12 Alasan Kenapa Harus Ngebolang

Ngebolang itu sebenarnya nggak harus jauh-jauh. Asal ada niat aja sih, ngebolang juga bisa ke mana aja. Dan yang paling penting, ngebolang itu asik kalau dilakukan sendirian. Meski beresiko, tapi percayalah bakal banyak kejadian yang membuat kamu lebih menghargai hidupmu.

Ini teman-teman yang saya kenal di kapal, baru kenal dan saya lupa nama-nama mereka *huft

Saya ngebolang sepuluh hari akhir Desember 2015 lalu. Dari Lubuklinggau naik bus menuju ke Tegal. Sebenarnya niatnya hanya untuk mengisi waktu libur untuk mengunjungi Kakak Perempuan saya yang ada di sana. Namun karena ada kesempatan, niat ngebolang pun terjadi. Lalu membawa saya menuju Semarang, lalu ke Solo, keliling Daerah Istimewa Yogyakarta, dan berakhir muterin Jawa Tengah waktu balik ke Tegal lagi karena saya salah naik bus.

Ini 12 Kejadian yang saya alami, dan semoga bias membuat kamu terinspirasi

MENYEGARKAN ISI KEPALA KAMU
Kenapa? Jadi ceritanya pada waktu itu saya belum lama putus, satu bulanan setelah putus sih, tapi  bisa dibilang belum lama lah. Semoga kamu juga sepakat dengan hal ini. Ada banyak alasan kenapa saya memutuskan untuk putus, dan menolak mentah-mentah ketika mantan saya mengajak saya untuk balikan. Ini kesannya emang terlalu sombong, tapi sebagai cowok manis saya tentu saja berhak dong untuk menolak wanita? Dan saya juga pernah mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya mengobati patah hati, cara yang paling baik adalah dengan ngebolang.

Saya percaya dengan ungkapan itu. Sebab ketika ngebolang saya menemukan ketenangan yang luar biasa. Saat saya ketemu dengan banyak orang,  dengan latar belakang yang beragam, ketemu alam, gunung, atau mungkin lautan. Semua itu bakal membuat saya lupa akan masalah hati yang saya alami.

LEBIH BANYAK BERSYUKUR
Berkali-kali saya memejamkan mata sejenak mengucapkan Alhamdulillah. Bersyukur.  Karena saya dipertemukan dengan orang-orang yang baik.

Sebelumnya mungkin kamu harus tahu betapa saya bagaikan katak dalam tempurung yang terlalu nyaman menjadi pangeran dengan ketampanan yang cukup, saya tidak bilang kurang, tetapi cukup. Sebelumnya juga saya enggan bertemu dengan siapapun, karena pernah ketemuan sama teman yang baru saya kenal, tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi saya.

Keraguan saat menemui banyak orang baru membuat saya teringat kejadian itu lagi. Tapi di sepuluh hari ngebolang ini, saya benar-benar bersyukur. Betapa Allah itu luar biasa. Saya menjadi percaya betapa orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik pula.

Karena mungkin saja kamu tidak menyangka, dengan uang saku yang amat sangat pas-pasan, saya berhasil mengunjungi keraton Solo, keliling Yogyakarta, naik sepeda di Simpang Lima Semarang, dan sebagainya. Semua itu tidak mungkin saya alami jika saya tidak dipertemukan dengan orang-orang yang baik.

Selain pengalaman baru, saya juga menemukan betapa keagungan Tuhan itu nyata dan memang tidak ada tandingannya.  Langit dan laut tetap membuat saya kagum. Saya suka warna biru keduanya.

BELAJAR MENGHARGAI WAKTU
sumber: www.esq-news.com
Jika sebelumnya saya terlalu abai sama waktu. Saat ngebolang saya belajar menghargai waktu. Berulang kali melirik angka digital yang tertera pada ponsel. Lebih ke menuntut diri untuk mengatur waktu, ketika mau ke mana, dan harus istirahat jam berapa.  Semoga ini berguna untuk kegiatan sehari-hari saya ke depannya sih.

MEMBANTU MENGENDALIKAN EMOSI
sumber: www.jendelasarjana.com
Yang namanya mengontrol diri itu sangat sulit. Saya paham dengan hal ini. Sulit sekali. Tapi ketika ngebolang, proses mengendalikan emosi ini adalah wajib. Ini terjadi ketika saya pengen mengunjungi Candi Sambisari, namun teman saya pengennya ke tempat lain, dengan alasan yang tentu saja masuk akal. Walau masuk akal, kadang tetap saja tidak bisa saya terima karena yang namanya ego itu sulit sekali dikendalikan. Jadi, ngebolang membantu saya untuk mengendalikan emosi dan ego saya. 

MENINGKATKAN SENSE OF HUMOR
Ini saya sadari ketika saya diajak pergi ke Taman Sari, Yogyakarta. Saya berdecak, kalau di Sumatera dulu saat kecil saya disajikan dengan orang-orang berkulit hitam yang berseliweran ke sana sini. Sebut saja mereka ini adalah suku anak terdalam, suku kubu, kami sering menyebutnya dengan istilah Wong Kubu. Nah, kali ini saya ketemu dengan orang-orang putih yang seliweran. Baca: bule.

