Posts

Showing posts from April, 2013

Hadi Kurniawan

Aku siapa sebenarnya? Sudah jelas; Hadi Kurniawan. Yang gak jelas, orang tua ngasih nama panggilan Wawan. Rata-rata jadi taunya itu semua. Jaman SMA aku alay. Nulis nama gini ; Waone. Kemudian kebanyakan manggilnya One. Buat yang akrab, udah biasa manggilnya Wan. Yang gak akrap malah lucu. Manggilnya kayak nyebut kalimat penghubung ; di. Iya, di doang. Sebenarnya Hadi. Tau lah aku. Biar cepat barangkali. Jadi cuma nyebut di doang.

Sebagian besar kenal namaku Wan atau Wawan. Paling di fesbuk, jadi Hadi lagi. Kayak guru-guru jaman SMA dulu. Manggilnya juga Hadi.

Alhamdulilllah

Masih bisa nabung itu syukur. Biasanya malah tekor. Pasak lebih pesar dari tiang. Intinya gitu lah. Ngomongin pepatah itu. Aku sudah sering denger sejak SD. Cuma, baru bisa nalarin waktu SMA. Karena pada waktu itu lah, aku baru tau gimana bentuk pasak. 
Tiang ama pasak jelas-jelas besar lah tiang. Yang sepantasnya ini dibilang tinggi. Yawes, rausah dipermasalahken. 
FBku yang sijinya nyala meneh. Dipake orang. Ya gapapa, aku yang nyuruh. Asal jangan dirusak aja. Padahal, aku wis eneg sama FBku yang satunya itu. Banyak punya akun fb gak nambah kekayaan sih. Terus enegnya kenapa? Ya eneg. Soale kudu sign in, sign out, dua akun bergantian. Repot. Aku thak shuka. Benar-benar tak shuka. 
Riwayat fb itu dibikin sih panjang. Bisa dibilang sudah nyala sejak aku alay. Pernah pake nama Diwan Simelekete.

Lirik Bernyanyi Untukmu - Andien

Image
Aku barusan download lagunya Andien. Ini kocak lagunya. Agak kejadul-jadulan lah. Apalagi klip videonya. Beggh .... jadul pisan euy. Biar begitu tapi si Andien gak keliatan tua kok. Masih unyu-unyu getooh Mueheheh

Judulnya bernyanyi untukmu. Ceritanya di sini si Andien nyanyi khusus buat aku. Ya, buat kamu juga. Adilnya buat kita lah. Oke, dari pada berebutan. Mendingan nyanyi bareng aja. Ini liriknya!


Lirik Bernyanyi Untukmu - Andien

Tak ku ragu kulihat ada sendu dimatamu
Mengapa begitu
Aku mau mencoba tuk mendengar ceritamu
Bicara padaku

Surat Untuk Vivi

Lubuklinggau, 4 Juni 2012 Dear Vivi yang cantik dan juga cungkring Aku tak terbiasa mengirim surat. Mungkin bisa jadi inilah kali pertama aku mengirim surat. Ya, mungkin karena itu pula lah, kata-kata yang akan kutuang di sini hanyalah kata-kata biasa sebisaku.
Lihatlah, Vi! Aku mulai merangkai kata untuk paragraf kedua yang tiada artinya. Aku hanya ingin bersurat kepadamu. Semoga saja kelak kau pun memberikan surat kepadaku.