. Karena kalo sampe nggak ada satu orang pun yang bisa ngerjain, bisa tamat riwayat kami. Itu soal bakal dijadiin PR, bahkan soal pun di perbanyak jumlahnya. Wedan kan?  Kemana lagi kami harus mencari wangsit buat ngejawab soal Fisika itu, satu soal aja nggak kejawab, apalagi ini? Tapi untung aja, ada si doi yang yang baik hati ngasih contekan ke kami, orang sekelas. Doi ngasih contekan, tapi gue malah ngasih hati ke doi. Doi pun nerima. Dan terjadilah serah terima hati. Kelelep Hari berlalu, kian berlalu. Hingga pada akhirnya keadaan yang mengharuskan kita untuk LDR. Do you know? It is Long Distance Relation. Sebuah hubungan jarak jauh. Butuh kepercayaan tingkat internasional buat ngejalanin hubungan jarak jauh ini.  Eits, sampe disitu aja ya gue cerita. Ini udah pindah lapak soalnya. Kali ini gue bakal ngajak lo untuk fokus di novel perdananya Kak Hadi. Nggak fokus-fokus amat sih, karena gue bakal bahasnya secara singkat.  Nama lengkap penulis novel ini adalah Hadi Kurniawan. Seumur hidup gue, udah berapa banyak ya gue nemuin orang yang nama belakangnya itu Kurniawan. Banyak deh. Temen se-prodi aja udah dua orang, yang satu cowok namanya Kurniawan dan yang cewek tinggal ditambah wati, jadilah Kurniawati. Namanya kurnia ya, gue yakin orang tuanya mengharapkan pemberian (kurnia) yang baik buat kehidupan anaknya kelak. Aamiin.

foto diambil dari twitternya @annisawl26 

Nama novelnya LDR, di tambah akhiran sick. Jadilah ‪#‎LongDistanceRelationSick‬. Novel ini berkisah antar sepasang anak muda, sang cowok bernama Minggu dan si cewek bernama Ciska. Nah, keadaannya mereka baru lulus SMA (sepertinya, karena di novel nggak di gubris mengenai kehidupan selama Sekolah Menengah Atas)* akan melanjutkan pendidikan perguruan tinggi. Si Ciska keterima di Palembang, dan si Minggu keterima di Bandung, lebih tepatnya orang tua Minggu dipindah tugaskan ke Bandung jadi Minggu mau nggak mau harus ikut. Si Ciska keterima di jurusan Fisika (Gila, FISIKA? Gue ngebatin. Kok ceritanya sama percis kayak gue? Alamak. Skip)*. Dan si Minggu nggak tau dia masuk jurusan apa. Apakah masuk ke got? Oh tentu tidak, soalnya di got lagi ada syuting LARVA, yang nantinya bakal ditayangin di stasiun tv Indonesia yang ber-tagline oke itu, entah tahun berapa. Suatu ketika Minggu minta dicium oleh Ciska. Ciska spontan menolak. Beberapa saat kemudian Minggu ngajakin Ciska buat LDR-an. Ciska langsung pergi. Butuh perjuangan bagi Minggu memberikan alasan yang jelas kepada Ciska mengenai keputusannya untuk menjalani LDR. Minggu harus berguru ke Ages terlebih dahulu buat ngasih alasan itu. Si Ages ini, Gaes, — dia adalah temennya Ciska. Bisa dibilang Ages ini punya peranan penting bagi hubungan Minggu dan Ciska. Dan terjadilah LDR di antara mereka.  Hari demi hari mereka lewati, tanpa disadari masing – masing dari mereka mempunyai kenyamanan baru, dimana kenyamanan ini mempunyai setingkat lebih tinggi dari rasa kenyamanan sebelumnya. Ya, inilah lika liku dalam menjalani LDR. Banyak godaannya, gaes! Yakin deh. Pada akhirnya, 9 dari 10 orang memilih untuk putus ketimbang untuk terus menjalani LDR. (Itu survei dari mana ya?)*. Novel ini bergenre komedi cinta-cintaan. Satu hal yang ngebuat gue langsung ketawa ketika baru membaca novel ini. Ya itu tadi, ceritanya hampir menyerupai pengalaman gue dengan doi waktu itu. Ini kalo di sinetron, pas mau baru mulai, pasti ada tulisan kayak gini: Ini adalah cerita fiktif belaka. Bila ada kesamaan cerita, tokoh maupun keadaan, kami mohon maaf”. Tapi sayangnya, di novel ini nggak ada tulisan itu. Yang ada cuma; ‘penulis ngasih ucapan spesial buat kamu. Iya kamu.’ (Sambil nunjukin ke kamu)*. Iya, Kamu. Menurut gue, ini novel pantesnya dibaca untuk remaja tengah s.d. remaja akhir; eh yang udah dewasa juga nggak apa-apa kok. Dikarenakan di novel ini lo bakal nemuin kata cium, mimpi basah hingga bo**p. Mungkin sang penulis lagi memikirkan hal itu pada saat menulis novel ini kali, ya? Oh iya, gue juga nggak nemuin alasan yang pas, baru di halaman 8, Minggu dan Ciska tiba-tiba ngomong pakai ‘aku-kamu’, padahal narasi penulis pakai sapaan ‘lo-gue’, gitu. (Kalian tahu, Gaes? Cara penulisan Hadi Kurniawan ini lah yang menuntun seorang Isnanto menggunakan kata lo-gue dalam penulisan ini. Skip). Nggak cuma ke Ciska aja, tapi Minggu ngomong pakai sapaan ‘aku-kamu’ ke Ifra. Siapakah Ifra itu? Makanya baca ini novel! Nggak butuh waktu banyak buat nuntasin novel ini. Mungkin, lo yang punya hobi baca, sekali duduk langsung abis tuntas. Lumayan menghibur-lah novel ini. Pas buat lo ngabisin waktu di sore hari, sebagai cemilan di akhir pertemuan singkat. Ce’ile. Hahaha. Untuk skor gue kasih 4 dari 5 deh buat novel Long Distance Relationsick. Makanya, buat lo semua yang pengin tahu apa itu LDR, suka dukanya gimana, atau yang udah ngerasain tapi pengin terjebak nostalgia lagi, novel ini pas untuk lo baca.

“Ciska, Sayang. Aku nggak menolak kamu. Dengerin aku. Dengerin isi di hati aku. Aku hanya mengulur waktu aja, Sayang. Karena aku bukan tipe cowok modus yang cuman mau memanfaatkan kamu. Aku tulus… sayang sama kamu.” (Long Distance Relationsick, halaman 64).


You Might Also Like

One Reply to “Isnanto Fitriansyah: 4 dari 5 Buat Novel Long Distance Relationsick”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *