Apa Menurutmu (?)

Ini adalah catatan yang saya buat dua hari yang lalu.
Rabu, 5 Desember 2012.

***
Saya agak riweuh dengan pertanyaan teman saya. "Ada masalah apa kau dengan Hujani Prawiro?"

Riweuh itu sejenis jengah, dan rasanya males untuk menjawab. Beny menelpon saya hanya untuk menanyakan hal itu. Padahal sebelumnya dia tidak pernah menelpon saya. Karena yang saya tau, Beny lebih akrab menelpon Hujani. Anehnya, selang dua hari Lia juga menelpon saya untuk menanyakan hal yang sama.

Saya jadi semakin riweuh. Dua-duanya saya suruh bertanya langsung ke Hujani, dan dua-duanya menjawab hal yang sama. Tidak jelas.


Dua orang ini memang banyak peduli ke Hujani. Dan saya akan menjadi tempat yang mereka tuju, ketika Hujani tak lagi memedulikan mereka. Siapa yang bodoh? Tolong dimengerti bahwa saya ini pintar.

Saya heran. Sejak lahir, saya tidak pernah mengungkit setiap masalah kecil. Kasus saya dengan Hujani kali ini saya kira masalah sepele. Saya hanya pernah jengkel dengan sikap Hujani yang nyolot. Hanya itu saja. Dan saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Makanya saya heran saat dua orang ini menanyai saya. Yang lebih membuat saya heran, dua orang ini lebih akrab dengan Hujani, kok yang diberondong pertanyaan malah saya. Apa menurutmu?

Saya mulai terintimidasi mereka berdua. Saya berpikir lama sekali. Memang, sikap Hujani ke saya akhir-akhir ini berbeda. Kemarin saja menelpon saya, yang bicara malah Riza. Hujani seakan ikut jengah seperti saya yang jengah kepadanya.

Nah, setelah kejadian itu saya malah jadi merasa iba. Kenapa? Karena saya tau Hujani Prawiro punya banyak masalah sejak jaman dulu kala. Sementara perkara pertama belum tuntas ditangani, datang perkara lain, lainnya lagi, lagi dan lagi. Yang mau tak mau semua perkaranya jadi terabaikan tanpa ketuntasan. Dan saya jadi merasa jahat sekali kalau hanya menambah masalah di kehidupannya.

Kesimpulan yang saya ambil. Hujani dan saya sama-sama keras kepala. Sama-sama mau menang sendiri. Sama-sama punya ego yang tinggi. Sama-sama calon bapak-bapak. Halah. Juga sama-sama punya nafsu tidur yang besar kalau terlalu banyak berpikir.

Makanya, saya putuskan untuk meminta maaf sekaligus mengajaknya bicara. Saya meminta maaf bukan berarti saya menyerah atau kalah. Saya tidak kalah. Saya hanya ingin hidup damai.

Kemarin usai jam kuliah terahir saya uraikan apa yang saya rasakan. Tapi unek-unek saya belum kelar. Sebab situasinya tidak bagus. Banyak "Bibi Peri" yang ikut nyeletuk.
***


Saya merasa tidak enak hati memosting tulisan ini. Makanya saya urungkan niat saya untuk memostingnya.

Comments

  1. Sing penting wes damai kan sob :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh Coy. Alhamdulillah. :)

      Delete
  2. Riweuh bahasa sunda kan ? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya sih iya, saya juga kurang paham. Haha

      Delete
  3. meminta maaf bukan berarti kalah gan , justru anda yang mempunyai sikap dewasa dan bijak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya harap sih begitu gan. Makasih sudah mampir. :)

      Delete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber