Skip to main content

Review Buku: 3 Koplak Mengejar Cinta

Ada tiga tokoh, Ardhan, Pasai dan Ibam. Diceritakan dengan sudut pandang orang ke satu, dalam hal ini adalah Ardhan, namun kayaknya tokoh yang lebih sering diceritain malah Ibam. Mereka punya geng koplak bersama Pasai yang naksir cewek yang sama. Mengejar cinta di sini ternyata ngejar cintanya guru agama biar naik kelas. Jadi mereka harus bikin diary. Serunya waktu Ardhan kehilangan bukunya, lalu dia harus berpetualang naik kereta api, sampai dapat konflik baru karena harus nolongin kakek yang kejambretan. Drama persahabatannya gak terlalu banyak tapi sempat membuatku tercenung. Aduh, soswit gimana lah gitu.

Koplak, ya namanya koplak otomatis konyol. Ada kekonyolan waktu mereka harus bolos demi nonton film. Tapi keabisan gegara tiketnya diborong orang dan mereka mesti nonton film yang tayang jam dua. Jadi ngapain mereka bolos kalau sepulang sekolah masih bisa nonton? Nah, itulah koplaknya mereka.

Ah tapi penulisnya juga koplak sih menurut saya. Gak mungkin penulisnya pendiem. Paling juga koplak. Kayak misalnya dia nyeritain tentang tulisan kuis bertirai, katanya deal or no deal. Itu sengaja dibikin biar koplak kan? Harusnya kuis yang buka tirai itu namanya kuis Family Seratus. Alach, makin ngaco lagi.

Sayangnya di ujung penulis bikin keterangan kalau si tokoh ada yang pake kacamata. Padahal sebelumnya kayaknya sih gak ada embel-embel yang bilang kalau tokoh itu pake kacamata. Semoga bukan karena saya yang kurang teliti sih.  Eh ternyata ada di perkenalan. Berarti emang saya nggak teliti.

Terus terang, waktu baca buku ini sebenernya saya terfokus buat nyari di mana letak sisi islaminya. Ada niatan pengen nulis islami tapi keislaman saya beneran dipertanyakan. Malah waktu saya update umpan di BBM juga sempat diketawain An Hasibuan.

Seperti buku-buku sebelumnya, Haris di sini juga nulis lucu. Baca tulisan lucu dia? Udah biasa saya mah. Kadang waktu chat juga udah lucu. Jadi kalau kata Bibi ini cowok orangnya pendiem kayaknya gak deh bi. Wong koplak begini. Masa di WA dia ngaku biseksual gegara terinspirasi dari Raditya Dika. Koplak kan? Jadi pas baca buku ini cukup nyengir aja saya. Kadang juga mikir sebentar, terus ngomong, ooh. Eh kadang pas gak fokus tiba-tiba nemuin yang lucu. Terpaksa ketawa. Celingukan dulu kiri kanan, ada yang curiga saya sakit jiwa atau gak. Baru akhirnya saya paham, ada nilai-nilai kebaikan dalam tiap bab walau samar-samar, dan tentu saja nilai keagaamaannya jelas ada. Karena di buku ini ada tokoh yang jadi guru Agamanya.

Nama guru-gurunya unik-unik. Ada ibu Kabisat, ada Ibu Prasasti, kok pak Hadi gak ada yah, padahal kata bapak saya nama Hadi ini bagus banget. Dah lah saya mah apa atuh. #ngakak 

Jadi buat yang pengen bacaan, tapi bingung mau baca apa. Mending beli ini. Serius!

Btw, tadi waktu online FB kata  Editornya bakalan ada sikuelnya. saya ditanya mau nyumbang ide gak. Jelas saya mau dong. Ide saya  begini: 3 tokoh itu ikutan lomba dai di tivi dan terkenal. 

3 Koplak Mengejar Cinta

Comments

Popular posts from this blog

#GagasDebut GiveAway | Novel Selamat Datang Cinta by @OdetRahma

Kenapa buku ini harus dimiliki?



Simak Review dan Obrolan saya dengan Penulis Selamat Datang Cinta di postingan saya sebelumnya. Atau, silakan simak review dari Mpok Wuri berikut ini. ENTER!

Blog Review & Give Away Semangkuk Rendang di Negeri Paman Sam

Semangkuk Rendang di Negeri Paman Sam ini adalah peraih pemenang pertama dalam lomba Young Adult Locality Novel 2015 yang diselenggarakan oleh Universal Nikko. Dari judul kita bisa menemukan kata Rendang, artinya nuansa Minang sudah dapat ditebak, jadi wajar jika kita menemukan nuansa Minang yang kental di seluruh adegan. Termasuk penggunaan bahasa yang dipakai penulis, budayanya, adat, tapi jangan risau sodara-sodara, karena selalu ada catatan kaki di setiap dialog yang berbahasa Minang.


Bercerita tentang jungkir balik dunia Adit.  Jungkir balik dunia Adit ini sangat rumit.  Ibunya meninggal saat  dia melahirkan Hanif, adiknya. Kemudian disusul dengan kepergian ayahnya akibat kecelakaan saat kerja. Belum lagi sang adik punya penyakit penurunan fungsi otak.  Pokoknya penuh drama banget. Itu juga masih ditambah pula dengan keadaan hidup yang serba pas-pasan, dikisahkan bahwa Adit mesti membiayai  kuliahnya senditi, makin menyedihkan waktu tau adiknya di kampung ditinggal sendiri karena n…