Semoga Kita Tetap Solid, Kawan

Beberapa hari yang lalu Lia Novenda sms saya. "Kakak, tolong bikin catatan pas ulang taun Kak Janut, dong!" tulisnya.

SMS itu sudah lama sekali. Saking lamanya, bahkan saya lupa kapan tepatnya. Bisa jadi, Lia pun juga lupa kalau pernah meminta saya seperti ini.

Sekarang saya bingung mau mulai dari mana. Cerita ini terlalu indah untuk dikenangkan. Haha

Saya akan menggunakan sudut pandang saya. Sesuai yang saya alami, dan yang saya rasakan.

21 Nopember 2012
Yang saya ingat, tengah malam Lia menelpon saya. Dia hanya bilang, "Aku ingin jadi yang pertama, Kakak!"
Dan dia pun berhasil jadi orang pertama yang memberikan ucapan ulang taun untuk Hujani Prawiro di dinding FB. Saya mengucapkan selamat kepada Lia untuk itu.


Selang beberapa menit. Sepertinya ada angin lain. Lia tiba-tiba dongkol. Kenapa? Karena setatus saya. Saya bikin setatus tentang irinya saya ke Hujani. Tapi saya ingat, kata guru saya iri itu tercela. Maka saya putuskan untuk tidak iri, dan setatus itu pun saya hapus.

Lia – menurut saya dia itu nekat. Dia nekat melek untuk Hujani. Waw. Saya patut bilang waw. "Setia nian kau, Dek!" Aku bercanda.
Lia terkikik kecil.

Lantas entah. Suara jangkrik tak lagi nyaring mengkirik. Sudah lewat tengah malam. Jam berapa juga entah saya tak hiraukan. "Kakak tidur aja, besok kan Kakak kerja!" Lia bicara sambil tersedu.

Ah sudahlah. Saya ikut berduka saat itu. Saya bilang jangan menangis. Tapi Lia tetap menangis. Itu bukan yang pertama dia menangis, katanya. Saya suruh dia tabah, dia semakin menangis. Dari sini saya dapat kesimpulan, Lia Novenda itu, cewek nekat yang cengeng. Haha. Tapi cantek kok. Eh?
*

22 Nopember 2012

Saya bangun kesiangan. Siap ke kantor dengan seragam batik. Di tengah jalan saya dicegat tetangga, mengabarkan ada kerabat saya meninggal. Jleb. Saya langsung ingat ibu saya. Ibu pasti belum tau berita ini, itu yang saya pikirkan.

Saya balik lagi ke rumah. Ibu saya panik saat saya kabarkan. Ibu bingung mau melayat dengan siapa. Saya lari ke rumah kakak saya yang ke tiga. Sampai di sana, kakak saya malah keder. Dia punya janji dengan kakak saya yang ke dua untuk mengantarkan berobat. Saya jadi ikut keder. Setengah sembilan saya belum kunjung ke kantor. Saya panik. Akhirnya saya ijin. Kabar baiknya, mertua kakak saya yang ini bersedia ngasih tumpangan di mobilnya. Nasib ibu saya, terselamatkan oleh tebengan mobil tetangga saya. Alhamdulillah.

*
Saya sudah bolak balik sana sini sepagi itu. Yang saya ingat, saya belum makan nasi. Saya pusing.

Perjalanan melayat lama. Karena tempatnya jauh. Jam setengah sepuluh berangkat, sejam berikutnya sampai. Sinyal di daerah ujung parah. Saya jadi kepikiran Beny. Apakah Beny juga memikirkan saya? Halah. Tidak penting.

Saya ada janji dengan Beny untuk bantuin Lia di ulang taunnya Hujani.
"Berangkatlah duluan!" SMSku ke Beny.
"Kau gimana?" balasnya.
"Aku nanti menyusul."
*

Jam setengah tiga saya sampai rumah. Saya mulai labil untuk ikut acara atau tidur di rumah. Perjalanan jauh membuat kepala saya pusing. Saya capek.

Saya menelpon Hujani. Niat awalnya untuk minta maaf karena tidak bisa datang. Tapi batal. Orang ini memang menyebalkan. Akhirnya saya tekatkan diri saya untuk ke sana.
*

Jam entah. Saya sampai di rumah Lia. Keadaan tenang. Semua orang tampak berdiam. Ada kerukunan yang aneh disini. Tiada Hujani. Saya masih capek. Kepala saya berat. Baru saja masuk selangkah, saya langsung tepar di pangkuan Riza.

Pas saya buka mata saya, semua orang makan. Saya jadi ikut makan. Beny salut ke saya. Katanya, saya lahap sekali. Tiba-tiba, Lia mengeluarkan embun dari matanya. Saya masih pusing.

"Jalan-jalan yuk, Wan!" Saya akrab memanggil Riza Pahlawan dengan sebutan Wawan. Riza ikut saja. Di tengah jalan saya memapas Hujani. Entah. Raut mukanya berat. Masalahnya menumpuk, bisa jadi begitu. Tidak saya hiraukan. Saya hanya ingin jalan-jalan. Saya masih pusing.

Kebetulan. Adakah sebuah kebetulan di dunia ini? Saya kebetulan bertemu teman FB saya. Saya salamin, dengan malu-malu dia bilang namanya, "Estarina!" Saya juga dapat kawan baru. Serly, kalau tidak salah itu namanya. Ada Merina di tempat itu. Tira, Desi, juga Beny.

Merina kenal dengan Serly. Beny kenal dengan Estarina. Riza mengenal keduanya. Sementara saya, Desi, dan Tira tak mengenal siapapun.

Merina cipika cipiki ke Serly. Beny sungkan cipika cipiki ke Estarina. Riza menganggur. Saya jadi pura-pura aktif. Kemudian saya peluk Riza. Kalau mengingat hal itu, saya menjadi mual. Ya ya ya.
*

Yang seru adalah saat colet-coletan mertega putih. Beny yang memulai. Mertega putih jadi senjata. Semua orang berhamburan saling menyerang. Saya ketinggalan start. Saat saya mengambil senjata, orang orang sudah hilang. Tinggal Hujani dan Lia saja di pojokan entah sedang apa. Haha saya tidak peduli. Saya serang saja Hujani Prawiro. Mukanya rata dengan mertega. Hujani ngomel, tapi tak membalas. Sisanya saya coletkan ke Lia.

Saya lari. Tapi malah di serang Riza. Yeni pun ikut menyerang saya. Padahal yang saya tau, Yeni itu pendiam.

Hujani sempat ngedumel, "Masuk mata, dodol!" Dia jengkel.
Saya ngakak. Apa peduli saya? "Orang yang ulang tahun emang harus sial dulu, Coy!" pekik saya. Kemudian saya ngakak lagi.

Sekarang saya cemas. Cemas ketika saya ulang taun nanti Hujani membalas dendamnya ke saya, hingga saya jengkel dan sial. Haha semoga saja dia lupa kapan ulang tahun saya.

Saya berani menjamin. Tahun ini adalah ulang tahun yang paling mengesankan dan paling menyebalkan untuk Hujani Prawiro. Sekalian do’a, semoga kita tetap solid, Kawan. Aamiin.

Comments

  1. wiw, namanya unik yah, hujani hehe..

    ntar semoga kalo gilirannya yg ultah, dikasih kado yg banyak aja sama temannya ^^v

    ReplyDelete
    Replies
    1. hadi, mana lagi nih postingannya? :)

      Delete
    2. haha, makanya, koq kayaknya saya kenal. rupanya ini blog reinkarnasi dari Mas Hadi?

      Delete
    3. Saya biasa dipanggil Wawan mas :)

      Delete
    4. Buat Kak Dini, sabar aja ya kak ya hehehe

      Delete
    5. baiklah mas wawan. welcome kembali

      Delete
    6. Hahaahahaha bisa aja si mas ini :D

      Delete
  2. semoga persahabatannya lenggeng untuk selamanya... :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun mengharapkan hal yang sama qaqa. :)

      Delete
  3. haha.. iya, semoga lupa tanggal ulang tahunnya dah. mana tahan kalo dibedakin mentega begitu. jangan2 langsung digoreng ntar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha itulah yang membuat saya cemas, Kak! :D

      Delete
    2. saran saya, larilah sejauh2nya di hari ulang tahun, larang semua penjual mentega di segenap penjuru kota untuk berjualan beberapa hari di sekitar hari H, haha

      Delete
    3. Haha ketara banget dong! Ya deh, sarannya diterima, makasih ya mas. Hehhee

      Delete
    4. huahaha... hihi... makanya, coba kalo lahir 29 februari, pasti aman. hehe

      Delete
    5. Haha iya ya mas. Aman banget. Ultahnya 4 thn sekali. Wew. Muda tenan. Umurnya irit. Wkwk

      Delete
  4. mungkin itulah fungsi dar teman : untuk saling membagi senyuman.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya sih begitu, Kak. Ah, saya malah jadi dilema.

      Delete
  5. Wah Hujani, kenapa tidak Duwiti saja :D Blognya tampil baru juga ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaha Duwiti Wibowo Sweet Boy's :D Itu nama FB kawan saya. Eh salah deng, yang itu DWi. hehe
      Tampilan lama kok kakak. -_-

      Delete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk