Review Buku: Gerbang Dialog Danur

Risa Saraswati

Judul: Gerbang Dialog DanurPenulis : Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Tahun terbit: Maret 2015
Cetakan: Pertama
Tebal: 236 halaman
ISBN : 978-602-220-150-0

  Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu. mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya…. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu—jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukan. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick—dua sahabat yang sering berkelahi—alunan lirih biola William, dan tak lupa; rengekan si Bungsu Janshen.

Jauh dari kehidupan “normal” adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan, semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih. yaitu kebersamaan selamanya. Kini aku mulai menyadari bahwa hidup ini bukan hanya milikku seorang….

Namaku Risa. Aku bisa melihat ‘mereka’.



Gerbang Dialog Danur merupakan repackaged dari buku berjudul Danur yang sebelumnya sudah diterbitkan oleh penerbit Bukune pada tahun 2011.

Buku ini berisikan memoar pribadi penulis. Dan melalui buku ini, Risa Sarasvati kakaknya Isyana Sarasvati  - penulis buku ini menceritakan tentang pengalamannya selama mengenal hantu-hantu Belanda sejak jaman dia kecil.

Ada Peter si anak remaja pendek yang sangat nakal, William si pemain biola yang pendiam dan bijaksana, Hans si pembuat kue unggul dan sahabatnya Hendrick sang primadona, juga si kecil Janshen yang bergigi ompong dan sangat cengeng. Kelimanya adalah hantu anak kecil keturunan Belanda yang tinggal bersama Risa dan keluarga, dalam rumah peninggalan zaman Belanda warisan neneknya. Diceritakan bahwa mereka berlima adalah korban pembantaian bangsa pendek bermata sipit, Nippon.

Namun, karena mengingkari janji yang secara tak sengaja dibuat, akhirnya Risa harus kehilangan kelima sahabatnya itu. Kejadian itu menyadarkan Risa bahwa dia sudah terlalu jauh bergaul dengan makhluk halus.

Selain bercerita tentang konflik pertemanannya dengan Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen; penulis juga menceritakan tentang kisah pertemuan lain. Tentang Samantha, Jane, Ardiah, Edwin, Teddy, Sarah, Elizabeth, sampai Kasih yang menemani alur hidup Risa sampai dia dewasa.

 Walau bergenre horor, tapi buku ini tidak menakut-nakuti para pembaca. Memang ada saat-saat yang membuat bulu kuduk berdiri tapi lebih membuat terhanyut akan kesedihan. Sebab walau mereka hantu, mereka dulunya sama seperti kita, mempunyai kisah yang suram, sedih, punya akhir yang tragis. Kalau kita sedang down pun kita butuh orang lain untuk curhat, menceritakan keluh kesh. Sama halnya dengan kita, mereka hanya ingin berbagi kisah, berbagi kesedihan dan siapa tahu ada yang bisa menolong mereka.


Comments

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber