March 2016 - Hadi Ku
News Update
Loading...

Saturday, 26 March 2016

Stop Illegal Transportation

Beberapa hari yang lalu sempat heboh berita sopir yang demonstrasi. 

Stop Illegal Transportation
sumber: jpnn.com

Sebenernya saya malas mengulas ini. Tapi setelah gembor sana-sini, di grup whatsapp yang saya ikuti juga kemaren sempat ramai. Kalau menyangkut hal semacam itu saya paling hanya sekadar ngintip. Baca sekilas aja. Udah. Dan saya gagal paham. Emang saya tipe orang yang apatis banget. Indonesia pasti bangga punya generasi penerus kayak saya ini. *nyengir

Yang saya tahu, sehari setelah adanya kerusuhan sopir waktu itu, ada bonus gratis naik Blue Bird. Ini yang bikin saya gregetan. Di Lubuklinggau nggak ada Blue Bird. Andaikan saya di daerah itu, saya pasti bakalan luar biasa senang. Manfaatin fitur gratisan ini buat ke mana-mana. Jalan-jalan.

Monas? Okelah buat jadi tujuan jalan-jalan pertama.

Tapi melenceng jauh dari sana, kemaren itu twitter juga rame dengan hastag #KarenaTwitter. Sebagai orang yang latah saya juga ikutan ngetweet. Kalau tidak salah ingat, saya bikin kalimat seperti ini:

#KarenaTwitter saya jadi difolback artis.
#KarenaTwitter juga saya jadi diblokir artis.

FYI, saya difollow balik sama Dicky Chandra, artis senior. Dan yang ngeblokir saya adalah Fitri Tropica.

Kasus diblokirnya @fitrop sih seingat saya lucu. Waktu itu saya hanya iseng saja, sebagai anak muda yang baru lulus SMA. Nyampah, bisa jadi kalimat yang cocok untuk menyebut ini. Jadi saya mentionan sama teman baru yang waktu itu, asal Lampung, dan satunya dari Purwokerto. Acapkali mentionan, guyon aja sih, nyeletuk gini: awas aja nanti gue laporin @fitrop!

Itu dilakukan berulang kali. Pokoknya tiap mentionan bareng, akun fitrop dibawa-bawa. Ya kali namanya orang ya, kadang ada saatnya sensitive.  Ya namanya mention, kalau disebut otomatis masuk ke tab mention kan. Sampah banget. Mungkin Fitrop waktu itu lagi begitu sensitif, jadi langsung block.

Saya nggak tahu secara langsung sih. Beberapa hari sebelum itu saya belum engeuh. Waktu nonton acara sore sore di tv, ada acara yang dibawain oleh Pandji dan Fitrop, si Pandji bilang kalau Fitrop barusaja memblockir 4 akun followersnya. Saya mantengin tv sambil bengong aja. Terus engeuhnya, hanya gegara temen saya yang asal Lampung waktu itu ngeluh, gegara lo nih gue jadi diblokir @fitrop.

Saya waktu itu malah ngakak. Nulis huruf w dan k panjang. Diikuti teman saya yang asal Purwokerto. Tapi pas saya ngecek juga, saya langsung mengumpat. Bangke! Gue juga kena block.  

Jadi ternyata yang disebut oleh Pandji waktu itu adalah saya. Ini kalau diingat kadang ada ngenes-ngenesnya.

Nah, hastag #KarenaTwitter muncul rupanya karena waktu itu adalah Hari Ulang Tahun Twitter yang ke 10 Tahun. Wah, rupanya sudah menjelang aqil baligh. Saya sendiri punya akun twitter sejak lulus SMA. Itu artiya sudah 6 tahun lamanya, walau followers saya masih segitu-segitu aja.

Di hari yang istimewa itu, twitter membagikan cara melacak tweet pertama yang kita bikin. Jadi, dari ribuat cuitan geje yang pernah kita buat, otomatis ada yang pertama kali dong? Kalau mau ngulikin tweet yang pertama satu per satu pasti bakalan tidak efektif sekali. Makanya twitter ngasih triknya.

Maka bertebaranlah hastag #TweetPertama.





Tweet saya yang pertama sih tetep dengan karakter yang sama. Geje. Saya juga bingung kenapa saya ngetweet begitu pertama kali. Saya ambil kalimat seperti itu dari mana pun saya nggak paham. Bener bener geje.

Iseng saya cobain juga ngecek tweet pertamanya @fitrop. Oh ternyata seperti ini



Kamu sudah tahu belum sih cara ngecek tweet pertama gitu? Coba ke link ini https://discover.twitter.com/first-tweet

Balik ke kasus demonya para Sopir. Saya terakhir kali naik angkot tahun lalu kayaknya. Itu juga sekali doang dalam setahun, gegara motor saya mogok. Lebih banyak naik angkotnya waktu SMA. Jadi udah lama sekali.

Sedangkan untuk fitur ojek online, di daerah saya belum ada sama sekali. Jadi terus terang, saya emang sama sekali belum pernah nyicipinnya. Lagian walaupun ada, saya paling lebih memilih untuk mengendarai motor sendiri ketimbang ngojek. Jadi pengendara ojek online, nah ini satu hal yang mungkin bakal menarik minat saya jika itu ada di sini.

Sekarang kasus demo itu udah adem aja. Ya, semoga setelah kejadian itu nggak bakalan lagi ada sopir yang demo. Itu aja sih.



Sunday, 6 March 2016

Menunggu Keajaiban (Repost)

Menunggu Keajaiban (Repost)


Tahun 2010, gue kenal sama kawan di dunia maya, namanya Ricky Mahardika, dia menulis di blognya tentang ini dan itu. Kayaknya emang apapun dia ceritain di situ, termasuk tentang rambutnya yang mulai gondrong malah mirip burung emprit, katanya. 

Dari blognya Ricky juga, gue mulai kenal yang namanya Raditya Dika. Pada saat itu gue malah gak tau siapa sih itu Dika. Akhirnya gue juga jadi kepo akan Dika. Browsing sana sini, dan gue jadi ngerasa seru nih kalau gue bikin beginian juga.  Dan di facebook, gue juga masuk di grup Hirawling Kingdom. Itu grup bikinannya +Haris Firmansyah, katanya itu adalah kumpulan orang-orang yang ngepens sama Andrea Hirata, Raditya Dika, dan JK Rowling. 

Tugas orang di grup itu adalah ngelucu. Sayang mereka nggak banyak yang ngeblog. 
Setelah gue ngerasa kalau gue bisa juga bikin cerita absurd begitu. Akhirnya gue memutuskan untuk bikin blog. Di tahun 2010  itu gue ngeblog, dan gue cuman memosting satu postingan doang. Gue bikin satu buah cerpen yang sangat tidak bagus. Tolong jangan dibaca. 

Sejak gue ngeblog, gue mulai mosting apa aja, karena menurut teman gue jaman ngeblog di awal dulu, tulis aja apa yang ada di kepala lo. Maka pada tahun 2012 gue sudah mulai coba-coba bikin fiksimini. Fiksi yang cuma secuil ini bakalan gue posting ulang. Gue nunggu masukan juga nih dari lo. APa gue cocok bikin tulisan fiksi? Atau gue cocoknya cuman bikin postingan gak jelas aja. Nih, bacalah!

Fiksimini ini gue kasih judul Menunggu Keajaiban. 
Image result for Pocong
Pocong
Tuing, tuing, tuing … “Baaaa!”
“P-p-po-poconggg …!” Seorang manusia berbadan kekar baru saja terbirit-birit saat aku tiba-tiba saja datang di depannya, ketika ia sedang kencing dalam keadaan genting.
“Hahahaha  … kamu iseng banget ya …!” Poory cekikikan. Bersamaan dengan bunyi longlongan anjing yang memilukan.
“Biarin, salah siapa kencing sembarangan!” jawabku sambil cengar-cengir. “Eh kainku basah deh kayaknya, liat nih, yah … basah, deh!”
“Hahahaha … rasakan! Emang enak … makanya lain kali jangan iseng dong!” Poory berlalu.
“Lupain aja, deh!” Kemudian hening. Aku mengikutinya berlompat. "Tahu nggak, hati kamu sudah ter-install di hati aku, dan aku nggak bakal meng-install hati yang  lain di sini.” Aku membungkuk menatap  dadaku, berharap Poory percaya apa yang baru saja aku katakan.
Muach ... satu kecupan mendarat mendadak di pipiku. Itu artinya apa? Entahlah. Yang jelas, aku bahagia.
“Sayang, tungguin dong! Mau kemana sih?”

***
Cinta itu ibarat embun pada rerumputan pagi. Ibarat mentari yang bersinar di sepanjang cakrawala. Seperti halnya manusia, pocong juga memiliki cinta.  Aku mencintai Poory – pocong betina yang bermata kaki.
 “Kamu selingkuh ...! Kamu jahat!” ceracau Poory setelah memergokkiku melompat bersama Kutty – pocong betina yang lain.
“Aku dan dia nggak punya hubungan apa-apa, Sayang!Aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.  Bagiku, Kutty nggak lebih dari sahabat.”
Tapi Poory tidak percaya. “Kamu bohong, kamu bauuuk!” teriaknya histeris. “Kamu kayak kelamin onta!” cacinya dengan nada tinggi. Kutatap wajahnya, air matanya berlinangan hingga membasahi kain antiknya.
Mendengar ucapan yang tidak enak, emosiku memuncak, dan ingin menamparnya mendadak. Kugerakkan bodiku dengan sekuat tenaga. Aku meghampiri  tubuhnya, dan aku tiba-tiba lupa, jika tanganku berada dalam bungkusan kain.
Jlep ...  seketika itu juga aku terjatuh, telungkup, dan mengenaskan.
Poory menertawakanku. Hal itu semakin menambah emosiku. Baginya apa yang baru saja terjadi adalah konyol. Terlebih setelah dia tahu aku terjatuh cuma karena ingin menamparnya. Namun aku luluh setelah dia tersenyum, dan menyungkurkan diri bersamaku. Dia bilang untuk kebersamaan.
Brukkk … tubuh gemuknya menimbulkan suara yang unik.
“Dasar bodoh!” Aku mengejeknya dengan penuh canda.
“Cinta kamu tuh yang membodohkan aku!” tangkasnya centil.
Tawa kami pun meledak.
“Sekarang nasib kita gimana coba?”
“Ya udah, tunggu keajaiban aja lah!”
Ledakan tawa semakin memuncak. Terbahak-bahak, menyamar isak. Cinta ini terarak, dari hati ke hati yang berhak.
***
Lompat ke sana, lompat ke sini. Engkau haruslah tahu betapa senangnya hatiku menikmati hari. Kakiku memang menyatu, siapa bilang melangkah dengan kaki seperti ini tidak seimbang? Lihatlah aku! Aku bisa bergerak bebas kemanapun aku mau. Kekuranganku hanyalah ... tidak akan pernah bisa berdiri sendiri dari posisi telungkup.

 Tulisan asli diposting 15 Sept 2012

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done