Rapi Amat - Epsd 1

Ponsel bergetar. Seorang cowok yang terlihat sibuk menyisir rambut itu mengabaikannya begitu saja. Seolah-olah, jambulnya itu lebih berharga dibandingkan dengan panggilan itu.
Ia berbalik arah. Mencoba memerhatikan penampilannya dari arah samping. Memutarkan bodi jangkungnya itu ke kiri. Lantas membelakangi kaca. Sip. Ia merasa tampan pagi ini.
"To, udah siap? Hari ini rapat jam sepuluh!" suara cewek di seberang sana membuatnya mangap.
"APA? JAM SEPULUH?" Isnanto menggigit jarinya.
Bagaimana bisa ia melupakan agenda rapat bulanan seperti ini. Sekertaris BEM yang ada di seberang sana mulai bingung. "Haloo... halo, To. Lo belum pingsan, kan?"
Isnanto berdehem. Kemudian membetulkan posisi kerahnya, dan ia pun berkata. "Ya, belum dong Fema. Masa cowok seganteng aku begini bisa pingsan sih." Lalu ia cengengesan.
Tak lama setelah itu Fema mematikan panggilannya. Isnanto giginya gemerutuk. Ia berusaha mencari cara untuk segera sampai ke kampus. Aha. Pikirannya tepat. Ia segera menuju ke pangkalan koasi.
Plak.
Isnanto lupa. Hari ini hari buruh. Sopir koasi pada libur. Isnanto menggerutu sendiri. "Ini pada udah kaya semua apa bijimana sih ini?"
Dua menit lagi mendekati pukul sepuluh. Isnanto masih berada di pangkalan koasi. Ia masih menunggu angkutan umum yang bisa membawanya menuju ke kampus.
"To, kalo lo nggak sampai dalam dua menit ini. Gue anggep lo mengundurkan diri. Dan jabatan lo di Departemen Kesenian bakalan diganti dengan Getar." Fema yang jadi sekertaris BEM itu ngomelin Isnanto lagi via telepon.
Isnanto tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa gigit jari. Kesel. Kepalanya mulai keliyengan. Sebagai cowok ganteng, ia jadi ngerasa cupu. Dan lagi, Isnanto merasa punya jiwa seni yang tinggi, tidak ingin posisinya di Departemen Kesenian itu terganggu. Mahasiswa jurusan Teknik Industri itu jelalatan matanya. Mencari kendaraan apapun yang bisa ia tebengi.
Namun, di hari buruh ini, justru tak ada satupun kendaraan yang lewat. Jalanan jadi lengang. Bahkan andai kata lo mau menggelar tikar di jalan raya, lo bisa tidur nyenyak karena saking lengangnya.
Tiba-tiba sebuah motor lewat. Isnanto kenal si pengendara motor Beat warna biru itu.
"Setop... setop! Gue nebeng, gue nebeng!" Isnanto mengulangi ucapannya berkali-kali.
"Lo dapat udangan rapat juga?" tanya cowok itu.
"Ya. Dan gue benci kenapa nggak ada kendaraan satupun yang lewat. Begh...!" Isnanto meluangkan keresahan hatinya.
"Lo nggak tahu. Di ujung sana ada Polisi. Dan lagi, di sebelahnya sininya dikit ada kebakaran ruko. Eh ya ada juga korban kecelakaan sih tadi. Gue aja beruntung bisa lewat."
"Tapi nggak ada juga orang yang lewat dari arah sebaliknya kali!" Isnanto masih kesal.
"Itu karena hari ini hari buruh," sahutnya.
"Kyaaaa!" Isnanto malah mau pingsan. Capek ngeladeni cowok berhelm kaca melengkung warna cokelat transparan nan cupu itu. Dialah Muhammad Getar. Seorang laki-laki yang dilansirkan oleh Fema  untuk menggantikan posisinya. "Udah buruaaan cabut!"
Dan Isnanto pun terlambat.
***

Fema memandang Isnato dengan penuh antusias. Haris yang jadi ketua BEM menyalakan rokoknya. Lalu sesekali mengembuskan napas yang keluar bersamaan dengan kepulan asap yang membentuk huruf o.
"Jawab!" bentak Fema.
Isnanto tak mampu berkutik. Kali ini emang salahnya juga kenapa bisa lupa jadwal rapat.
"Pelis ampunin...," pinta Isnanto.
Fema matanya melirik ke pinggang Isnanto. Sebuah gundukan tengah ikat pinggangnya yang keren membuatnya terpukau. Garis lipatan celana Isnanto juga terlihat rapi. Berbeda dengan cowok-cowok lain yang datang menggunakan jeans. Bahkan ada juga yang memakai celana belel.
"Oke, posisi lo aman. Karena lo hari ini rapi amat." Fema berlalu tanpa permisi.
Isnanto langsung mangap tak bersuara. Ia bangga karena posisinya menjadi menteri di Departemen Kesenian tak tergantikan. Ia terselamatkan hanya karena dandanannya yang super rapi.

Comments

  1. Etdaaaah ... Gue galak amat? Maaf ya, Ji.

    ReplyDelete
  2. -_- isnanto sama febri. Biasanya akur... di sini bisa begini ya? haha... lanjut ah.

    ReplyDelete
  3. Siapakah Isnanto ini sebenarnya?
    Apakah adik tiri Markonet atau calon menantunya Barkumkum?
    Aku harap kamu gak lupa DL-nya, Tang.

    MINGGU.

    By the way, ini lucu. Dan aku hampir tertipu dengan gundukan tengah di pinggang Isnanto, aku pikir...aku pikir...aku pikir...ya aku pikir, itu yang di tengah, ya itu, iya itu.
    Hahhaaa :D

    ReplyDelete
  4. ahaha. kasihan si isnanto.
    btw. edot... loh ini kayaknya....ehmm.....ahhh

    itu bisa pas banget, hari buruh, kecelakaan, kebakaran sama polisi
    entah kenapa saya bisa merasakan kesialan itu dari sini

    ReplyDelete
  5. Jiaaah jadi penasaran style isnanto kayak gimana... bukannya malah awut awutan ya, abis apes banget...

    Eh ini kisah nyata? kalo ini episode 1 berarti masih ada lanjutanya... ditunggu...

    ReplyDelete
  6. Wah, si isnanto takut sama febri??? Masa anak seni cupu?

    ReplyDelete
  7. Wah, si isnanto takut sama febri??? Masa anak seni cupu?

    ReplyDelete
  8. udah gitu doang? haha cuma karena rapi amat? wkwkw

    ReplyDelete
  9. selamat, hehe.. Untung nggak cabut jabatannya, cuma karena rapi. Tapi memang orang dilihat dari penampilannya. Endingnya mantap :)

    ReplyDelete
  10. oke fine mulai besok gue mau ke kantor rapi,jadiwalopun telat gue nggakdipotong gaji...huehehehe..

    ehh rapi kan isnanto telat bukan karena 100 persen kesalahannya, tapi sopir angkot juga ikut andil dalam keterlambatan Isnanto...untung ya Isnanto anak yang rapi. wehehehe

    ReplyDelete
  11. Karena lagi rapi jadi ga jadi. Hahaha ....

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Kamus Bahasa Linggau