Unyal-unyel


Bagian I

Kentang sedang mengelus perutnya, dan bibirnya yang tebal itu masih terampil bergoyang ke sana ke mari, seperti  kebo yang nggak kelar-kelar menguyah rumput. Sebuah lidi kecil disungut-sungutkan ke mulut. Ada yang menyelinap di gigi gingsulnya. Lagak Kentang seolah abis makan daging aja. Padahal nyatanya yang nyelip itu hanya secuil daun ubi kayu yang dimasak mamanya pakai santan.
 Mama Kentang yang sedang menjahit menatap gerak-gerik aneh ke anak bungsunya itu. Lamat-lamat pandangan Mama tidak lagi fokus ke mesin jahit.
“Kamu kenapa, Pat?” tanya Mama.
Pat atau Pati adalah panggilan sayang dari Mama untuk cowok berambut cepak ini. Nama aslinya adalah Adipati. Lahir di Kota Pati. Asli keturunan jawa. Karena kulitnya yang hitam seperti kulit kentang, saudara kandung dan teman-temannya sering memanggilnya Kentang, tapi Mama nggak pernah mau memanggilnya Kentang. Usut punya usut, nama Adipati ini  diambil Mama dari nama bekas pacarnya saat remaja dulu.
Konon, Mama pernah jatuh cinta banget sama Adipati, temannya sekolah dulu. Orangnya cakep, tampangnya bagus, dia manis walau tanpa pemanis buatan dan tidak disertai formalin. Sayangnya Mama dan Adipati itu hanya mampu bersama selama tiga bulan. Adipati dipindahkan ke Kalimantan mengikuti orangtuanya. Padahal  bunga cinta Mama baru saja kuncup. Mendapati kenyataan itu, kuncup di hati Mama tiba-tiba  layu sebelum berkembang. Percis lirik lagu nostalgia jaman baheula.
“Eh alah, ini anak ditanyain orangtua malah bengong doang. Kamu kenapa toh?”
“Nggak tahu nih, Ma. Ada yang aneh. Kayak kurang ngeganjel,” jawab Kentang.
“Kurang minum mungkin, Pat,”  Mama menyahut sembari melanjutkan kerjaannya yang tertunda.
“Udah kali, Ma. Udah tiga gelas ini malah,” kata Kentang yang baru saja meneguk segelas air.
Air muka Kentang meringis. Dia terlihat sedang menahan sendawa karena kebanyakan minum. Namun getaran di perutnya yang aneh seolah memanggil-maggil Kentang untuk memasukan sesuatu lagi ke sana.
Kentang meletakkan perlahan gelas beling tak bercorak yang tadi digenggamnya. Lalu pergi dari meja makan yang berbentuk bundar itu. Ia memapasi Mama.
“Eh, mau ke mana kamu, Pat?” tanya Mama sambil menggigit benang.
Padahal umur Mama belum terlalu tua. Namun penyakit pikun sudah tumbuh di usianya yang ke 43. Acapkali menjahit Mama sering kelupaan di mana meletakkan gunting.
“Mau ke teras, Ma. Ini perut Pati aneh. Mau ngadem dulu nyari angin,” kata Kentang cepat.
“Eh eh, jangan dulu lah. Sana cariin gunting, ini repot banget kalau mesti digigit mulu,” ucap Mama masih sambil menggigit benang yang sisanya telilit di mesin.
“Lah, itu apa, Mah?”
“Apaan?” Mama malah melotot.
“Itu tuh!” Bibir Kentang yang tebal mulai maju. Kemudian tangannya mengambit sebuah gunting berwarna hitam yang tadinya tertutup kain di dekat kaki Mama.
***

Mama mulai sebel dengan Kentang yang unyal-unyel di dapur. Mama penasaran apa yang dilakukan anak lelakinya itu. Dari tiga bersaudara, sepertinya hanyalah Kentang yang selalu dianakemaskan. Selain karena nama Kentang yang diambil dari nama sang mantan, Kentang juga memiliki hidung slebor yang sangat identik dengan Mama. Mendelep.
Setelah melipat pakaian bermotif bunga sepatu, Mama berlalu dari mesin jahit dan menuju ke tempat Kentang berada. Di dapur yang tak begitu luas, Kentang masih tampak unyal-unyel. Mama semakin sebel dengan suara berisik yang ditimbulkan Kentang.
“Eh eh eh …, kamu ngapain ngangkat-ngangkat kardus begitu, Pat?” tanya Mama. “Lah itu mau dibawa ke mana karung berasnya?” Mama bertanya lagi, padahal pertanyaan sebelumnya belum sempat terjawab.
“Nyari pisang, Ma,” jawab Kentang cekak.
“Nyari pisang?”
Dahi Mama mengekerut. Kulit keriputnya kini bertambah lagi beberapa persen.
“Iya, Ma,” kata Kentang seraya mengelus-elus perutnya yang nyaris sixpack.
“Ya Alloh …, nyari pisang ya di kulkas dong, Nak!” Mama menatap nanar ke anak cupunya itu.
“Nggak ada, Ma. Nggak ada.”
“Alah, malang amat nasibmu …, udah kamu makan ini aja!” Mama memberikan timun sebagai gantinya.
Mata sipit Kentang mulai memincing. Namun selanjutnya dipungut juga sebuah timun dari tangan Mamanya.
Mama paham Kentang sangat menyukai pisang. Makanya Mama selalu menyimpan pisang ambon di dalam kulkas. Atau mungkin kalau lagi banyak rejeki, Mama juga menyimpan pisang raja di dekat karung beras.
Akhirnya Kentang berhenti unyal-unyel. Namun hasratnya akan sebuah pisang membuatnya kembali mengelus perut.
“Pati pergi ya, Ma!” pekik Kentang yang kini sudah keluar dari rumahnya.
“Eh …, mau kemana kamu?” pekik Mama pula.
“Ke rumah Luwee, Ma, minta pisang!” sahut Kentang kemudian.
***     

Rumah Luwee yang dimaksud Kentang itu tidak jauh dari rumahnya. Makanya tak butuh waktu lam untuk menuju ke sana.  Jaraknya itu hanya beberapa jengkal. Jadi semisal Kentang nantinya menjadi kekasih Luwee, sudah dapat ditebak kalau original soundtrack hidupnya adalah lagu dangdut Pacar Lima Langkah.
Pacarku memang dekat ... lima langkah, dari rumah.
Tak perlu kirim surat ... sms juga nggak usah.
Hasek hasek jooos!
Kentang telah berada di depan rumah sederhana bercat biru. Setidaknya dulu berwarna biru. Karena sudah tiga kali puasa dan tiga kali lebaran tidak diperbaharui, warna rumah Luwee kini  berubah menjadi putih kebiruan.
Luwee tampak sedang berada di  beranda. Sebuah tape mini berwarna hitam berada di dekatnya menari.  Sebuah lagu bernuansa arabic, tapi kalau didengar dengan jeli lebih condong ke lagu India, berdendang mengiringi cewek pendek ini menari. Bakatnya sejak kecil memang menonjol di bidang seni. Salah satunya adalah menari.
Kentang menghampiri Luwee yang kelihatannya asik menggoyang-goyangkan perutnya.
“Lo mules apa gimana deh, Lu?” tanya Kentang dengan tatapan aneh.
“Seharusnya juga gue yang nanya begitu ke lo kali, Tang!” celetuk Luwee ketus.
“Nah itu lo meliuk-liuk kayak begitu namanya apa kalau bukan mules?”
“Ini namanya nari perut, Tang,” kata Luwee. Dia masih meneruskan menari.
“Nari perut kok pake lagu India.  Kudunya lagu Arab kali, Lu!” sungut Kentang.
“Alah, India jauh lebih asoy, Coy! Nah lo kenapa ngelusin perut mulu?” Mata sipit Luwee semakin mengecil.
“Gue nyidam pisang nih …,” jawab Kentang cepat.
Kentang masih aneh dengan gerakan Luwee yang mirip kayak cacing kepanasan. Perutnya bergoyang ke sana ke mari. Sesekali Luwee terlihat meringis menyentuh perutnya. Percis seperti orang mulas.
“Nah nah, kenapa lo, Lu?”
“Alah jadi beneran mules gue, Tang!”
“Ya Alloh, kan gue yang lagi nyidam pisang, Lu. Kenapa jadi lo yang mulas?”
“Alah jangan berisik deh!” Luwee meringis. Namun tidak menghentikan tariannya.
“Iya iya, tapi minta pisang ya!”
“Nggak ada pisang,” kata Luwee dengan air muka yang tak dibuat-buat. Dia sekarang meringis.
Sementara Kentang kini kepayahan memencet hidungnya yang tak kalah pesek dengan  Luwee. Kentang menggondok. Karena bukanlah pisang yang diberikan oleh Luwee. Cewek  blasteran Batak Belanda yang mirip Arumi Bascin ini malah kentut bratbrut-bratbrut.
Luwee lega.
“Ya Alloh, Luwee. Kentut lo bau banget …,”
Puih.
“Ehek-ehek, ya maaf, kelepasan coy, kelepasan!” ujar Luwee tanpa dosa.
***

Sementara itu di jalan setapak depan rumah Luwee, terlihat Dedeng sedang bersepeda. Sebuah headset putih menempel di telinga cowok tinggi itu.
“Woi, Deeeng!”  pekik Kentang.
Alih-alih langsung menyahut, cowok yang bertampang ganteng, karena parasnya mirip artis India itu ternyata punya gangguan telinga. Dia budek jarak jauh. Ini bukan gegara headset yang menjejal di telinganya. Walaupun tanpa musik keras yang menghantam sekalipun, Dedeng tetap saja tidak akan mendengar teriakan Kentang dari jarak lima meter.
Kentang menemukan sebuah kertas berwarna kuning. Kalau dilihat dari tulisan, sepertinya kertas itu adalah bekas corat-coret Luwee yang sedang galau. Isinya hanya sebuah kata yang terukir besar. Kata itu adalah G.A.L.A.U.
“Eh, ini kertas masih dipake apa nggak, Lu?” Kentang mengusik Luwee yang masih sibuk menari perut di sampingnya.
“Alah enggak. Ambil aja. Orang aku udah nggak galau kok!” Luwee menjawabnya malas-malasan. Ekspresi wajahnya seolah tak suka diganggu.
“Oke, bagus kalau begitu!”
Kemudian Kentang meremas kertas berukuran HVS itu, lantas cowok hitam itu melemparkannya ke arah Dedeng.
Tuiiiiing.
Tepat mengenai sasaran. Kertas kuning itu melanting mengenai kepala Dedeng. Hal itu membuatnya berhenti mendadak.
Dedeng memutarkan kepala seperti kipas angin, mencari sang pelaku kajahatan.  Dia membelokkan posisi sembilan puluh derajat dari posisinya semula. Pas. Seonggok makhluk hitam mirip kentang sedang  berkacak pinggang di sebelah penari perut amatir.
Maneh teh ngomong sama aing, Tang?” Dedeng berkata sok bego dengan logat Sundanya yang tebal.
Kentang melangkahkan kaki menghampiri Dedeng. Perutnya masih dielus-elus, percis perempuan bunting besar yang ada di tivi-tivi.
Kini cowok ganteng yang berkumis baru tumbuh itu sudah berada di hadapannya. Sepeda polygon berwarna hijau keputihan masih setia ditunggangi. Dedeng melepaskan headset dari telinganya.
Maneh  ngomong apa sih, Tang?” tanya Dedeng plonga-plongo.
“Gue nggak ngomong. Gue mau nodong. Minta pisang!”  kata Kentang langsung ke inti dengan nada yang sedikit meninggi.
Dedeng hanya bengong saat ditodong.
“Hah? Lo minta pisang gue, Tang?” Dedeng melongo. Setelah itu dia menunjukkan ekspresi aneh sambil menunjuk ke arah selakangannya.
“Iya pisang, Coy. Pisang!” Kentang meninggikan suaranya.
“Ini?” Sekali lagi Dedeng menunjuk arah resleting celananya, sembari memamerkan raut wajahnya yang tampak jijik.
Rasanya Kentang ingin sekali menjitak kepala Dedeng.
“Masya Alloh. Pisang, Deng. Pisang! Buah pisang. Bukan ‘pisang’ lo itu,” Kentang emosi.
“Alhamdulillah. Aing pikir maneh teh udah melenceng, Tang!”


Bersambung

Comments

  1. kentang kok beda jauh gantengnya dengan cowok adipati sang mantan mamanya...hehehee...
    Punya pacar dekat rumah memang menghemat biaya dan waktu.

    ReplyDelete
  2. keren bgt cerpennya (y)

    ReplyDelete
  3. Hiehiieie sampai sekarang saya masih bingung gimana buat CERPEN harus mulai darimana. Gimana dengan kata ganti orangnya, Bolehkah pake Saya?

    ReplyDelete
  4. Hihiii, lucuuuu. Nggak salah kalo aku manggil kamu Komed. :P

    Ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber