Asal Mula Nama Desa Maur

Seorang Putri yang cantik jelita hidup di daerah Muara Rupit.  Putri ini bermata bulat, pipi yang tirus, tinggi semampai, berkulit putih, dan satu hal yang  menonjol dari Putri ini adalah rambutnya yang berwarna keemasan. Para penduduk biasa memanggilnya dengan nama Salindia.
Keberadaan Putri ini kemudian diketahui oleh Pangeran dari Palembang yang memiliki penyakit kulit menahun dan susah disembuhkan. Dia berniat untuk meminang Putri Salindia itu. Kemudian Pangeran mengatakan keinginan hatinya tersebut kepada Panglima Istana. Panglima langsung terdiam dan susah bicara. 
Setelah ditelusuri, ternyata seorang Putri yang diceritakan oleh Pangeran tersebut adalah adik kandung sang Panglima. Panglima tidak ingin adik kandungnya dipersunting oleh Pangeran yang kurapan. Panglima pun mengutus punggawa kerajaan untuk segera pergi ke kampung, untuk memberitahu Putri Salindia supaya segera pergi sejuah mungkin.
Mendengar itu Salindia bingung. Dia tidak langsung pergi. Dia hanya pergi ke ulu sungai yang berada di dekat rumahnya, untuk merenungi apa yang terjadi. Dalam perenungannya itu Salindia melihat ke sekelilingnya, dan dia jadi merasa sedih. Alangkah gersang tanah kampungnya ini, padahal air melimpah ruah.  Akhirnya Salindia mendapat ide. Lalu tercetuslah suatu sayembara, barangsiapa ada yang bisa membuat kampungnya menjadi lebih hidup, jika perempuan akan dijadikan saudara, jika laki-laki akan dijadikan suaminya.
Rata-rata sayembara ini diikuti oleh para pemuda. Namun bukan keindahan kampung yang dibuat, tapi kegaduhan. Putri Salindia marah. Dia menyibakkan rambut emasnya, dan semua pemuda langsung berlari ke jembatan gantung untuk kabur, satu persatu pemuda itu berjatuhan dan membuat jembatan gantung, jalan penghubung satu-satunya ke kampung Putri Salindia terputus. 
Putri Salindia pun sedih. Sejak kejadian itu, tak ada seorangpun yang datang ke kampungnya karena tak berani mengarungi sungai. 
Akhirnya sayembara ini didengar oleh Pangeran Palembang. Pangeran meminta izin kepada Ibunya. Ibunya tersenyum dan memberikan restu, seraya menyerahkan beberapa bibit kembang. Pangeran tidak tahu motivasi ibunya apa sehingga memberikan bibit kembang. Tapi sebagai anak yang baik, Pangeran menerima bibit itu dan menyimpannya ke dalam tas yang di dalamnya juga berisi beberapa kudapan.
Lalu Pangeran pun pergi.  Pangeran yang gagah berani meski dengan kurap yang merata di sekujur tubuhnya, namun dia memiliki kesaktian yang hebat. Satu kali mendayung, tujuh tanjung terlampaui. Maka cukup butuh tiga kali dayung saja, Pangeran pun sampai ke Muara Rupit. Tak ada yang dia takuti meski berpergian seorang diri.
Sesampainya di Muara Rupit, Putri Salindia langsung ingat utusan kakandanya dari istana. Maka Salindia langsung mengutarakan sayembaranya, Pangeran diminta menatap ke sekeliling kampung supaya dapat mengerti apa yang diminta sang Putri.
Pangeran segera menyebarkan bibit kembang di seluruh pinggir sungai, dan dengan bantuan yang maha kuasa, bibit itu langsung tumbuh menjadi kembang mawar yang harumnya semerbak. Putri Salindia tersenyum, akhirnya menerima Pangeran mempersuntingnya. 
Namun tidak semudah itu, Panglima datang untuk menentang, dia tidak ingin punya adik ipar yang kurapan meskipun dia Pangeran. Putri Salindia langsung pergi ke ulu sungai, dia menyibakkan rambut emasnya ke sungai tersebut, dan meminta Pangeran untuk mandi. Pangeran pun berubah menjadi tampan rupawan. 
Karena aroma bunga mawar yang wangi, dengan bahasa daerah yang sangat kental, penduduk kemudian menyebutnya dengan desa Maur yang berasal dari kata mawar.
***
Note: cerita pendek Asal Mula Nama Desa Maur ini hanya fiksi belaka. Ditulis dalam rangka workshop penulisan Cerita Rakyat yang diadakan oleh Balai Bahasa Sumsel, di Kab. Musi Rawas Utara.

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *