Ngobrol Bareng Odet Rahmawati Penulis Selamat Datang Cinta di #GagasDebut


Haloooo ...

Sebelumnya saya mau ngucapin selamat ulang tahun dulu buat Neng Odet  Rahma, yang usianya kini genap menjadi dua puluh empat. Emang udah banyak bingit, tapi tetep cantik kok. Eh?

Ini adalah kegiatan kedua selama #GagasDebut bareng Neng Odet, setelah sebelumnya nge-review buku.

Saat saya tanyai tentang kegiatan ini, tentang hal yang disukainya dan tidak disukai dari Gagas Debut, Neng Odet menyebut begini,
"Sangat menarik. Saya percaya pihak gagas memilih orang-orang yang tepat dan memang memiliki kemampuan dibidangnya masing-masing. Dan tentu, acara ini sangat membantu teman-teman penulis dengan karya debutnya agar semakin dikenal oleh pembaca. Saya pribadi berterimakasih banyak untuk waktu dan kesediaan diri para host yang mengulas banyak hal karya debut saya. Salah satunya kamu."
Oke, sekali lagi selamat ulang tahun buat Neng Odet. Semoga aman, jaya, makmur dan sejahtera. Aamiin.

***


Jadi sebagai hadiah ulang tahunnya ke 24, saya udah nyiapin  24 pertanyaan untuk beliau. Hehhe

Buat pengawalan nih Neng ya, tolong kenalin diri dulu dong, sekadar say hai, atau sebutin profil singkat gitu

Hai, saya Odet Rahmawati. Lahir dan menetap di Kota Bandung. Suka membaca novel, terutama genre romance. Senang mendengarkan musik apa saja, yang penting enak di telinga. Suka nonton film romantic, sekalian riset buat nulis, hehe. Saya juga suka ngopi, meski hanya di rumah. Oia, saya calon masa depannya Dimas Anggara, haha. Sudah cukup?
Neng Odet yang enggak codet.

Kalau boleh tahu, Odet Rahmawati itu nama asli atau nama pena?

Odet itu nama pena, panggilan sayang dari teman-teman dan keluarga. Saya enggak paham alasan utama mereka memanggil saya seperti itu. Tapi yang jelas,saya enggak codet ya. :P

Neng Odet sekarang sibuknya apa?

Hanya belajar menulis, sambil menuntaskan naskah untuk novel ke dua. Dan paling, banyak membaca.

Mulai menulis sejak kapan, Neng?

Suka nulis sejak pertengahan 2011 di facebook waktu dulu. Tapi, salah satu teman menyarankan saya membuat blog. Akhirnya, saya senang menulis sampai sekarang.

Apa sih yang memotivasi Neng Odet untuk selalu menulis?

Hm, karena saya merasa masih banyak hal yang bisa ditulis. Atau ketika saya selesai membaca sebuah buku, saya sering merasa ada sudurt pandang lain yang bisa saya gambarkan dengan cerita tersebut. Banyak kejadian atau perasaan sama yang bisa dirasakan oleh manusia, tapi cara menyikapi dan menghadapinya pasti berbeda, Begitu kira-kira kalau diaplikasikan ketulisan. Katanya, menulis enggak harus melulu tentang hal baru, tapi menulis dari sudut pandang baru pun menyenangkan.

Kalau boleh tahu nih, ada nggak pantangan Neng Odet saat menulis?


Err, pertanyaan ini lagi. Waktu talk show gagas debut di fx sudirman, ada juga yang menanyakan hal ini. Dan semua penulis enggak ada yang jawab. Pantangan apa ya, oh mungkin pantang menyerah sebelum naskah saya selesai. Pantang menyerah kalau naskah saya butuh banyak revisi. Hehe.

Gimana cara Neng  ngatasin writers block?

Kalau saya sih berhenti nulis dulu, mengendapkan draft yang sudah ada beberapa waktu. Kemudian, saya menyenangkan diri dengan membaca atau menonton film. Nanti setelah merasa perasaan saya lebih baik, semangat menulis juga bisa balik lebih banyak dari sebelumnya.
Mungkin hanya butuh jeda, istirahat. Tapi harus tetap ingat deadline, ya. Biar tulisannya segera beres.

Satu lagi, ngobrol sama temen. Biasanya banyak membantu memecahkan masalah yang bikin nulis jadi mandeg.


Sebenernya Neng, yang bener itu Jomlo atau Jomblo sih? Kok di buku nulisnya Jomlo nggak pake b ...
Saya cek di KBBI sih, jomlo. Tapi enggak tahu kalau sudah ada perubahan.

Btw, Neng Odet udah punya pacar belum? #Eh?
Pertanyaan macam apa ini? HAHA.


Lanjut ke buku ya Neng, Selamat Datang Cinta (SDC) dibuat berapa lama?
Nulis naskah awal sampai revisi dua bulan.

Kenapa kok memilih untuk bercerita tentang persahabatan yang berubah jadi cinta untuk debut pertamanya?

Temanya sendiri sebenarnya kehilangan. Bagaimana menghadapi sebuah kehilangan dalam hidup. Enggak sedikit bukan, anak-anak korban ketidaknyamanan dalam rumah menjadikan diri mereka semakin rusak, dan lain-lain. Saya ingin memberikan gambaran sederhana, bahwa ketidaknyamanan dalam rumah ataupun sakit hati karena putus cinta. Enggak melulu harus disikapi dengan tindakan buruk. Tapi bisa juga dijadikan motivasi untuk menjadi lebih baik.

Kalau untuk sahabat jadi cinta itu masukan dari editor. Supaya ceritanya lebih manis, hehe. Lagian kebanyakan ( meski enggak semua ) persahabatan antara lawan jenis kan biasanya suka ada yang naksir salah satunya. Iya, kan? :P terus kenapa enggak mau pacaran sama sahabat sejak kecil? Kan enak udah saling mengenal. Saya hanya mewakili kisah mereka yang mengalami hal sama saja. Haha.

Ceritain dong kejadian lucu/seru yang Neng Odet alamin saat menulis SDC?

Apa, ya. Serunya adalah saya banyak mendapatkan masukan baik dari editor. Sambutan teman-teman di penerbit pun sangat baik. Terus pas menulis, atau lebih tepatnya pas revisi. Saya harus bisa mengatur waktu. Dalam dua hari, kadang saya harus menyelesaikan revisinya. Padahal, saya biasa tidur pukul 8 malam. Alhasil, saya pernah sampai flu karena bedagang pas menulis.

Apa yang sebenarnya Neng Odet mau sampein dari buku SDC?
Sudah di sampaikan di pertanyaan sebelumnya. Intinya, kehilangan, sebesar apa pun itu, harus tetap disyukuri dan dihadapi. Sebab, Tuhan tidak pernah memberikan apa pun yang tidak sanggup dijalani umatNya. Begitupun dengan kehilangan. Jadi, hadapi saja. Seperti covernya yang menggambarkan sepasang kaki. Kaki-kaki itu diciptakan untuk melangkah ke masa depan. Bukan sebaliknya. Cailah, mari berpindah hati. Dari rasa kecewa, benci, maupun kehilangan.

Kalau boleh tahu, gimana reaksi neng Odet kalau dapet penilaian buruk dai pembaca ?
Saya terkejut! *melebarkan mata sambil berurai air mata* hehe. Enggak sih, seneng-seneng aja. Pendapat apa pun, kalau memang membangun saya terima dengan senang hati. Apalagi kalau pendapatnya disertai dengan alasan yang jelas. Itu malah bikin saya belajar dan bisa memperbaiki kekurangan itu pada karya tulis saya yang berikutnya.

Ada nggak sih kesulitan yang dialami saat nulis SDC?
Terhindar dari typo. Saya sudah berusaha sekeras mungkin, ternyata masih ada aja yang kelewatan. Hehe.


Oh iya, berapa referensi buku yang Neng kumpulin untuk nyelesain SDC?
Berapa ya, saya sih seneng baca banyak buku. Paling untuk persahabatan Alona sama Bastian, saya terinspirasi sama Camar Biru karya Nilam Suri.
Buku ini akan di review oleh Rido dan Epphy  di blognya 15 Nopember nanti.

Boleh berbagi cerita nggak Neng, tentang proses pembuatan buku SDC sampai ke penerbit GagasMedia?
Kalau proses pengiriman sampai diterbitkan nyaris satu tahun. Saya kirim bulan Desember 2012. Kemudian mendapat e-mail dari redaksi gagas media pertengahan Januari 2013, dan februari dihubungi oleh editor. Revisi besar sampai bulan Juli. Selebihnya menunggu cover, judul, dan lain-lain.

Bagian mana sih yang paling Neng suka dan nggak suka pada SDC?

Karena saya penulisnya, saya suka semuanya. :P

Nah, harapan untuk kedepannya apa nih?
Sederhana, saya masih diberikan kemampuan untuk tetap menulis dan menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi.

 Kasih ulasan dikit dong Neng, katanya mau bikin novel lagi ya ...
Masih tentang cinta. Cinta yang hanya sementara. Cinta yang bisa bertahan lama, namun tidak bisa selamanya. Hihihiy.

Ada nggak satu cerita yang pengen Neng tulis, tapi belum tercapai?
Pengin belajar menulis dongeng dan fantasi. Juga horor.

Pertanyaan titipan nih, Neng, dapet salam dari Dion Sagirang. Btw, emang kenal? Katanya, mau nggak barter buku? *aduh, yang ini nggak dijawab juga nggak papa sebenarnya.
Enggak, haha. Salam kembali. Boleh, sama buku apa? halah.


Sedikit petuah dong Neng, buat penulis pemula biar pede ngirim naskah ke GagasMedia ...
Wah, Gagas Media sih penerbit yang sangat terbuka menurut saya. Jadi kalau mau kirim naskah ke Gagas Media, kirim saja. Yang harus lebih diperhatikan mungkin gimana caranya kamu menarik perhatian pihak penerbit. Menulis yang baik, rapi, ide sederhana tapi penyamapaiannya bagus. Biasanya banyak disukai pembaca juga.

Terakhir ya, Neng, arti menulis menurut Neng Odet apa?
Menulis itu sebuah kegiatan yang menyenangkan buat saya. Enggak pernah membosankan. 


***


Nah, itu tadi jawabans dari Neng Odet selaku atuhor Selamat Datang Cinta yang kali ini saya debutin.  Dan di badan email, Neng Odet menyampaikan tulisan seperti ini:
 

Saya sudah baca review kamu. Saya boleh jawab beberapa kebingunganmu?


a. Untuk font yang berubah-ubah. Kalau yang kamu maksud dibagian flashback, memang sengaja. Untuk membedakan adegan masa sekarang dan masa lalu. Hehe.


b. Untuk POV 1 di akhir, itu sebenarnya Alona yang sedang membatin. Kamu boleh cek ulang, di sana hanya Alona yang mengungkapkan perasannya. Bastian tidak. Kalau untuk tidak dibuat italic, saya kurang paham pertimbangan penerbit seperti apa. Tapi kalau dari saya memang suka dibuat seperti itu. Sebab di akhir. Namun, jika membuat pembaca bingung, saya akan memperbaiki di novel selanjutnya.

c. Typo, oh sungguh saya benci dia sebenarnya hahaha. Tapi, saya dan pihak editor sudah bekerja keras untuk meneliti semua itu. Sayang, masih terlewat juga. Semoga typo di novel saya masih bisa dimaklumi dan tidak membuat bingung.


Terima kasih Hadi. Sukses untukmu.


Salam,
 Okelah, sukses juga untukmu, Neng Odet. Semoga apa yang menjadi harapannya segera tercapai. Aamiin ...

Salim

Comments

  1. Cantik yah, ahaha...

    Yang disayangkan sih typo nya itu. Sukses deh semoga novel kedua lebih baik. Jadi tertarik ngirim naskah ke Gagas Media juga, hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk