Rinduku Kelupaan


Aku sudah lupa bagaimana rasanya merindu. Sejak aku ditinggal menikah kekasihku tahun lalu.  Sungguh, aku benar-benar lupa. Apakah rindu enggan menjamahku? Tapi mengapa? Atau memang aku yang tak pantas merindu? tanya hatiku.
Konsentrasiku memecah. Esok aku ujian. Padahal ini adalah malam minggu. Aku sangat membenci dosenku, yang memberikan jadwal kuliah di hari minggu. Dan aku hanya bisa menggerutu.
Di dalam ruang ini, di kamar yang mungil nan tak ber-AC ini, aku hanya mampu bicara kepada dinding. Sebuah ketidakwarasan. Mengusir kepenatan. Membuang peringatan. Mengkhayalkan kehangatan. Tiba-tiba tanganku kesemutan.

Mataku menatap para semut berbaris di tembok. Barisan semut itu membentuk kelurusan, tanpa belokan. Aku merasa iri, karena aku hanya sendiri, hanyalah berteman sepi. Ah, itu pun sudah syukur. Terkadang aku merasa tak berteman apa pun. Sepi tak menjamahku, rindu tak menghujatku, cinta pun apa lagi ....
Maka aku telepon sahabatku. Upaya penetralan suasana.
"Halo, Pus!"
"Ya ... tumben lu nelpon gue, lagi banyak pulsa, ya?" Puspa mengheran.

"Gue rindu ama elu!"
"Kok mendadak gitu sih?" tanyanya tak percaya.
"Yee, mana gue tahu, orang gue tiba-tiba rindu, manusiawi to?"
"Iya, kamseupay!" ledeknya.
"Sialan lu," teriakku kesal.
"Hahahaha, emang kenapa lu merindukan gue?"
Dia bertanya setelah puas menertawakanku.

"Nggak papa. Gue pura-pura aja." Aku merasa menang dengan kejayusanku.
"Kamseupay!" Dia murka.
"Hahahaha." Aku ngakak seolah sedang menonton OVJ.
"Jangan tawa ya!"
"Oke gue minta maap," sahutku kalem.
"Iya lah, lu emang kudu begitu. Dimaapin." Tampaknya dia masih kesal.

"Eh, emang rindu itu rasanya gimana, sih?" tanyaku.
"Hahahaha," tawanya memekakkan telingaku.
"Idih, gue nggak lagi ngelawak ya," ceracauku.
"Rasanya itu, ng .., kayak gitu deh ... mau tau aja lu, dasar kamseupay!"

Dua detik kemudian telepon kututup. Aku semakin nyesek. Ngenes.
**

Nelangsa hati rasanya, yang biasa disebut galau oleh anak muda, atau mungkin aku ini memang sesosok gadis yang benar-benar kamseupay? Entahlah. Entah!
Sekarang aku merasa hampa, yang berdebar di dada, menyeruak dan menganga. Tanpa rindu, tanpa kangen, tanpa missing, yang membahana.
Aku menelpon lagi sahabatku itu.
"Kenapa lagi lu? Udah tahu rasanya rindu?" tanyanya.
"Belum," jawabku.
"Kamseupay!
**

Entah sampai kapan aku begini - tak mampu merasakan rindu. Aku masih menunggu, sampai pagi membiru, dan selamanya. Semoga ada waktu, dimana aku merindu, dan aku bisa berkata I miss you, kepada jantung hatiku. Kelak siapa yang tahu? Dan satu hal lagi, aku pantas merindu dan dirindukan. Ini hanya masalah waktu. “Hey, kamu!  Ya, kamu, apa kamu merindukanku? Nggak usah jawab, aku udah tahu!” ceracauku kepada tembok yang menghening.



Comments

  1. kasihan yg lagi rindu,,
    mnurut ane sich rindu itu ga akan bisa hilang dan kerinduan akan membawa kita pda pertemuan yg bermuara bhagia,,,
    serta mentramkan hati,,,
    nich sharing bos...

    ReplyDelete
  2. dudududuuu, puitis nan lagi tersedu, sampai2 ngobrolnya ama tembuk biru *maksa banget yuuu* :p

    ReplyDelete
  3. tembok yang menghening. berarti menjadi hening ya Mas? emang dulunya tembok suka meracau ya, hehe

    ReplyDelete
  4. Sebuah rindu yang hilang karena tergantikan rasa amarah dan kebencian.

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Kamus Bahasa Linggau