Menunggu Keajaiban (Repost) - Hadi Ku
News Update
Loading...

Sunday, 6 March 2016

Menunggu Keajaiban (Repost)


Tahun 2010, gue kenal sama kawan di dunia maya, namanya Ricky Mahardika, dia menulis di blognya tentang ini dan itu. Kayaknya emang apapun dia ceritain di situ, termasuk tentang rambutnya yang mulai gondrong malah mirip burung emprit, katanya. 

Dari blognya Ricky juga, gue mulai kenal yang namanya Raditya Dika. Pada saat itu gue malah gak tau siapa sih itu Dika. Akhirnya gue juga jadi kepo akan Dika. Browsing sana sini, dan gue jadi ngerasa seru nih kalau gue bikin beginian juga.  Dan di facebook, gue juga masuk di grup Hirawling Kingdom. Itu grup bikinannya +Haris Firmansyah, katanya itu adalah kumpulan orang-orang yang ngepens sama Andrea Hirata, Raditya Dika, dan JK Rowling. 

Tugas orang di grup itu adalah ngelucu. Sayang mereka nggak banyak yang ngeblog. 
Setelah gue ngerasa kalau gue bisa juga bikin cerita absurd begitu. Akhirnya gue memutuskan untuk bikin blog. Di tahun 2010  itu gue ngeblog, dan gue cuman memosting satu postingan doang. Gue bikin satu buah cerpen yang sangat tidak bagus. Tolong jangan dibaca. 

Sejak gue ngeblog, gue mulai mosting apa aja, karena menurut teman gue jaman ngeblog di awal dulu, tulis aja apa yang ada di kepala lo. Maka pada tahun 2012 gue sudah mulai coba-coba bikin fiksimini. Fiksi yang cuma secuil ini bakalan gue posting ulang. Gue nunggu masukan juga nih dari lo. APa gue cocok bikin tulisan fiksi? Atau gue cocoknya cuman bikin postingan gak jelas aja. Nih, bacalah!

Fiksimini ini gue kasih judul Menunggu Keajaiban. 
Image result for Pocong
Pocong
Tuing, tuing, tuing … “Baaaa!”
“P-p-po-poconggg …!” Seorang manusia berbadan kekar baru saja terbirit-birit saat aku tiba-tiba saja datang di depannya, ketika ia sedang kencing dalam keadaan genting.
“Hahahaha  … kamu iseng banget ya …!” Poory cekikikan. Bersamaan dengan bunyi longlongan anjing yang memilukan.
“Biarin, salah siapa kencing sembarangan!” jawabku sambil cengar-cengir. “Eh kainku basah deh kayaknya, liat nih, yah … basah, deh!”
“Hahahaha … rasakan! Emang enak … makanya lain kali jangan iseng dong!” Poory berlalu.
“Lupain aja, deh!” Kemudian hening. Aku mengikutinya berlompat. "Tahu nggak, hati kamu sudah ter-install di hati aku, dan aku nggak bakal meng-install hati yang  lain di sini.” Aku membungkuk menatap  dadaku, berharap Poory percaya apa yang baru saja aku katakan.
Muach ... satu kecupan mendarat mendadak di pipiku. Itu artinya apa? Entahlah. Yang jelas, aku bahagia.
“Sayang, tungguin dong! Mau kemana sih?”

***
Cinta itu ibarat embun pada rerumputan pagi. Ibarat mentari yang bersinar di sepanjang cakrawala. Seperti halnya manusia, pocong juga memiliki cinta.  Aku mencintai Poory – pocong betina yang bermata kaki.
 “Kamu selingkuh ...! Kamu jahat!” ceracau Poory setelah memergokkiku melompat bersama Kutty – pocong betina yang lain.
“Aku dan dia nggak punya hubungan apa-apa, Sayang!Aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.  Bagiku, Kutty nggak lebih dari sahabat.”
Tapi Poory tidak percaya. “Kamu bohong, kamu bauuuk!” teriaknya histeris. “Kamu kayak kelamin onta!” cacinya dengan nada tinggi. Kutatap wajahnya, air matanya berlinangan hingga membasahi kain antiknya.
Mendengar ucapan yang tidak enak, emosiku memuncak, dan ingin menamparnya mendadak. Kugerakkan bodiku dengan sekuat tenaga. Aku meghampiri  tubuhnya, dan aku tiba-tiba lupa, jika tanganku berada dalam bungkusan kain.
Jlep ...  seketika itu juga aku terjatuh, telungkup, dan mengenaskan.
Poory menertawakanku. Hal itu semakin menambah emosiku. Baginya apa yang baru saja terjadi adalah konyol. Terlebih setelah dia tahu aku terjatuh cuma karena ingin menamparnya. Namun aku luluh setelah dia tersenyum, dan menyungkurkan diri bersamaku. Dia bilang untuk kebersamaan.
Brukkk … tubuh gemuknya menimbulkan suara yang unik.
“Dasar bodoh!” Aku mengejeknya dengan penuh canda.
“Cinta kamu tuh yang membodohkan aku!” tangkasnya centil.
Tawa kami pun meledak.
“Sekarang nasib kita gimana coba?”
“Ya udah, tunggu keajaiban aja lah!”
Ledakan tawa semakin memuncak. Terbahak-bahak, menyamar isak. Cinta ini terarak, dari hati ke hati yang berhak.
***
Lompat ke sana, lompat ke sini. Engkau haruslah tahu betapa senangnya hatiku menikmati hari. Kakiku memang menyatu, siapa bilang melangkah dengan kaki seperti ini tidak seimbang? Lihatlah aku! Aku bisa bergerak bebas kemanapun aku mau. Kekuranganku hanyalah ... tidak akan pernah bisa berdiri sendiri dari posisi telungkup.

 Tulisan asli diposting 15 Sept 2012

Share with your friends

Add your opinion
Disqus comments
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done