Skip to main content

Pengalaman Belanja Online Seberat 10 Kilogram dan Free Ongkir

Sejak euforia belanja online marak di Indonesia, saya jadi salah satu penggunanya yang sangat memanfaatkan teknologi ini. Sejauh ini ada beberapa benda elektronik, perlengkapan dapur, pakaian, buku, dan sebagainya yang sudah saya beli via online. 

Source: Pixabay/tumicu


Dari yang awalnya iseng, lalu coba-coba, kemudian jadi kebiasaan juga belanja online. Tapi untungnya, sampai sejauh ini saya belum begitu brutal belanja ini itu via internet. Yang penting yang dibeli adalah barang yang dibutuhkan, toh yang make juga saya sendiri, ya saya pikir gak apa-apa lah. 

Lagi pula, dalam benak saya dengan melakukan belanja online saya bisa lebih menghemat. Misalnya, jika saya harus mencarinya di toko reguler, iya kalau dalam satu toko saya langsung menemukan barang yang saya mau. Kalau gak kan, artinya saya perlu keliling lagi. Dalam hal ini saya pun sudah menghemat waktu, menghemat tenaga juga menghemat emosi karena gak perlu nawar ini itu. Belum pula kalau pas lagi ada diskon, saya bisa mendapatkan barang incaran saya dengan harga yang lebih murah. Hanya saja, saya harus sabar menunggu barang itu sampai, karena terkadang ekpedisi pengiriman bisa sangat lama mengantarkannya. 

Pernah kejadian, saya pada waktu itu lagi butuh dasi, maka saya cari di internet. Harganya benar lebih murah, dan barangnya pas sampai emang lumayan bagus. Tapi pengirimannya sangat lama. Hingga satu hari menjelang saya harus memakainya pun belum kunjung sampai. Mau gak mau saya harus cari dasi lain ke toko reguler. Ya ini sih termasuk pengalaman gak enaknya. 

Sepanjang pengalaman saya, biasanya saya belanja barang yang sekiranya ringan, karena sejauh ini saya hanya mendapatkan subsidi gratis ongkos kirim hanya untuk satu kilo pertama. Tapi, semenjak saya tahu kalau ada jd.id yang memberikan ongkos kirim tida mengandalkan berat. Akhirnya saya pun iseng mencobanya. Lagi-lagi, faktor iseng lah yang menjadi faktor penentu saya melakukan ini. 

Saya mulai mencoba membeli beras 10 kilogram. Saya lupa merknya apa, di sana harganya tertulis 170an ribu, gila mahal amat dalam benak saya, tapi ada potongan 50 ribu, dan saya lihat pengiriman gratis. Akhirnya saya pun nyoba pesan. Saya mentransfernya tak lama setelah itu. Dan beberapa hari kemudian beras pesanan saya itu benar-benar datang. Saya sangat takjub dibuatnya. Ini adalah paket terberat yang pernah saya beli. Setelah pengalaman pertama saya itu, saya melakukan pemesanan lain, ricecooker. Ya kali, masa punya beras tapi gak punya ricecooker. 

Setelah berhasil memesan barang yang berat banget, saya lihat di homepage jd.id, di sana ada barang seharga 2ribuan. Saya kali ini sekali lagi iseng memesan, saya pakai COD, biar saja lah murah ini, jadi saya pikir mendingan bayar di tempat. Semisal barang gak dianter juga gapapa, wong saya gak butuh butuh amat, isinya juga cuma tisu. Lah ya, beberapa hari kemudian kok barangnya beneran diantar. Jadilah saya takjub lagi, dengan jd.id ini. 

doc: pribadi

Dan setelah kejadian itu, saya jadi keranjingan belanja di jd.id. Dari barang-barang yang sebenarnya emang saya butuhin, sampai barang perintilan yang sebenarnya belum begitu saya perluin, tapi saya yakin  bakalan saya perlukan nantinya.  Gambar di atas adalah barang yang sudah saya beli sebelumnya, dan itu belum semuanya, ada beberapa lagi yang sudah saya buang. Sesuai mottonya, jd.id make your journey, saya dibuatnya benar-benar maked my journey. 

Ada fitur shared by di sana yang memungkinkan kita buat belanja bareng sama teman, atau kongsian dengan harga yang sangat murah. Ini sangat cocok buat anak kosan yang memang lagi belajar menghemat demi kehidupan yang lebih baik. 

Comments

Popular posts from this blog

#GagasDebut GiveAway | Novel Selamat Datang Cinta by @OdetRahma

Kenapa buku ini harus dimiliki?



Simak Review dan Obrolan saya dengan Penulis Selamat Datang Cinta di postingan saya sebelumnya. Atau, silakan simak review dari Mpok Wuri berikut ini. ENTER!