Wawancara bareng @DionSagirang



WawanHadi bareng Dion Sagirang
Setting; Pantai Kuta
Dion lagi berjemur sambil minum jus jeruk
Hadi pake rompi warna gading, bawa kamera dan BB buat ngerekam.

Hadi  : Gimana perasaan lo novel ketiga ini?
Dion    : Gini deh, lo nemenin istri lo yang lagi lahiran. Terus sebelumnya lo udah USG dan calon anak lo itu cowok. Sebelumnya dua anak lo cewek dan lo kurang antusias karena anak cewek nggak bisa lo bawa jumatan. Gimana perasaan lo?
Hadi  : Sebelumnya lo mimpi apa sih?
Dion    : Kaya raya, enggak salah dong? Tapi enggak pake mimpi segala sih, menulis bagi gue udah kayak kebutuhan psikologis yang bakal ngerasa nyesel semaleman kalau sampai sehari enggak nulis. Dalam bentuk apa pun itu, meski nulis di tembok jalanan.
Hadi  : Ada gak orang yang berperan penting dalam pembuatan novel ini?
Dion    : Ada lah... ada nggak anak yang lahir tanpa ibu bapak—selain Isa Almasih?—tentu saja editor yang ngasih deadline, Kak Riana Dewi yang jadi First Readersekaligus ngoreksi ini-itu dan tentu saja orangtua gue yan
g udah pengertian banget. Temen-temen juga penting bagi gue.
Hadi  : Apa sih judulnya, lo mimpi apa sih?
Dion    : God... jadi lo wawancara dan belum tahu judul buku yang mau gue release bulan ini? Yakin...? *buka kacamata item* Judulnya Beautiful Regret... versi gue sih artinya Penyesalan yang Indah. Emang ada...? Ya entar lo baca aja deh bukunya terus lo bakal tahu jawabannya.
Hadi  : Cita-cita lo waktu kecil apa sih?
Dion    : jujur gue kayaknya enggak punya cita-cita deh. Bagi gue, jadi pilot, dokter, guru, dll itu mainstream banget ya, jadi selain waktu kecil gue udah gantengbawaan sejak lahir, gue enggak punya kelebihan lainnya, termasuk punya mimpi selangit.
Hadi  : Lo kudu banyak cerita tentang proses pembuatan tuh novel, deh. Apa yang ada di pikiran lo dari awal sampe akhir?
Dion    : Ada di posting blog gratisan gue, lo entar link aja biar pembaca lo juga maen ke sana. Jadi, pas awal-awal gue pengin memperlihatkan bahwa hidup dalam kebencian hanya akan menciptakan sebuah penyesalan yang perih. Tapi kalau kita berusaha buat memaafkan diri sendiri, kayaknya enggak bakal ada kebencian, dan juga penyesalan. Gue nulis Beautiful Regret selama tiga bulan dan puji syukur, udah mau terbit lagi. Lengkapnya, tengok di blog gue aja.
Hadi  : Ciye, sekarang novelis ya. Senang dengan julukan tersebut?
Dion    : ciye... lo sekarang jadi orang, ya? Seneng dengan sebutan itu? Gue seneng kalau ada yang baca dan suka karya gue. Itu sih yang paling penting, terlepas siapa gue sekarang.
Hadi  : Sebutin deh, berapa cangkir kopi atau berapa kilo camilan yang lo abis Cuma buat nemenin lo nulis? Kayaknya lo gendutan
Dion   : Sehari dua kali, pagi dan malam. Gue sensitif banget sama kafein, misal kalau semalem abis dua gelas, yakin, lo dan yang lainnya bakal gue teror di whatsapp dan BBM karena gue enggak bisa tidur dan gue kesepian. Gue enggak bisa mikir tanpa kopi, tapi enggak bisa tidur karena enggak ada cewek (?) Camilan...? gue enggak suka ngemil. Cukup kopi aja, rokok kali-kali, sisanya enggak. Dan gue benci akuin BB gue nambah. Makanya sekarang lagi program, work out di rumah aja dulu, biar badan gue kayak Taylor Lautner lah.
Hadi  : Apa reaksi lo kalau ditanya kapan kawin? Atau udah?
Dion    : Kalau ditanya, kapan nikahin anak gadis orang? Entar lah kalau gue udah dewasa finansial dan pola pikir. Gitu kan jawaban Sophie Mueller juga, padahal doi udah punya Eva Lesmana yang seumuran gue.
Hadi  : Berapa kali revisi sebelum naik cetak?
Dion    : gue menantikan pertanyaan ini, lo lama-lama kayak infotainment gosip yang ngelantur dari tema obrolan. Kalau revisi enggak ada sih. Paling koreksi penyesuaian standar baku dengan penerbit. Kan beda penerbit beda juga kebijakannya.
Hadi  : Yang ini gendre apa?
Dion    : Genre, bro! Lo orang Palembang tapi medok ya... haha.... Yang ini masih romance, sih, romance dengan tempo romance. Bersetting Korea Selatan dan bercerita tentang seorang pelukis muda dan seorang penyanyi.
Hadi  : Ada enggak gendre yang pengin banget lo tulis tapi belum pernah kesampean?
Dion    : Genre, bro... G-E-N-R-E. Apa ya? Misteri paling... atau genre dewasa yang hot... huhh...
Hadi  : Kayaknya gue pengin nulis teenlit nih, menurut lo apa aja yang perlu gue siapin?
Dion    : menurut lo, apa aja yang dibutuhin koki buat masak? Yang pasti, lo harus rajin baca novel teenlit, bukan buku kamasutra. Dan komitmen sih kalau menurut gue.
Hadi  : Lo udah bisa disebut sukses karena lo usaha, gitu kan? Iya ini pertanyaan.
Dion    : Sukses itu bertahap, kalau sukses menerbitkan buku, bisa dibilang ya. Tapi sukses lainnya, masih dicagapai. Doain aja...
Hadi  : ceritain pengalaman tergetir yang pernah lo alamin?
Dion    : Getir... enggak ada deh kayaknya. Ya, kalau misal dikhianati cewek bisa masuk kegetiran, berarti itu pengalaman getir.
Hadi  : Pernah nangis gegara cewek?
Dion    : Gue benci ngakuin ini. Tapi ya, begitulah. Air mata kan gunanya buat dibuang, bukan buat ditabung.
Hadi  : Pick one, cowok atau cewek?
Dion    : menurut lo?
Hadi  : pesan apa yang mau lo sampaikan di buku baru lo?
Dion    : Apa ya...? ada di halaman awal-awal yang bunyinya gini, “
Novel ini saya persembahkan kepada orang-orang yang pernah hidup dalam penyesalan, kemudian terlampau sulit membuka hati untuk sekadar mengakui perasaannya.”
Hadi  : Apa rencana lo ke depan? Novel atau skenario?
Dion    : Lulus kuliah kali ya, orangtua gue lebih mengharapkan gue pake toga dan tersenyum ala iklan pasta gigi di foto keluarga deh, ketimbang mengharapkan calon mantu secakep Alexia Fast gitu. Atau Dion junior yang cakepnya enggak bakal jauh-jauh amat dari ayahnya.
Hadi  : Gimana cara lo berpromosi nantinya?
Dion    : Promosi medsos paling, sisanya, gue biasa promosi tikus. Tahu-tahu orang-orang udah beli buku gue gitu. Enggak magis, hanya strategi sendiri aja.
Hadi  : pasti kenal nama-nama Alvi Syahrin, Alfian Danier, Haris Firmansyah, Koko Ferdi, Kamal Agusta, oh iya yang mirip Vivi itu Hardy Zhu, Vivi juga, Aida dll, mereka kan bisa dibilang saingan. Apa pendapat lo?
Dion    : Mereka siapa, ya? Haha... ya, sedikit banyak kenal lah. Malah beberapa diantaranya suka sharing soal kepenulisan. Pesaing? Lo kencing...? haha... selama ini gue anggap mereka pemacu buat berkarya. Jadi kalau mereka release buku, gue jadi semangat buat ngedit. Gitu aja sih.
Hadi  : gue udah cocok jadi host di sebuah acara talkshow belum sih?
Dion    : Lebih cocok jadi juru tulis di kantor camat, sih. Pick one; juru tulis atau infotainment gosip?
Hadi  : pernah diundang di radio-radio lokal gitu belum sih lo? Ceritain coba
Dion    : Ada... dan untuk novel ini, udah ada schedule buat promo di radio-radio di Bandung. Tunggu aja ya entar, semoga terbius dengan suara gue entar.
Hadi  : nikmat nggak jadi penulis?
Dion    : Yakin itu pertanyaan? Yang pasti, lo ngejalanin apa yang lo suka? Sampe mati kayaknya nggak bakalan bosen.
Hadi  : kalau misalnya besok lo mati, kalimat apa yang bakal lo bagi buat orang-orang supaya bisa nerusin perjuangan lo menjadi penulis?
Dion    : Sampai jumpa di surga... jadi penulis, ya, royaltinya lumayan bisa beli apartemen di Gateway lho... follow twitter gue juga ya, @dionsagirang


Comments

  1. ini dialog imajiner atau nyata Mas?

    ReplyDelete
  2. wah, lama gak maen ke sini, udah jadi presenter aja nih si Akang! :)

    ReplyDelete
  3. Gw suka jawaban yang nikmat gak jadi penulis? :)

    ReplyDelete
  4. mas boleh tau|
    share dong cara ngajuin wanwancara kaya gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. tinggal hubungin @dionsagirang aja via twitter mas

      Delete
  5. Anonymous31/8/14 06:59

    Genuinely when someone doesn't understand then its up
    to other visitors that they will help, so hewre iit occurs.



    Here is my blog ... Las Vegas Washer Service

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk