Pangeran Cinta: Sejarah Tulisan Wortel

Salam Wortel!
Pemenang Miss Indonesia, Biss Key Malam Ini 17 Februari 2015, Bisskey malam ini
Mungkin tadinya lo pikir gue adalah Pak Mario Teguh kloningan KW 1 yang akan menyerukan dua kata, yaitu: Salam Super! dengan intonasi yang pas dan lantang, seraya mengacungkan jari telunjuk.

Lo salah.

Sekali lagi gue jelasin kalau gue bukanlah Pengisi Acara Golden Ways itu. Gue bukanlah Om-om yang nyaris botak, karena kebanyakan ngasih motivasi untuk gue, orang lain, dan alam di sekitar kita. Lalu siapa gue ini? Gue sebenarnya adalah Pangeran. Ijinkan gue ngakak sebentar saja.


Pangeran
Perkenalkan, nama gue Wortel. Setidaknya itu nama beken yang selalu gue pakai di mana pun dan kapanpun gue berada. Gue nggak sedang mabuk. Tapi begitulah gue biasa disapa, and I like it. 

Seseorang pernah nanya ke gue. "Dari sekian banyak kata-kata indah yang bertaburan di kamus, kenapa sih lo pake nama Wortel? Lo lupa, kalau nama itu adalah doa?" tanyanya.

Gue mencelos, kemudian tersenyum simpul.

"Banyak hal. Ah, apalah arti sebuah nama. Ada banyak yang gue pikirin, hingga akhirnya gue memilih wortel. Salah satunya adalah, dari bentuk wortel yang unik. Gue pengen jadi Pangeran tampan yang berkarakter. Karakter yang seperti apa?" Gue menggantungkan suara.

Kemudian gue mengambil sebuah wortel dari dalam kresek hasil belanja nyokap di pasar tadi pagi, lantas menyodorkan ke orang itu.

"Coba lo pegang, apa yang lo rasain?" tanya gue kala itu.

"Keras!" jawabnya cepat.

"Nah, itu dia. Gue mau jadi Pangeran yang berkarakter keras. Dalam hal ini gue mengartikan keras untuk segala hal. Berjuang keras, berjiwa yang keras, pokoknya semuanya keras. Dan gue bisa memastikan kalau gue nggak perlu pergi ke Mak Erot untuk memperkeras karakter gue ini."

Orang itu pun tercenung. Dia terlihat gelisah dan menggaruk kepalanya.

"Gue mulai bingung. Lo lagi ngomongin apa sih?"

"Biar gue ceritain, tentang sejarah hidup gue. Sejak lahir gue punya nama, bukan Wortel. Tapi nama yang lain. Nama itu bagus. Hasil buatan orangtua gue.  Nama Wortel gue pake sebagai nama beken. Tadinya gue tidak menggunakan nama ini. Gue pernah pake nama Telur, karena gue suka makan telur. Tapi setelah gue pikir-pikir, hidup ini kejam, sekejam air yang mendidih. Telur itu cair, lo tahu nggak apa yang terjadi setelah masuk ke dalam air yang mendidih?"

"Telur itu matang dan mengeras," jawab orang itu.

"Lo bener," kata gue. Gue menepuk pundaknya sambil menganggukkan kepala. "Awalnya gue emang bangga dengan itu. Karena perubahan yang terjadi dari lembek menjadi keras itu mengartikan kalau gue adalah cowok yang tangguh. Gue merasa kuat. Tapi gue pikir-pikir, justru itu malah menjadi sebuah kesombongan. Gue kan Pangeran. Gue nggak mau jadi pangeran yang sombong. Di situ gue mulai merasa sedih. Sampai akhirnya gue menemukan wortel, seperti yang gue sebutin sebelumnya, kalau gue pengen jadi Pangeran, makanya gue memutuskan untuk menjadi Pangeran Wortel. Kecuali kalau gue lagi berada di tengah cewek-cewek, gue akan jadi Pangeran Cinta." Gue terbahak sebentar.

"Tapi kan lo bilang tadi hidup kayak air mendidih. Bukannya wortel malah akan jadi lembek setelah terkena air panas kan?" Orang itu pun protes.

"Iya emang bener. Analisa lo nggak salah. Wortel akan lunak kalau direbus. Justru begitulah yang gue inginkan. Setelah menempuh cobaan hidup yang kejamnya kayak air mendidih tadi, gue akan mencoba untuk lunak. Melunakkan hati gue untuk menjadi jiwa yang selalu rendah hati. Yang jelas gue pengen menjadi Pangeran yang baik hati. Semoga lo ngerti. Ohya, lo percaya kan ada malaikat yang mencatat amal baik dan buruk kita? Mungkin gue terinspirasi dari para malaikat. Gue sekarang udah nemu blog sebagai media tempat mencatat. Gue pengen jadi Pangeran yang berguna. Makan gue akan mencatat kebaikan-kebaikan untuk orang-orang di seluruh dunia, ke dalam blog. Dan blog itu akan gue namai dengan sebutan Tulisan Wortel. Gimana menurut lo?"

Orang itu mengacungkan dua jempolnya seraca berkata. "Semoga terkabul. Aamiin. Itu adalah nama yang catchy, Pangeran!"


Quote: Apapun kedudukan kita, sebaiknya kita tetap down to the earth. Belajar dari ilmu padi, yang makin berisi makin juga merunduk. Jadilah jiwa yang selalu rendah hati, dan tetaplah selalu menebar benih-benih kebaikan.

***





Comments

  1. Moga menang tuh GA Si Pangeran Wortelnya, kalau kurang yakin menang, mending lo ikut GA gue aja yang bisa nambah Ketceh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya moga-moga. Ini cuman ikut ngeramein aja. Menang kalah belakangan lah. GA lo bayar, males ah #ngakak

      Delete
  2. Keren juga karakter Pangeran dan perumpamaan yang dibuat. Gue gak nyangka aja. "Bagus-bagus."

    Terima kasih atas partisipasinya bro.

    Tungguin Pengumumannya, ya. :)

    ReplyDelete
  3. yaampun.. itu bekas lipstik :P

    ReplyDelete
  4. Good luck!

    Aku mau jadi pangeran kentang aja deh
    luarnya keras, item, bulukan, jelek.
    Dalemnya lembut, kuning, enak banget

    hi hi hi hi

    ReplyDelete
  5. Gila!!!
    Gak nyangka bisa nulis sewaras ini, aku salut.

    Padahal kalau bisa lebih peka, megang wortel bisa ngayal kemana-mana.
    Iya si, merunduk bukan cuma nyari uang yang jatuh. Tapi emang gak jadi orang yang sombong.

    Good luck Bro!!

    ReplyDelete
  6. Boleh juga perumpamaannya. Bagus. :D

    Btw, itu gambar yang di atas, gambar ahmad dani bukan sih? Hahahaha. Banyak cap bibir gitu. Itu cap bibir apa lintah? -_-

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber