Itulah yang Mungkin Orang-orang Sebut dengan Proses

Selamat ulang tahun! Semoga semuanya panjang, panjang umur, rambutnya juga cepat panjang. Dan semoga makin dewasa, murah rejeki. Aamiin

Beberapa yang masuk ke inboks saya bunyinya begitu. Mata saya selalu berhenti di kata dewasa. Karena rasanya, saya tidak menyangka kalau sekarang sudah dewasa. Atau memang saya yang belum yakin kalau saya ini seharusnya memang sudah dewasa.

Kadang saya memang merasa dewasa. Namun di saat yang lain, saya masih pengen merasa kecil. Pengen lagi merasa disayangi kakak-kakak saya. Juga banyak hal. Setuju nggak sih kalau menjadi kecil itu menyenangkan?

Tapi kenapa anak-anak jaman sekarang malah justru ingin segera dianggap dewasa ya. Bahkan ada yang sudah sampai berani melakukan adegan dewasa.
Cukup aneh.

Dari umur, saya memang sudah lewat dari kata anak-anak. Tapi kedewasaan manusia bukan diukur dari seberapa banyak umur yang dikoleksi. Kedewasaan diukur dari banyak hal. Dari bagaimana cara kita bersikap, bagaimana cara kita mikir, dan banyak hal yang bagaimana bagaimana lainnya.

Dulu, kalau saya temenan sama anak perempuan. Saling bantu ngerjain tugas sekolah, atau saling icip-icip makanan. Ya, dulu itu saya emang cangok banget. Saya biasa saja. Tapi sekarang beda. Kadang juga ngeri.  Ketika saya temenan sama anak perempuan, saya bantuin tugasnya sedikit, dianya baper. Saya dibikinin makanan sama dia, saya yang kebawa perasaan. Dari sini saya mikir, menjadi dewasa itu berarti serumit ini. Saat segala masalah tidak cukup untuk dipikirkan hanya dalam satu sisi. Saat semua masalah yang timbul memiliki banyak sekali kemungkinan. Dan itu cukup memakan waktu. Itulah yang mungkin orang-orang sebut dengan proses.

Dan setiap proses selalu memiliki resikonya sendiri-sendiri. Ego menjadi kendali penuh untuk orang dewasa. Namun, ketika saya masih belum mampu menguasai ego saya. Saya percaya, saya saat ini belum cukup dewasa. Saya masih belum mengerti bagaimana menghargai perasaan, bagaimana memanfaatkan waktu, bagaimana baiknya berbuat bijaksana, bagaimana caranya tidak membuat Haris Firmasnyah tersinggung saat saya katain tolol (ini misal), dan sebagainya.

menjadi dewasa

Menjadi dewasa juga dituntut untuk pandai menempatkan diri. Memosisikan apa dan bagaimana, serta mengapa.

Saat saya sedang punya mood yang baik untuk temu kangen sama seseorang, saya memberikan penawaran dengan mengajaknya pergi, sekadar makan, atau nongkrong minum kopi malam-malam. Saya paham dia sibuk, makanya penawaran saya cukup sebatas itu. Tapi saya tidak berhasil membuat hari bersamanya. Saya tentu saja kecewa.

Saat saya diajakin chatting sama perempuan cantik. Saat lagi asik-asiknya. Chatting saya malah hanya di R. Bayangkan lah, hanya di R saja. Saya pasti sangat kecewa.

Tapi di sinilah lagi-lagi saya mengalami proses. Saya harus banyak berpikir. Ada berbagai alasan kenapa orang itu bersikap begitu terhadap saya. Ah, saya yakin dia pasti sedang sibuk. Ah, saya yakin, saat itu dia sedang memikirkan kalimat indah yang akan segera dikirimkan untuk saya. Dan, ah... saya kok jadi mikir kalau saya tidak dianggap penting olehnya. Saya bukan siapa-siapa. Saya pun jadi kepengen nangis.

Itulah bedanya saya yang sekarang dengan saya saat kecil. Dulu saat sedih, saya nangis ya nangis aja. Tanpa banyak mikir, walaupun bakalan diledekin teman satu kelas karena saya cengeng. Sekarang lebih ke mikir, saya sudah tua tapi belum pantas juga dianggap tua. Kalau saya nangis, kok kayaknya kurang etis. Kemudian ngakak, karena setres dengan keadaan, sambil mikir kok saya jadi seperti ini. Lalu air mata ngalir begitu saja. Itu namanya bukan air mata kebahagiaan sih. Hiks

Saya tidak tahu bagaimana caranya menjadi dewasa. Untuk itu saya tidak akan memberikan tips menjadi dewasa dalam postingan kali ini. Saya hanya menikmati setiap waktu dalam proses saya menuju dewasa. Saya tidak takut, meski saya bakal banyak salah nantinya. Saya pemikir, walau sebenarnya saya juga sering angkuh dan tidak peduli. *nyengir

Saya tidak suka meminta maaf. Entah ini bakal baik atau tidak, saya lebih ke melakukan usaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, daripada hari ini ngomong minta maaf besoknya diulang lagi lagi dan lagi.

Saya sebenarnya labil. Tapi di situlah cara saya menjadi diri saya. Jati diri saya seperti apa, ini yang masih saya cari-cari. Labil, merupakan bagian dari pencarian jati diri saya. Dalam kelabilan, saya juga sering mengalami salah dalam mengambil keputusan. Saya tidak menyesal. Saya emang begitu orangnya. Menyesali keadaan yang sudah terlanjut itu tidak ada gunanaya. Daripada menyesali keadaan, lebih baik mencari keputusan lain dari kondisi yang sudah terlanjur salah. Dari sini biasanya saya akan belajar sesuatu yang baru.

Saat saya emosi dengan Hari Firmansyah via chatting, saya akan menyumpahinya biar jadi ngondek. Ini lebih ke cara saya menyalurkan kedekatan antar teman saja sih. Daripada kena blokir. Juga sekalian melampiaskan kekesalan. Walaupun saya yakin sumpah serapah saya di internet tidak bakal berlaku. Lagi-lagi, saya harus belajar untuk menjadi dewasa.

Menjadi dewasa emang menyenangkan. Karena kita bakalan bebas melakukan semua hal secara mandiri. Tapi menjadi dewasa itu tidak semudah membuat postingan blog. Intinya nikmati aja sih prose pendewasaan yang ada. Tinggal posisikan diri, mau jadi pembelajar atau mau begitu begitu mulu. Pilihannya hanya itu.

Menjadi dewasa itu bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah tuntutan. Karena tidak ada manusia yang bisa memilih untuk tidak memilih menjadi dewasa. Nah loh kalimatnya gimana dah ini. Pokoknya speak up your mind, gitu aja lah.

Comments

  1. Menjadi dewasa itu menyenangkan dan ada membosankan juga dengan semua rutinitas setiap hari. Tapi itulah hidup kalau terus-terusan menjadi anak kecil mungkin tidak akan tahu dunia ini seperti apa kerasnya haha

    ReplyDelete
  2. Menjadi dewasa itu tuntutan. Anjir gue jadi inget Alan di Hangover part III. Hahaha. Bener juga sih. \:D/

    ReplyDelete
  3. Mungkin dewasa ya tetep dewasa, tapi masih punya sifat anak-anak yang suka mainan. Main PS gitu kekanakan bukan, sih? Intinya butuh hiburan deh.

    Gue, sih, kalo mau nangis, ya nangis aja, Di. :')
    Kita juga butuh meluapkan emosi yang terlalu lama disimpan. Tapi nggak di depan orang-orang. :D Mungkin saat merenung sendiri di kamar tengah malam. :)

    Tapi semakin dewasa, semakin jarang nangis juga, ya. Bahkan gue sempet lupa caranya nangis. Atau sebenernya gue nangis, tapi tanpa air mata. :(

    Btw, selamat ulang tahun! Semoga proses lu ini bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Maaf telat. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber