#GagasDebut | Cerita-cerita dengan @ErniAladjai - @GagasMedia

Haloooo.

Udah baca review KEI yang kemanrin? Kalau belum silakan balik atau klik di sini biar gampang (Review KEI).

Ini masih bagian #GagasDebut Virtual Book Tour, kerjasama antara GagasMedia dengan 15 Blogger. Makin ke sini, saya makin menyukai tugas saya sebagai HOST. Secara tidak langsung, minta baca saya juga membaik. Karena saya dituntut untuk menyelesaikan sebuah buku, untuk direview, dan ternyata membaca itu seru.

Kalau kemarin bagian review buku, kali ini jadwalnya interview bareng kak Erni Aladjai. Tapi kayaknya nggak pantes kalau disebut interview. Kata Kak Erni, ini namanya cerita-cerita. Baiklah, kita sebut saja ini cerita-cerita dengan Erni Aladjai.


Siapasih Erni Aladjai? Apakah keturunan India? Apa cerita seru yang dialami selama menggarap KEI?  
Semua itu akan terjawab sekarang.
Cerita-cerita, dimulai! 
*** 

Tolong dong kenalin diri Kakak dulu, sedikit profil singkat barang kali. Atau sekadar say hi ...


Hai Hadi, senang berkenalan denganmu, selamat sudah menjadi Host di Gagas Debut. Mulai dari mana ya… Saya lahir di Banggai Laut, satu pulau kecil perbatasan Maluku dan ujung Sulawesi Tengah. Menghabiskan masa kanak-kanak di sana. Di usia 15 tahun saya meninggalkan rumah, keluarga, karena saya melanjutkan sekolah di kota lain. Orang tua saya di sana, berkebun. Papa saya seorang penjaga sekolah. Ibu saya seorang penjahit pakaian. Ibu saya dulu seorang pemain drama. Hahahaha, jadi kepanjangan.

Oh iya, Erni Aladjai itu emang beneran nama asli, atau sekedar nama pena Kak?

Itu nama asli saya, dek.

 Kalau boleh tahu, sejak kapan sih Kak mulai suka menulis?

Suka nulis waktu SD. Waktu SD, saya senang membaca buku. Sering pinjam buku di perpustakaan sekolah, kemudian tak dikembalikan (Ini seperti mencuri ya?), saya sengaja tidak mengembalikan karena ingin punya perpustakaan di kamar, satu waktu bapak saya dipanggil kepala sekolah. Bapak saya dimarahi, diminta mengembalikan buku-buku itu.  Nah karena suka baca waktu SD, saya sudah menulis sejak SD. Cerpen pertama saya saat kelas 5 SD, judulnya ‘Harimau dalam Hutan’ jadi juara dua lomba mengarang tingkat kecamatan.  Hehehehe.

Apa sih  yang memotivasi Kak Erni untuk selalu menulis?

Pertama : menulis itu terapi jiwa saya. Yang kedua adalah berangkat dari peristiwa, setelah buku-buku yang saya “curi” waktu SD itu dikembalikan bapak saya ke sekolah. Beberapa tahun kemudian, kepala sekolah berganti orang baru. Kepala sekolah baru ini membakar habis buku-buku di sekolahku. Buku-buku di perpustakaan sekolahku memang tak pernah dibaca, saya pikir waktu itu hanya saya saja yang membaca di sekolah. Saya sangat sedih. Saya berandai-andai, coba kalau buku-buku yang saya niatkan untuk perpustakaan di kamar saya waktu kecil itu tercapai, mungkin sebagian buku-buku perpustakaan SD saya, masih terselamatkan meski hanya sekitar 30 buku. Semenjak kejadian itu, saya berharap menjadi bisa menulis dan menjadi seorang penulis.

Apa yang Kak Erni lakukan saat mengalami writers block?
Ketika writers block melanda, biasanya saya tidak menulis untuk waktu yang sangat lama. Saya pergi jalan-jalan. Menonton film. Seringkali juga seperti ini, jika saya mengalami writers block saat menulis novel, maka saya alihkan belajar menulis puisi. Ketika saya mengalami writers block menulis puisi, novel dan cerpen, saya alihkan belajar fotografi.

Lanjut ke novel ya kak, ceritain dong kejadian lucu/seru saat menggarap novel KEI ini?
Klik di sini


Tak ada yang seru atau lucu, karena Kei adalah anak yang paling menguras energi saya. Saya menulisnya tidak enjoy, itu sebabnya di Kei ada banyak informasi-informasi yang padat, tapi saya berharap Kei bisa disuka orang lain. Dan saya mencintai ‘Kei’ anak yang membuat ibunya kesakitan saat mengandung selalu mendapat porsi cinta yang lebih besar.  

Kenapa kok  memilih latar belakang pulau KEI untuk debut pertamanya?
Karena saya pernah membaca buku ‘Ken Saa Faak, Benih-benih Perdamaian di Kepulauan Kei, terbitan Insist Press. Dari buku ini, saya menuliskannya dalam novel.

Nama-nama tokohnya diambil dari mana kak?
Nama-nama tokohnya diambil dari nama-nama orang Maluku. Tapi itu tokoh fiksi. Sementara Namira (itu nama sepupu saya), kalau Sala (ini nama saya karang sendiri).
Punya kesulitan nggak kak dalam menyelesaikan novel KEI?
Kesulitan ada karena saya baru belajar menulis novel. Saya kadang kesulitan menyambung-nyambungkan antara bab. Penyakit penulis pemula seperti saya. Hehehe

Boleh berbagi cerita nggak kak tentang proses pembuatan KEI ini?
Kei saya kerjakan di sela-sela pekerjaan. Waktu itu, saya masih bekerja sebagai kepala cabang bimbingan belajar pada pagi hingga sore. Malamnya dari jam tujuh sampai jam satu malam, saya kerja sebagai editor berita. Nah Kei dikerjakan saat tengah malam dan di hari libur Sabtu dan Minggu. Kalau tak salah saya menyelesaikannya selama tiga bulan, karena buru-buru deadline sayembara DKJ.

Apa karakter asli kakak sama kayak karakter tokoh Namira?
 Ada teman bilang Namira mirip saya. Tapi sebenarnya tidak. Teman yang bilang ini, tidak kenal betul saya. Kalau Namira orangnya lembut, mudah bergaul, selalu ingin tahu, kalau saya sendiri canggung, saya selalu gugup berbicara dengan orang secara langsung, ngobrol seperti ini di dunia maya, membuat saya agak nyaman. Tapi saya selalu sangat nyaman dengan orang-orang di desa—mereka jujur, sederhana, polos, tidak menganalisa. Jadi beberapa pekerjaan saya, biasanya melakukan riset di desa-desa.

Bagian mana sih yang paling kakak suka dan tidak suka dari KEI?

Bagian yang paling saya suka, adalah dimana Sala bercerita kepada Namira tentang seorang perempuan bernama Dit Sa Mak—perempuan simbol perdamaian, bagian yang saya tak suka, tidak ada. Saya menyukai semua hal yang baik dan jelek dalam ‘Kei’

Tentang ending nih kak, kenapa sih kok dibikin gantung?

Ending-ending dalam fiksi kan ada banyak macam. Saya lebih senang membuat ‘Open Ending’, yang Hadi bilang menggantung. Di sini penulis memberi ruang pada pembaca menafsirkan sendiri sesuka-sukannya untuk menentukan nasib tokohnya. Jadi jika Hadi membuat penafsiran sendiri seperti Sala akhirnya selamat dan bertemu Namira. Mereka menikah dan punya anak. Itu hak Hadi. Dan itu bisa jadi endingnya. Hehehe.

Bisikin dong kak, tentang novel kedua yang mungkin lagi digarap ...
Novel setelah ‘Kei’ ada, sementara direvisi, tokoh-tokohnya hitam sekaligus putih juga. Saya tak suka tokoh-tokoh yang baik melulu. Jadi di novel itu nanti, tokohnya tetap Bad Man, tapi dicintai. Hehehehe. Di dunia ini, orang berdoa dan berdosa. Jadi saya lebih senang tokoh-tokohnya berbuat kebaikan, juga berbuat kejahatan. Misalnya dia seorang pemabuk tapi penyayang anak-anak.

Apakah KEI akan berlanjut jadi sesaon 2?
Saya belum tahu, apakah kelak saya membuat sekuel ‘Kei’.  Saya sendiri tidak yakin apakah ‘Kei’ punya pembaca saat ini. Kasihan penerbit, mereka akan rugi jika saya menulis sekuel ‘Kei’ kemudian tak ada yang membacanya. (Ya meski, idealnya penulis itu tidak menulis untuk orang lain, tapi tetap saja tak lepas dari itu semua).

Ada nggak cerita yang pengen kakak tulis tapi belum terkabul?
Ada dua ide cerita. Saat ini saya sedang mengumpulkan energi untuk menuliskannya. Salah satunya itu  tentang kehidupan petani di desa, kesederhanaan dan bagaimana mereka memperlakukan tanamannya. Satunya lagi, diangkat dari kisah nyata.

Sedikit petuah dong kak buat penulis pemula ...
Menulis butuh kesabaran, butuh belajar yang terus-menerus, butuh rendah hati yang abadi, jangan takut kritikan, jika melalaikan itu semua, maka harapan menjadi penulis akan cepat mati.  Waktu SD, saya sudah berharap menjadi menulis. Tapi di usia 25 tahun, barulah saya mengelarkan menulis satu novel. (Hahahaha, jangan percaya kata-kata sok bijak nan palsu ini)

Terakhir deh, apa sih arti menulis buat kakak?
Menulis itu belajar sabar. Belajar menerima penderitaan. Belajar menerima risiko.

***

Nah, itu tadi secuil cerita-cerita  dengan Kak Erni.

Buat yang masih penasaran sama Kak Erni, dan mau nanya-nanya atau cerita-cerita sama Kak Erni, silakan temui Beliau di @ErniAladjai



PS: Siap mengikuti GiveAway? Mana suaranya?

Comments

  1. duh, itu kepala sekolah main bakar buku aja.

    Tp thx buat sharing wawancaranya ya

    ReplyDelete
  2. kak hadi kerja di gagas media ya. Jangan-jangan kakak yang review naskah yang aku kirimkan 2 tahun lalu.

    Di tolak mentah-mentah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooh bukan. Saya cuman blogger yang tiba-tiba terpilih jadi host untuk #GagasDebut

      Delete
    2. Jadi sama-sama blogger ya.

      Menjawab pertanyaan sahabat tentang bisnis yang saya perkenalkan. Itu beneran dan membayar kok kawan.

      Sahabat bisa membaca artikel sebelumnya tentang pembayaran kedua. Bulan ini saya lagi nunggu pembayaran yang ketiga. Nanti kalau sudah dibayar juga akan saya tulis bukti pembayaran yang ketiga.

      Sudah banyak kok blogger yang bergabung.

      Delete
    3. Wah saya nggk ada waktu kayaknya deh

      Delete
  3. kata @ErniAladjai Menulis butuh kesabaran, butuh belajar yang terus-menerus dan butuh bla...bla...bla...
    ternyata banyak banget persyaratannya, mudah2an gw bisa konsisten update blog :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asal ada niat yang kuat, semuanya pasti bisa. Apa sih yang gak bisa itu brooooo
      hehehehe

      Delete
  4. oke nice :D

    cuman mau ngasih tau ada http://dinding-gusdi.blogspot.com/2013/11/giveaway-myfirstbook-dinding-gusdi.html

    ikutan yuk :)

    ReplyDelete
  5. writers block itu apaan, ya??

    thanks, ya. saya jadi tahu bahwa cerita dengan akhir yang menggantung itu disebut Open Ending. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Kamus Bahasa Linggau