Sense of humor saya muncul acapkali ada bule yang berjalan memapasi saya. Saya selalu saja ngekorin di belakangnya. Dengan harapan bisa memecahkan suasana pada saat itu. Karena Yogyakarta teriknya luar biasa. Konyol sih emang. Tapi ada kepuasan tersendiri ketika saya melihat teman-teman saya tertawa dengan tingkah yang secara tidak sengaja saya ciptakan itu.

Temen saya sampai ngeledek, “Nanti kalau ada orang yang nanya, ‘Itu kok bule yang di belakangnya beda sih?’ gitu giman?”
Saya nyengir aja, sambil menjawabnya dengan kalem. “Oh aku bakal bilang, ‘Saya suaminya,’ gitu aja sih.”

Teman saya tertawa. “Iya sih, biasanya kalau bule itu pasangannya jelek-jelek.”
Saya berhenti nyengir. “Oh jadi menurut kamu aku jelek? Gitu?”
Teman saya makin tertawa lebar dan keras. Saya senyum aja. Dalam hati seneng, yes misi berhasil.  Kurang lebih seperti itu.

MENJALIN PERTEMANAN DENGAN BAIK
Yang ini menurut saya lebih menuju ke kekeluargaan. Karena merasa sama-sama di daerah orang aja sih mungkin ya. Jadi merasa punya kesamaan, sehingga rasa kekeluargaan itu muncul dengan sendirinya.
Hadi Kurniawan dkk

NGAKU DISURUH PAK KADES BIAR GRATIS
Ini kejadian waktu mau ke Pantai Sadeng. Entah ini bisa jadi inspirasi atau tidak. Yang jelas kejadiannya begini, waktu itu saya diajakin Fikry ke Pantai ini. Nah, kebetulan daerahnya di Gunung Kidul yang dekat dengan daerahnya waktu KKN. Jadi dia juga ngajakin beberapa adek-adek di sana untuk ikut. Pas ada penjaganya, Fikry nyeletuk. "Ini nanti bayar nggak, Dek?" 

Salah satu dari mereka nyeletuk. "Nggak loh,  Mas." 
"Yang bener?" Fikry tampak belum yakin. Saya mah diem saja. Bobok ganteng waktu itu di mobil. 
"Iya, Mas. Nanti bilang aja disuruh Pak Kades Jo, gitu." 
Pas memapasi petugasnya, ada bapak-bapak umur 40 menjelang 50 lah. Melambaikan tangan, memberikan kode untuk memelankan laju kendaraan. 
Si Bapak belum tanya apa-apa padahal, ini adek-adek langsung aja nyeletuk. "Di suruh Pak Kades Jo, Pak." 

Si Bapak kayaknya nggak denger. Fikry ikutan menimpali, "Ini kami disuruh Pak Kades, Pak." 
"Apa? Pak Kades Jo? Baiklah, silakan, Mas!" Si Bapak umur 40 menjelang 50 itu pun mempersilakan dengan senang hati. 
Setelah kejadian itu semua orang ngakak di dalam mobil. "Tuh kan boleh," celetuk salah satu adek. 
Dan inilah para rombongan yang ngaku-ngaku disuruh Pak Kades Jo itu. 
Hadi Kurniawan di Pantai Sadeng, DIY

SELAGI MASIH MUDA
Saya ketemu bapak-bapak setengah tua ketika saya mengunjungi rumahnya Mbah Marijan (Alm). Menuju kesana harus berjalan sekitar 1 km, atau malah lebih, saya kurang  pandai kalau disuruh menerka. Jadi angggap saja segitu. Dan ini jalannya menanjak. Saya melihat betapa lelahnya bapak itu, dan ikut merasakan lelahnya seperti apa.  Jadi menurut saya, buat kamu yang masih muda, mending ngebolang deh. Karena saat tua nanti, stamina kamu bisa saja tidak sekuat saat ini. Yakin.
sumber: lapiskamay.wordpress.com

MUMPUNG BELUM MENIKAH
Masuk umur dua puluhan yang sering kita obrolin sama temen-temen biasanya soal nikah, kan? Kalau saya seperti itu. Kadang juga bikin obrolan, mau kerja dulu atau nikah dulu. Saya semangat ngebolang karena saya belum menikah. Sebab setelah menikah nanti yang saya pikirin, pasti akan banyak hal yang mungkin saja menghambat niat ngebolang saya. Misalnya, tidak bisa bebas lagi karena sudah punya tanggung jawab, biayanya juga bakal dobel, dan yang paling utama adalah tidak perlu izin sama mertua. Tul gak?

Ngebolang mumpung belum menikah juga bikin tabungan cerita. Kan saya bisa cerita ke anak cucu suatu saat.

SELEKTIF KETIKA BERSEDEKAH
Bukan selektif sih, entah apa kata yang cocok untuk menyatakan kalimat 'lebih ngerti mana yang pantas untuk diberikan sumbangan,' gitu loh. Ketika ngebolang saya ditemukan dengan dua macam peminta. Yang pertama pengemis, yang kedua pengamen.

Waktu ada pengamen, saya memberikan sedikit recehan yang saya miliki. Pun seperti itu yang dilakukan teman-teman saya. Namun ketika ada seorang bapak yang meminta-minta, temen saya melarang untuk memberikan uang apapun. Tentu saja saya terkenyut. Dalam hati bertanya-tanya.
“Tolong dibedaka,” katanya. Lalu dia menunjuk ke arah ibu-ibu tua yang membawa rebana menyanyikan lagu jawa yang entah saya pun tidak paham. “Ibu itu ada usahanya. Sementara bapak itu?”

Dia menggantungkan omongannya. Dan saya tidak bertanya lagi karena sudah paham. Kemudian ngangguk-ngangguk.

SADAR BAHWA RECEHAN PUN BERHARGA
Tabungan uang koin receh
sumber: http://www.vindyputri.com/
Saya biasanya kalau di rumah ngeliat duit selembaran seribuan atau dua ribuan biasa saja. Saat ngebolang, jadi mikir, walau hanya seribu juga tetep aja duit.  Dan itu  berguna dalam banyak hal. Buat bayar angkutan, buat bayar toilet umum, ngasih ke pengamen, juga buat membeli hal-hal yang tidak terduga. Misalnya tisu atau sejenisnya.

MENJADI RAJA TIDAK HARUS GANTENG
Pernah dengar kan pernyataan kalau tamu itu adalah raja? Saya mengalami ini ketika saya menginap tempat teman. Saya merasa dijamu. Terlebih saat sarapan, saya dan teman saya berebutan untuk bayar makanan. Terus terang saya nggak enak. Tapi teman saya memaksa dan meberikan keyakinan kalau saya adalah tanggung jawabnya. Dengan itu malah bikin saya semakin merasa tak enak hati. Lagi-lagi teman saya memberikan pengertian, “Dalam agama kita, kedatangan tamu jauh itu dapat   membawa rejeki. Jadi sudahlah merasa nggak enak begitu,” katanya. Baiklah, saya langsung diam saat itu juga. Dan kejadian ini bikin saya mendadak pingin nraktir orang waktu balik ke Sumatera. Tapi sayangnya, yang mau saya traktir nggak pernah mau diajakin ketemu. 

Saya benar-benar merasa raja meski saya tidak ganteng. Ganteng sih, tapi kurang kalau bandingannya orang yang lebih ganteng. Halah.  Tapi saya belajar satu hal. Menjadi raja itu harus wangi. Jadi pesan saya, jangan lupa bawa deodorant atau apapun yang bisa bikin kamu wangi. Karena bisa jadi, perjalanan panjang membuat keringat kamu busuk busuk busuk busuk.


Itu saja sih yang bisa  saya berikan. Semoga bisa menginspirasi kamu buat ngebolang. Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. 

Salam

Comments

  1. Apa cuma aku yang merasa tulisan ini tulisan waras, beda dari gulisan Mas-Mas Pea yg biasanya? :D
    Kamu menerapkan the power of Pak Kades! Luar biasa... pelajarannya banyak ya, Mas. Betewe pas uda pulkam, masih aja tuh dikejar mantan... bolang lagi sana.. biar lupa lagi. Hahha... Nice post!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya the power of pak kades ya hehehe

      Delete
  2. Hidup lo Garing kalau gak refreshing

    mungkin kutipan ini benar adanya dan yah,hidup itu harus punya waktu beristirahat dengan alam dan lingkungan.

    Dan uang receh itu mengingatkan saya sewaktu jaman kost, kumpulinnya sampe berbotol-botol :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Bimo pernah kos ya. Wah asik... jadi pengen

      Delete
  3. Wah, harus nyoba nih, gue paling ngga bisa nge-hargain waktu. Kapan2 pengen keluar, pengen refreshin dan menyegarkan kepala juga~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya hul. Ayo nabung. Nanti ketemuan kita :D

      Delete
  4. Menjadi raja tidak harus ganteng? Iya sih, karena kamu udah jadi raja disini <3. Hahahaha
    Nyanyi lagu Sheila On 7 "Sahabat Sejati" Dudududududu ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiik dinyanyiin lagu *loncat loncat

      Delete
  5. asyiknya bisa kemana2 sebelum banyak tanggungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini belum ke mana mana juga sih. Indonesia masih besar hehe :D

      Delete
  6. Aaah... Bner juga.. Apalagi gue yg udah mumet ditempat kerja.. Butuh liburan.. :(

    ReplyDelete
  7. ngebolan sendiri ayik juga aku dulu pernah dan bikin ketagihan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget. Nagiiiihh :D

      Delete
  8. Banyak banget ya kiat-kiat untuk ngebolang, salah satunya untuk menurunkan rasa stress di kepala. Toh untuk ngebolang bisa jadi fikiran lebih fresh lagi iya nggak? hihihi

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk