TERIMAKASIH KAU TELAH MENDUA


Cowok itu diciptakan sebagai orang yang lihay untuk menggombal. Meskipun pada dasarnya nggak semua cowok jago ngegombal. Tapi minimal bisa ngegombal lah. Soalnya katanya Sule Prikitiew bukan cowok kalau nggak bisa ngegombal. Makanya aku mati-matian belajar dari buku PPKn. Sayangnya aku tidak berhasil. Yang ada aku malah nemuin kenyataan Presiden pertama Republik Indonesia dengan Wakilnya dipanggil dengan julukan Bung. Begitu saja, dan tidak ada yang istimewa. Lantas aku harus belajar menggombal dari siapa? Kalau rumput yang bergoyang aja sudah susah sekali dicari. Apa aku harus nanya ke langit tua? Kalau nggak didengar gimana?
Aku jadi mikir, gimana menakhlukan si Lailatul. Cewek pendek tapi pinter mengetuai. Lebih condong ke Bossy sih sebenarnya.  Dia ketua PMR. Tapi waktu tahu dia kelepek-kelepek sama aku,  itu artinya ada yang lebih pinter lagi. Uhuk. Aku, cowok dengan segudang prestasi yang masih di dalam mimpi. Berhasil membuat cewek cantik itu menggangguk saat kuajakin jadian.
Rasanya itu seperti magic comp, yang berhasil menyulap beras menjadi nasi. Ini luar biasa. Bahagianya itu, kayak lollipop. Indah, penuh warna, dan tentu saja manis. Aku pun tak kuasa untuk nyengir sepanjang hari. Biar kutegaskan sekali lagi, aku nyengir, bukan senyum. Dan kebiasaan ini selalu saja kulakukan acapkali Lailatul ada di depanku.
“Hai, Mas!” serunya.
Kubalas seraya nyengir.  “Hai, Dek!”
Sebuah panggilan yang klasik. Sehari pacaran, masih penjajakan hati. Dua hari pacaran, mulai ngikik-ngikikan. Tiga minggu pacaran, aku mulai terlihat alim. Pada waktu itu aku masih kelas dua SMA. Semester dua, dan udah mau ujian kenaikan kelas. Berhubung Lailatul juga aktif di ekskul Rohis, dia sering ngirim pesan instan, yang intinya memberikan perhatian yang membuat hatiku, nyeesss.
“Jangan lupa sholat.”
Aku tipe cowok penurut. Tiap dia menyuruhku makan, aku langsung makan. Dia nyuruh mandi, aku mandi. Dia ngajak ngelantur, ayo aja. Dia minta nikah. Oh tidak belum.
“Tujuh atau delapan tahun lagi ya,” jawabku.
Dia terpingkal. “Aku bakal nemenin kamu sampai tujuh atau delapan tahun mendatang.”
Lalu hening.
“Udah tutup aja teleponnya.”
“Nanti ah, aku masih pengin ngobrol. Apa yang kamu pengin banget dalam hidup ini, Mas?”
“Hidup senang, menikah sama kamu, lalu mati masuk surga. Cukup.”
Dia tampak meleleh kayak lilin. Lalu tak ada suara.
“Kenapa diam?” tanyaku.
“Mungkin aku bakalan senang banget, ya sekarang udah senang sih, tapi bakal lebih senang kalau bisa dengerin ucapan itu tujuh atau delapan tahun lagi.”
“Yakin?” Aku hanya menggodanya.
“Tentu dong. Aku nggak bisa hidup kalau nggak ada kamu.”
Sayangnya kalimat yang dia ucapkan terakhir itu adalah bohong.  Itu bohong, itu bohong, itu BOHONG. Aku sangat membenci orang yang suka berbohong. Dia  ternyata penipu yang ulung abis. Karena tepat di bulan ke empat, kita udahan.  Agak nggak jelas kenapa dia ngajak udahan. Padahal seminggu sebelumnya aku berhasil bikin gombalan yang paling ciamik seantero jagat raya.
“Benda apa yang paling kamu sukai banget di dunia ini?”
“Bunga,” dia menjawab cepat.
Lalu kuputuskan untuk membuat panggilan cinta.
Aku ingat kalau Presiden Soekarno aja bisa dipanggil Bung, kenapa aku tidak. Maka aku beberkan niat manisku ini kepadanya.
“Mulai sekarang kamu panggil aku Bung, dan kamu kupanggil Nga.” Aku sengaja menekankan pada penggalan kata Bung dan Nga.
Tunggu dulu, apa aku sudah terlihat jago menggombal? Jangan bohong. Aku pasti sudah jago menggombal. Kan aku belajar keras dari buku PPKn. Buktinya aku lihat dia senyum-senyum dengan wajah yang memerah  buah semangka.
Terakhir aku paham. Ternyata membuat panggilan cinta ternyata membuat hubunggan tidak langgeng. Ingat panggilan Pipi dan Mimi? Itu loh panggilan cinta antara Om Anang dan Tante Krisdayanti, mereka kan nggak langgeng. Lalu Kebo dan Kambing, yang dipakai Bang Raditya Dika sama pacar LDR-nya. Mereka pun tidak langgeng.
Selanjutnya diteruskan kepadaku, Bung dan Nga, yang juga bernasip serupa. Karena ternyata Lailatul memilih memacari Putra – cowok yang sudah kuanggap sahabat sejatiku.
Bagaimana tidak sakit kalau mereka saling cengar-cengir di depanku melulu?
Ya Allah, rasanya itu galau banget. Dada ini sesak. Dan kelopak mataku ini bersusah payah membendung air yang segera memancar. Tidak bisa dipungkiri, aku rasanya pengin banget nangis kencang sekencang air terjun Niagara lalu tak berhenti-henti.
Lailatul  sampai sekarang ternyata masih hidup.  Mana omongan yang katanya nggak bisa hidup tanpa aku? Aku putus asa sekali saat diputusin. Yang membuatku cemen, baru diputusin cewek aja, aku meriang. Malu-maluin banget. Tubuhku down melihat Lailatul dengan cowok lain.
Sia-sia aja pengorbananku mempelajari jurus menggombal di buku PPKn. Mengingat hal itu aku jadi pengin nangis lagi. Tapi setelah dipikir-pikir, nangis itu nggak ada gunanya. Allah sudah ngasih fitur yang namanya jodoh, dan jodoh itu nggak bakal ketukar. Layaknya magic comp yang dengan keajaibannya mengubah beras menjadi nasi, namun kalau tidak berjodoh dengan listrik, beras tersebut pun tetap saja menjadi beras.
Aku sudah salah memilih pacar. Tapi kata guru Olahragaku, bersyukurlah saat kamu salah, karena salah adalah awal dari kebenaran. Aku menggaruk kepalaku. Sampai sekarang kok aku bingung mesti belajar apa dari kalimat guruku itu.
Yang jelas, aku akhirnya tahu, kalau Lailatul bukan tulang rusukku. Aku tercipta bukan buat dia. Ah, aku jadi pengin nyanyi.
Terimakasih kau telah mendua, silakan pergi dari hidupku …


Comments

  1. Mhahahaaaa
    ini nyata atau fiksi kak?
    eh jangan salah, gombalan cwe lebih lumer dibanding cwo loh :p

    ReplyDelete
  2. Mungkin niat Lailatul jadian sama elo cuma untuk mendekati teman sejati lo hahaha

    ReplyDelete
  3. Kalau aku udah baca atau denger kata MENDUA aku suka bilang gini "Berterima kasihlah pada sang pencipta yang telah menunjukkan siapa dia sebenarnya" :)

    ReplyDelete
  4. setidaknya kita tau siapa dia.
    brarti kang kalah gombalan itu kang.

    ReplyDelete
  5. wong yang jadi tulang rusuk aja kadang membawa masalah, apalagi yang bukan/
    makanya santai aja, cari tulang rusuk yang lain

    ReplyDelete
  6. Buset julukannya Bung dan Nga. Ribet sumpah. Hahahaha.
    Bahasanya oke nih, keren. Oh iya, gue juga mau ikutan gratisan lo yak yang tanggal 3 juli In shaa Allah. Hahaha.

    ReplyDelete
  7. Buset. Pantes putus. Pabggilan sayangnya bung dan nga. Ihik ihik

    ReplyDelete
  8. Namanya islami banget, Di. Lailatul. Nama panjangnya Lailatul Qadar?

    Woahaha, nama panggilan itu bikin putus, ya?
    Oke, kalo nanti punya pacar, gue nggak mau bikin nama panggilan. :))

    ReplyDelete
  9. sabar-sabar, mungkin dia bukan yang terbaik untuk kamu :D hihi

    ReplyDelete
  10. ngga bisa hidup kalau ngga ada kamu .. bullshit banget eaa :D wkwkwk

    ReplyDelete
  11. Ciye. Jadi kemaren kamu jadian sama Labil.

    ReplyDelete
  12. Bikin artikel buat Bang Ipul dong. "TERIMAKASIH KAU TELAH MENDUDA".

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk