Kumpulan Notes Jaman Baheula 3


Catatan Ke 58
oleh Hadi Kurniawan pada 14 Februari 2012 pukul 21:44 ·
Susah ... semenjak aku tahu sedikit, seenggaknya beberapa -- teknik menulis. Aku malah susah untuk menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan. Padahal sebelumnya enggak loh. Aku dengan gampangnya nulis apa aja tanpa memikirkan kaedah menulis yang benar. Pokoknya mengalir aja deh gitu. Misalnya tentang kuliahku yang kacau, karena dosennya males ngajar, atau masalah sepele yang membuatku terpaksa ngegalau, itu semua dengan mudahnya kutuliskan. Sekarang, mau nyoba nulis fiksi aja banyak banget kendala. Enggak tahu mau mulai dari mana lah, diksi awal yang kupakai jelek lah, beginilah-begitulah, dan masih banyak lahlah-lahlah yang lain -- yang menghambatku untuk menulis.

Untuk kali ini aku hanya ingin berterimakasih, teruntuk kalian yang telah memberikan ucapan kepadaku, yang telah memanjatkan do'a indah kepada-Nya buatku, yang telah memberikan segalanya. Aamiin, aamiin, aamiin yaa Allah. Angka 20 ini teramat luar biasa. Terimakasih juga untuk seseorang yang rela mengedit fotoku menjadi seperti ini, fotonya bagus meskipun mukanya enggak bagus, sekarang aku jadikan pp.
Aku sudah make a wish dalam hati. Enggak berani mempublikasikan, takutnya enggak kesampaian. Tapi wish me luck aja lah!

Catatan Ke 59
oleh Hadi Kurniawan pada 16 Februari 2012 pukul 20:51 ·
Sudah nyaris seminggu. Aku masih terlilit pada masalah yang sama -- kehabisan kata kata ; mati kata. Puaaah ...! Mau nyoba produktif saja kok susah, batinku selalu cerewet.


Catatan Ke 61
oleh Hadi Kurniawan pada 19 Februari 2012 pukul 21:35 ·
Vuri, nama teman eSDeku. Dia salah satu gadis cantik dari beberapa, di eRTeku. Kemarin waktu aku ulang tahun dia ngucapin. Tahun lalu, pun sama. Begitu juga sebelumnya. Dia memang sudah hapal tanggal lahirku. Entah maksudnya apa. Baiklah ..., aku menyukainya ..., karena dia adalah temanku, atau lebih.

Cukup aneh. Tergambar diingatanku, sudah 3x berturut-turut aku tidak mengucapkan selamat pada ulang tahunnya. Aku hapal tanggal lahirnya. Tapi ketika saat itu tiba, aku lupa.

Ini juga gara-gara dia pake acara ngeblokir efbiku. Puaaah. Salahku juga sih, membagikan fotonya kebeberapa temanku. Aku menyesal. Beberapa tahun yang lalu sih sempat ngasih dia ucapan. Ketika dia resmi 17 tahun. Sekarang ... umurnya masih 19, meskipun dia lahir pada tahun yang sama denganku.

"Aku pengen ikut kau lah!"
"Ke Plembang?"
Aku mengangguk.
"Ngapain?"
"Mutihin badan."
Dia ketawa kecil.
"Kau putih nian sih,"
"...."
"...."


Dulu waktu SMP obrolannya gini.
"Eh Vuri, kau nonton pesona fisika ndak?"
"Ndak, emang kenapa, Wan?"
"...."
"...."

Pertanyaan yang konyol. Ketika itu dia sedang ngerumpi dengan kedua temannya. Acara pesona fisika itu adanya di Tvri. Kenapa kutanya begitu? Karena setahuku, dia suka acara itu. Makanya aku juga ikut suka. Eh ternyata salah. Aku kecewa.

Waktu SMA.

"Wan ayolah ajari aku!"
Waktu itu lagi di warnet.
"Iya, ini lagi di usahain."
"...."
"...."
Tiba-tiba Pitri dateng. Aku sudah tidak menjalin hubungan dengannya, tapi tetep berteman baik. Pitri masuk, mergokin aku duduk berduaan. Vuri salah tingkah. Pitri langsung cabut keluar. Sambil bilang, "Ng ... aku alergi AC, ku tinggal ya,"
Pitri berlalu. Vuri langsung jaga jarak padaku. Aku bingung. Untungnya aku tidak sempat bunuh diri.

Adakalanya kelak ketika aku tua, tinggal mengenang saat-saat seperti ini. Seraya tersenyum dan menyebut namanya dalam hati.

Catatan Ke 66
oleh Hadi Kurniawan pada 2 Maret 2012 pukul 17:10 ·
Aku sedang butuh kepastian, sungguh benar-benar butuh itu. Kumohon segeralah tunjukkan kepadaku.

Menunggu. Itulah yang selama ini kulakukan. Tidakkah kau sadari jika aku sudah menunggu ini selama ratusan jam?

Sebagai manusia yang berbatas, aku tak sanggup lagi.

Oh Tuhan, berapa IPK ku semester ini ....

Catatan Ke 68
oleh Hadi Kurniawan pada 4 Maret 2012 pukul 8:55 ·
Kamu tahu apa enaknya menunggu? Pikiran kita bisa mengembara. Menyeberangi seluk beluk tertentu. Bahkan bisa saja berselanjar jauh. Memprediksikan apa yang akan terjadi dengan senyuman. Juga membuat khayalan mustahil untuk kebahagiaan. Itulah enaknya menunggu. Tapi aku tak mau berlama-lama menunggu. Kepalaku kini sakit. Teramat banyak tumpukan khayalan di otak. Berat. Dan sekarang aku hanya ingin tidur.

Kamu tahu? Otakku kini mulai kapalan. Jidadku pun mengeriput. Telalu tajam aku memforsirnya, hanya untuk memikirkan sesuatu yang tak jelas. Semua ini karena aku menunggumu.

Kamu tahu nggak? Aku sudah mulai risih. Tidur pun rasanya nggak berenergi. Insomnia jadinya.

Kamu tahu? Aku juga sering mengimpikanmu. Menggandeng kenikmatan.

Aku sadar, aku memang harus menunggu. Aku tahu, kau memang pantas untuk di tunggu. Makanya aku rela berlama-lama menunggu demi kamu. Ipk ku.


Comments

  1. cup... cup... boy dunt cry lah! masalalu emang selalu begitu... :)

    ReplyDelete
  2. Catatan ke 68 tentang menunggu itu..
    pikiran bisa mengembara, bisa juga kesal ya =D

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber