Skip to main content

Hai, Semua Orang, Teriaklah ke Telingaku!

Saya rasa saya kali ini menjadi orang yang paling sedih sedunia. Saya tidak berguna. Saya tidak tau mesti bagaimana. Saya tidak punya ide. Saya diam di tempat. Saya hidup tapi kayak mati. Dan semuanya tampak sangat menyedihkan. 

Huh! 

Bagaimana tidak? Seorang pria seumur saya ini, yang sudah cukup dewasa, walau masih muda,  tapi tidak melakukan apapun.  Tidak melakukan inovasi apapun. Egois. Terlalu banyak santainya. Tidak belajar dari pengalaman. Lalu apa yang bisa saya banggakan setelah ini? 

Ayolah, Man. Bangkit! Saya harus berbuat sesuatu nih. Iya, saya tahu, saya harus melakukan banyak hal di usia ini. Tapi apa? Akal saya seperti tumpul. Saya tidak tahu lagi mesti gimana. Saya bahkan masih senang berdiam diri di rumah, ketimbang bersosialisasi.  

Oh, mau jadi apa saya ini? Apa yang bisa saya pertanggung jawabkan? Apa yang bisa saya katakan kepada ibu saya jika belio bertanya, sedang apa kamu nak? Saya tidak mungkin bilang kalau saya lagi gegoleran di kasur, Bu. Saya bahkan berkali kali menolak panggilan Video Call dari ibu saya lantaran saya malu karena saya baru bangun tidur. 

Mengingat ibu saya, saya jadi merasa sedih sendiri. Saya adalah orang yang bakal menjadi harapan buatnya. Sementara saya hanya diam di satu titik. Tak ada kefokusan. Tidak ada kemajuan. Tidak ada semuanya. Saya ini kerdil. Saya tidak mau seperti ini. Tapi saya mesti bagaimana? Kadang saya masih suka bingung sendiri di umur yang sedewasa ini. 

Saya harus mencari lagi. Apa yang saya kejar harus saya dapatkan. Agar saya tidak menyesal. Namun lagi lagi, saya merasa enggan, rasa malas jauh lebih dominan dibandingkan dengan tekad saya. 

Hai, semua orang! Tolong bantu saya! Teriaklah kencang ke telinga saya. Bahwa saya harus bekerja. Bahwa saya harus bergerak. Bahwa saya harus melakukan seuatu yang berguna. Bahwa saya harus bertindak. Katakanlah! Tolong katakan kepada saya. Teriakkan menggunakan toa bila perlu. Agar saya bisa sadar. Agar saya jadi tahu diri. Agar saya jadi punya malu. Agar saya peka, dengan keadaan saya, siapa saya, dan apa tujuan saya berada di sini. 

Comments

  1. Walaupun kamu anak ragil, kamu tetap harus jadi tulang punggung seperti anak pertama. Setidaknya tulang punggung di keluarga kamu sendiri nantinya.

    ReplyDelete
  2. aku teriak nih, "banguuuuuuuuuuuuuuuuun!" dah hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

#GagasDebut GiveAway | Novel Selamat Datang Cinta by @OdetRahma

Kenapa buku ini harus dimiliki?



Simak Review dan Obrolan saya dengan Penulis Selamat Datang Cinta di postingan saya sebelumnya. Atau, silakan simak review dari Mpok Wuri berikut ini. ENTER!

Blog Review & Give Away Semangkuk Rendang di Negeri Paman Sam

Semangkuk Rendang di Negeri Paman Sam ini adalah peraih pemenang pertama dalam lomba Young Adult Locality Novel 2015 yang diselenggarakan oleh Universal Nikko. Dari judul kita bisa menemukan kata Rendang, artinya nuansa Minang sudah dapat ditebak, jadi wajar jika kita menemukan nuansa Minang yang kental di seluruh adegan. Termasuk penggunaan bahasa yang dipakai penulis, budayanya, adat, tapi jangan risau sodara-sodara, karena selalu ada catatan kaki di setiap dialog yang berbahasa Minang.


Bercerita tentang jungkir balik dunia Adit.  Jungkir balik dunia Adit ini sangat rumit.  Ibunya meninggal saat  dia melahirkan Hanif, adiknya. Kemudian disusul dengan kepergian ayahnya akibat kecelakaan saat kerja. Belum lagi sang adik punya penyakit penurunan fungsi otak.  Pokoknya penuh drama banget. Itu juga masih ditambah pula dengan keadaan hidup yang serba pas-pasan, dikisahkan bahwa Adit mesti membiayai  kuliahnya senditi, makin menyedihkan waktu tau adiknya di kampung ditinggal sendiri karena n…