Review Buku: Di Bawah Langit yang Sama

Helga Rif
Judul : Di Bawah Langit yang Sama
Penulis : Helga Rif
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Cetakan : pertama
Tebal : 276 hlm
ISBN : 979-780-811-4

Di kotaku, gadis-gadis berkebaya meriung merangkai bunga.
Menyanyikan kidung. Juga membicarakan cinta, yang ternyata tak semudah yang kita sangka.

Seperti cintaku, yang kini kupertanyakan di tepi pura dekat taman bunga.
Dia dan aku sungguh berbeda meski berada di bawah langit yang sama.
“Kau seperti kupu-kupu,” katanya, “yang sempurna dan cantik warnanya.”
Seharusnya, aku bahagia mendengarnya.
Namun, aku sadar, sayapku tak bisa terbang bebas.

Cinta tumbuh di tempat yang jauh, sementara sayapku terikat di sini.
Di pulau para dewa, yang menyimpan banyak rindu untuk memanggilku kembali.
Yang nyanyian ombak di pantainya mampu mendamaikan risau di hati.

Langit masih memiliki warna yang sama, aku dan dia berada di bawahnya.
Kami mengirimkan cinta dan doa.
Namun, diam-diam juga saling bertanya, apakah doa kami akan sampai ke tempat yang sama?

Jika kau pernah mendengar kisah serupa, kabarkan kisahnya ke Pulau Dewata; apakah bahagia atau sesal yang ada di ujung kisahnya?

—Indira


Indira, gadis Bali yang melanjutkan kuliah di Singapura. Setelah lulus kuliah, dia bekerja di salah satu perusahaan tekstil sebagai desainer. Di sana dia berpacaran dengan Maximilian Liem, yang merupakan atasan sekaligus anak dari pemilik perusahaan.

Suatu ketika Max menawarkan Indira sebuah proyek besar dengan Mr. Howard,  klien dari Australia, bersamaan dengan berita duka yang didapatkannya dari  Iswara, adiknya yang tinggal di Bali, bahwa Niang—panggilan nenek untuk masyarakat Bali yang berkasta kesatria—meninggal. Berita duka itu membuat Indira harus pulang ke Bali dan meninggalkan segala hal, pekerjaannya, proyek besarnya dengan Mr. Howard, dan termasuk pula kekasihnya—Max.

Di situlah bagian paling menarik dari novel ini. Deskripsi budaya Bali yang digambarkan penulis sangat kental, belum lagi elemen-elemen adatnya, dan hal-hal yang erat sekali  kaitannya dengan agama Hindu. Diceritakan pula prosesi ngaben yang cukup merepotkan dan memakan waktu lama.

Setelah pulang ke Bali, waktu Indira banyak tersita untuk merayakan upacara ngaben neneknya. Desain pesanan untuk proyek dengan Mr. Howard jadi terbengkalai. Selain itu dia juga terpaksa memperpanjang masa cuti kerja, sebab upacara ngaben baru akan selesai berminggu-minggu kemudian. Sehingga membuatnya bertemu lagi dengan teman main semasa kecilnya yang setelah tamat SMP merantau ke Jakarta, namanya Gung Wah. Masalah bertambah saat Gung Wah ketahuan jatuh cinta pada Indira.

Konflik novel ini lekat dengan adat. Ada empat kasta di Bali, yaitu Brahmana, Kesatria, Wesya, dan Sudra. Di Bali, perkara kasta sangat sering menjadi pro-kontra, terutama dalam masalah pernikahan. Ada aturan jika perempuan yang menikah harus mengikuti kasta suami. Konflik semakin berkembang saat Indira terjerat pada keadaan yang memaksanya untuk memilih Max—laki-laki beragama Budha yang punya status sosial dan ekonomi yang bagus di Singapura, atau memilih Gung Wah—laki-laki berkasta sama yang dalam sistem kasta bisa masuk ke dalam keluarganya, tetapi tidak dicintainya. Sangat rumit sekali. Namun seru.

Berbeda dengan novel lain yang mengangkat latar Bali, novel ini hampir tidak membeberkan tempat-tempat wisata yang berada di pulau Dewata. Namun, novel ini akan membuat para pembacanya dekat dengan Bali melalui budaya, adat, ritual, dan kearifan lokalnya yang kental.

Comments

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber