SUMPAH AKU KLEPEK-KLEPEK


“Aku kelepek-kelepek deh pokoknya.”
Rolan kasak-kusuk gak karuan. Dia naksir berat sama Ayu, tapi gak tau gimana cara deketinnya. Masalahnya Ayu itu cuek banget orangnya. Tomboy pula.
Ekskulnya aja pencak silat. Gimana gak tomboy coba? Inilah yang membuat nyali Rolan menciut.
“Lo kudu ngungkapin secepatnya dong, Bro!” bujuk Ceko.
Berkat dorongan Ceko, akhirnya Rolan nekat, dia mengirimkan surat cinta buat Ayu. Tapi lagi-lagi Rolan mencela Ceko. "Yaelah, hari gini masih pake surat cinta? Tembak langsung dong!" ujar Ceko.
"Mana berani, kalo ditolak?" sahut Rolan.
"Itulah perjuangan! Kayak dulu para pemuda Indonesia memperjuangkan suaranya lewat sumpah pemuda," Ceko menyahut asal. "Lo tau gak, dulu para pemuda Indonesia mengerahkan seluruh daya dan kekuatannya demi mempersatukan Indonesia, nah lo juga kudu memperjuangkan cinta lo!"
“Aih! Pake nyebut-nyebut sumpah pemuda pula, kemakan sumpah entar lo!” 
“Widih gaya beud!” tukas Ceko dengan alaynya.
“Tuh, apaan ... beud? Bahasa apa coba?”
“Itu bahasa gaul, Mas Bro!”
“Kan,” Rolan menghentikan omongannya sejenak. “Katanya ngerti sumpah pemuda. Lo camkan ini baik-baik deh ya ..., poin ketiga dari sumpah pemuda, kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tingi bahasa persatuan, bahasa  Indonesia. Bahasa Indonesia coy! Gue ulangin sekali lagi nih, bahasa Indonesia. Bukan bahasa gaul. Apalagi bahasa alay!” lanjut Rolan nerocos sampe mulutnya berbusa.
Namun tindakannya tersebut tak membuat Ceko jera bersikap alay.
“Kowawa, deh, Kakak!”
“Au ah ..., pusing gue ama lo!”
“Baiklah, saya mohon maaf deh sama Anda.” Karena merasa bersalah, Ceko langsung berkata dengan bahasa baku. Ucapannya terdengar kaku, namun ia tetap berkata seperti itu dengan pedenya.
“Saya berjanji, tidak akan mengulanginya lagi, tenan lah!”
***
Rolan sangat menunggu tanggal 28 oktober tahun ini. Pasalnya tepat di hari Sumpah Pemuda itu, dia akan mencanangkan aksinya.
Rolan menemui Ayu  yang pada saat itu sedang latihan silat.
“Apa? Cepatlah ngomong, aku tuh lagi latihan silat!” kata Ayu ketus dengan logat Palembangnya.
Ternyata menyodorkan surat cinta itu tak segampang update setatus di facebook.
Sedetik berlalu, jantungnya beregup kencang. Semenit berlalu, semakin lebih kencang lagi. Maka Rolan pun berjoget gangnam style di depan Ayu untuk mengusir rasa gerogi yang berkecamuk.
Rolan mulai terintimidasi perkataan Ceko tempo hari, tentang momok kuno gara-gara ngungkapin cinta lewat surat.
Apalagi beberapa hari yang lalu, Rolan juga sempat konsultasi sama tantenya. Dia malah dibilang cemen kalau nembak cewek pakai surat. Kata tantenya, lebih baik ngomong langsung saja, datangi rumahnya, bawa bunga kesukaannya, itu akan lebih terasa romantis.
“Eh,  gak jadi, deh. Maaf ya!”
Rolan mengurungkan niatnya memberi Ayu surat. Tanpa disadarinya, surat cintanya itu terjatuh, dan dibaca oleh cewek-cewek yang ikutan pencak silat dengan sangat keras.
Kemaluan Rolan mendadak besar. Eh, ralat! Maksudnya Rolan menjadi malu yang sangat besar akibat ulah cewek-cewek itu. Ayu hanya bisa melompong.
Rolan mendekati Ayu lagi untuk menjelaskan semuanya. Tapi dia resah, karena saat itu dia sedang mencari tasnya yang didalamnya sudah tersimpan sebuah bunga untuk Ayu.
Rolan sudah keder. Eh, ternyata tasnya itu digantung oleh cewek-cewek jahil di tiang bendera. Tangannnya sempat berdarah saat mengambil tas itu.
 “Ay, kalau biasanya orang ngasih mawar, ini aku kasih kaktus buat kamu, biar gak layu-layu!” ucap Rolan.
Ayu masih bersikap dingin.
“Yang ada di surat tadi beneran isi hati aku. Aku mulai sayang sama kamu sejak aku tau kamu ikut ekskul kayak begini. Ya, pokoknya kamu keren, kamu kayak pendekar cewek yang kini menyerang hati aku, aku kelepek-kelepek deh pokoknya.”
Cewek-cewek jahil yang tadi membaca surat cinta Rolan malah datang lagi. Kali ini sambil membawa toa. Lalu menantang Rolan untuk nembak Ayu memakai alat itu.
Seperti kata lirik lagu lama, hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti. Rolan pun berjuang untuk mendapatkan Ayu.
“Kita kan sama-sama tau, hari ini adalah hari sumpah pemuda. Sebagai pemuda aku mau bersumpah kepada cewek yang namanya Ayu Sriwijayanti, sumpah aku cinta kamu, mau gak kamu jadi pacar aku?”
Perjuangan Rolan pun berakhir karena ternyata Ayu sudah tidak ada lagi di situ. Kabarnya Ayu pingsan setelah mendengar pengakuan Rolan. Kini Ayu di bawa pulang oleh guru silatnya.

Comments

  1. boleh nih gaya menulisnya. ada kemaluan segala masuk. aliran baru deh. nilai delapan koma lima. hehe

    ReplyDelete
  2. wekekeke.... ^^ seru ceritanya uy bikin ngakak.. haha..

    ReplyDelete
  3. Aku kelepek-kelepek juga sob ngebacanya...
    Ha ha ha, pake sumpah pemuda sgala..

    ReplyDelete
  4. bahahaha, sebenernya siapa yang klepek-klepek?? #terasi eh, teragis! :)

    ReplyDelete
  5. wah bisa bikin tersenyum nih, salam kenal

    ReplyDelete
  6. yuuu ayu.. lugu apa daya tahan tubuh lemah? *ehh

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk