Salah Entry Saham Bukan Karena Analisa, Tapi Karena Salah Order
Aku mau cerita sedikit dari pengalaman pribadi selama berkutat di dunia saham. Ini bukan cerita soal analisa teknikal yang ribet, bukan juga soal fundamental yang tebalnya kayak skripsi. Justru kesalahan paling sering yang aku lihat, dan juga pernah aku alami sendiri, datang dari hal yang kelihatannya sepele: salah pilih jenis order.
Banyak orang merasa sudah belajar analisa, sudah nonton puluhan video, sudah baca grafik tiap malam, tapi tetap sering nyangkut di harga yang nggak enak. Setelah ditelusuri, masalahnya bukan di analisanya. Masalahnya ada di cara masuknya. Salah order sejak awal.
Di sinilah cerita LIMIT ORDER dan MARKET ORDER selalu jadi topik klasik, tapi entah kenapa masih sering diremehkan.
Kesalahan Entry yang Terasa Sepele
Awal-awal trading, aku juga mengira semua order itu sama. Yang penting beli, yang penting masuk. Soal harga beda dikit, aku pikir nggak akan terlalu berpengaruh. Toh tujuannya cuan, bukan hitung-hitungan receh.
Ternyata beda tipis di order, dampaknya bisa jauh.
Salah entry itu rasanya kayak salah naik angkot. Tujuannya sama, tapi rutenya muter-muter dan ongkosnya lebih mahal. Dan yang bikin nyesek, kita sering baru sadar setelah posisi sudah nyangkut.
Mengenal LIMIT ORDER dari Pengalaman
LIMIT ORDER itu sederhana. Kamu tentuin sendiri harga yang kamu mau. Kalau market menyentuh harga itu, order kamu keisi. Kalau nggak, ya order tetap nangkring manis.
Dari pengalaman, limit order itu bikin pikiran lebih tenang. Aku tahu di harga berapa aku mau beli. Aku nggak kejar-kejaran sama market. Aku cuma bilang, kalau sampai segini, aku masuk. Kalau nggak, ya sudah.
Keunggulannya jelas. Harga lebih terkontrol. Entry terasa rapi. Cocok buat yang nggak suka panik.
Tapi limit order juga ngajarin satu hal penting: sabar. Karena sering kejadian, market keburu naik, order belum keisi, dan kita cuma bisa lihat harga lari sambil bilang, “yah, ketinggalan.”
Dari situ aku belajar, nggak semua peluang harus dikejar. Ada yang memang bukan jatah kita.
MARKET ORDER dan Sensasi Kecepatan
Berbeda dengan limit order, market order itu soal kecepatan. Kamu beli atau jual di harga terbaik yang tersedia saat itu.
Pengalaman pakai market order rasanya kayak lompat ke kereta yang lagi jalan. Deg-degan, tapi masuk.
Market order hampir pasti keisi. Ini enak banget kalau market lagi kencang dan momentum jelas. Aku pernah pakai market order saat breakout, dan itu terasa sangat membantu karena nggak perlu mikir lama.
Tapi di balik kecepatan itu, ada risiko yang sering dilupakan: slippage. Order bisa keisi di harga yang lebih mahal dari yang kita bayangkan.
Kalau likuiditas tipis atau market lagi liar, market order bisa jadi bumerang. Harga yang muncul di layar belum tentu harga yang kamu dapat.
Kesalahan yang Sering Terulang
Dari ngobrol dengan banyak trader, termasuk bercermin dari kesalahan sendiri, ada beberapa kesalahan klasik yang sering kejadian.
Pertama, pakai market order di saham dengan likuiditas tipis. Ini seperti belanja di toko yang stoknya tinggal satu, semua rebutan. Harga bisa loncat tanpa permisi.
Kedua, pakai market order saat market lagi volatile. Niatnya mau cepat, tapi malah keisi di harga yang bikin mikir dua kali.
Kesalahan ini kelihatannya kecil, tapi efeknya langsung ke psikologis. Begitu entry sudah terasa mahal, posisi jadi nggak nyaman dari awal.
Scalping, Swing, dan Pilihan Order
Dari pengalaman, jenis order sebaiknya disesuaikan dengan gaya trading.
Kalau scalping, memang harus paham kapan market order dibutuhkan. Kecepatan sering jadi kunci. Tapi tetap harus sadar risikonya.
Kalau swing, limit order terasa jauh lebih aman. Nggak perlu terburu-buru. Entry di area yang sudah direncanakan jauh lebih menenangkan.
Masalahnya, banyak yang scalping tapi pakai market order tanpa hitung kondisi. Atau swing tapi masih FOMO ngejar harga.
Di sinilah sering terjadi salah entry dari awal.
Salah Order, Salah Cerita
Aku makin sadar, salah order itu bukan cuma soal angka. Itu soal cerita yang kita bangun sejak awal.
Entry yang rapi bikin kita lebih disiplin. Entry yang asal-asalan bikin kita lebih emosional.
Banyak posisi rugi yang sebenarnya masih bisa ditoleransi, tapi karena entry sudah terlanjur nggak nyaman, akhirnya keputusan berikutnya ikut kacau.
Dan semuanya berawal dari satu klik: limit atau market.
Pelajaran yang Paling Nempel
Pelajaran terpenting yang aku dapat, jangan remehkan proses entry. Analisa sehebat apa pun bisa rusak kalau cara masuknya salah.
Limit order ngajarin disiplin dan kesabaran. Market order ngajarin keberanian dan kecepatan. Dua-duanya benar, asal tahu kapan dipakai.
Yang bahaya itu bukan limit atau market. Yang bahaya adalah pakai keduanya tanpa paham konteks.
Penutup
Sekarang, setiap mau entry, aku selalu berhenti sebentar dan tanya ke diri sendiri. Aku lagi butuh rapi atau butuh cepat?
Karena di market, salah order sama saja salah langkah dari awal.
Kalau kamu sendiri, lebih sering pakai yang mana?
LIMIT atau MARKET?



