Menunggu Lampu Hijau #15HariNgeblogFF2

"Aku nggak kuat, Bang!" Mata Ainisa berkaca-kaca.
"Kita kuat, Ai. Percayalah!" Uzay menggenggam tangan Ainisa erat.
Ainisa tak mampu membendung air matanya saat Uzay meminta izin untuk merantau ke Lubuklinggau.
**

Beberapa tahun sebelumnya.
Bukittinggi, Juni 2008.

"Luluuuus!"
Luapan kebahagian Uzay dan kawan-kawannya terdengar riuh di dekat jam gadang. Betapa keriangan yang tiada terkira tergambar dengan jelas pada muka semua anak muda ini. Bibir Uzay mengembang bak bulan sabit yang melengkung indah.

Di ujung sebelah sana, terdapat pasukan lain berseragam sekolah penuh coretan yang sama, sedang bersuka cita, merayakan hal serupa. Seorang gadis manis tak sengaja menangkap pandang ke arah Uzay. Dunia seolah-olah berhenti ketika sepasang mata saling bertatap tajam. Angin bertiup sepoy-sepoy membuat rambut mereka berkibaran.
"Uzay."
"Ainisa."
Perkenalan yang teramat singkat. Kedua tangan mereka menjabat erat. Dan di dekat jam gadang inilah, cinta mereka mulai melekat. Memang benar, masa SMA adalah masa yang paling indah. Tapi bagi Uzay dan Ainisa, masa setelah SMA akan menjadi masa yang lebih indah lagi.
**

Juni 2009. Di tempat yang sama. The First Anniv.

"Aku bahagia, Bang. Hari ini teramat indah." Ainisa tersenyum.
"Bukan!" ucap Uzay mendadak. Ainisa dibuatnya terbelalak.
"Bukan karena kita bahagia hari ini terasa indah. Tapi hari ini indah karena kita bahagia." Entah dari mana Uzay mendapatkan kalimat seperti itu, yang jelas ucapannya kali ini membuat Ainisa teramat bangga menjadi wanita. Uzay mengelus pipi Ainisa.
"Kamu selalu bisa membuatku bahagia, Bang. Semoga selamanya ," ucap Ainisa.
"Akan selamanya, Sayang. Seperti jam gadang ini yang akan sama selamanya sampai kapanpun juga.” Uzay mendekatkan wajah tampannya ke arah Ainisa. Ainisa terpejam. Jam gadang seolah menutup mata, enggan menyaksikan tingkah pasangan muda ini.
**

Juni 2010.
Matahari bersinar teramat terang. Pancaran sinarnya menyorot wajah pucat Ainisa dengan amat  gamblang.
"Apa yang kau lakukan, Sayang?" tanya Uzay mengiba.
Ainisa tak tahu harus berkata apa. Tubuhnya dingin, lidahnya pun sama. Panas matahari seolah tak mampu melenyapkan rasa gigilnya.
"Kamu tahu, aku juga merasakan sakit ketika kau sakit."
"Jangan paksa aku, Bang!"
"Aku ini punya siapa, sih?"
Kemudian suasana menjadi hening, meskipun orang-orang bejibun.

"Uzay Sebastian ...!" teriak seorang pria dewasa dari kejauhan. "Berhentilah mengusik adikku, atau kau akan kubunuh!" ancam Pria itu.
"Jangan salahkan dia, Kakak!" Ainisa tampak membela kekasihnya.
"Jangan membelanya, Bodoh!"
"Apa yang harus kulakukan, Kak?" Uzay bersimpuh.
"Jauhi adikku!"
Buggg. Uzay terjerembab.

Esok harinya, di tempat yang serupa.

Uzay menitikkan air mata saat membaca sebuah SMS dari Kak Beni - Kakak Kandung Ainisa yang membuatnya terjerembab kemarin -  mengabarkan bahwa Ainisa kini sedang kritis.

Ainisa kritis karena terlalu banyak kekangan yang merusak pikirannya. Kakaknya tidak merestui hubungannya dengan Uzay, karena menurutnya Uzay ini terlalu tampan. Sungguh alasan yang berada di luar akal sehat. Sementara itu Ainisa tak mampu berbuat apapun.

"Ijinkan aku menemui Ainisa, Kak!" pinta Uzay penuh harap.
"Hush! Pergilah, Kau!" Kak Beni mengusir Uzay bak mengusir anjing di pelataran.
**

Juni 2012. Undangan palsu telah sampai di Lubuklinggau tempat Uzay merantau.
Sarnisa Kadir akan menikah dengan lelaki tampan pilihan kakaknya - Hadi Kurniawan, seorang duda kaya. Uzay merasa terpukul. Dadanya sesak. Tuhan, inikah kode bahwa kiamat sudah dekat? Tanya Uzay dalam hati. Dan ia pun memutuskan untuk segera pulang ke kampung halamannya.

"Aku merindukanmu, Bang!"
"Aku pun merasakan hal yang sama, Sayang!"
Mereka berpelukan di depan Jam Gadang nan megah.
"Tunggu dulu!" Uzay melepas pelukannya. "Bagaimana dengan Kak Beni?"
"Kak Beni sudah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa oleh Tante Dini."
"Jadi?"
"Ceritanya panjang. Sekarang kita tinggal menunggu lampu hijau dari Tante Dini saja, Bang."  Kemudian hening.
"Beranikah kau melamarku?"
"Pasti."
Mereka berdua pun tersenyum.
"Bagaimana dengan Hadi?"
"Ah, aku bahkan tidak tahu siapa dia," ucap Ainisa cuwek.
Uzay tersentak dan mengerutkan jidatnya. "Dia adalah tokoh fiktif karangan Kakakku saja, Bang!" ucap Ainisa

Comments

  1. ane kira sobat nih duda, tapi cuma tokoh fiktif belaka :D

    ReplyDelete
  2. haha.. keren. surprise di kalimat terakhir. "gila" abis!

    ReplyDelete
  3. kecewa lah fiktif belaka....

    ReplyDelete
  4. wah udah serius tp ternyata hanya fiktif...hehhee

    ReplyDelete
  5. ijin menyimak saja dulu gan, mo bilang saya sudah follow #59, polbek bila berkenan y.
    salam sehat selalu

    ReplyDelete
  6. bwhahahah.. boleh boleh :P

    btw program 15 hari ngeblog ini biasanya dari twitter nih, ada lagi kah ff15hari??

    ReplyDelete
  7. gubraaag si hadi duda kaya.. entah kenapa alur itu mengalir tapi terputus setelah baca bejibun #udah kaya ngga ada kata lain di di..

    eh ngga boleh peluk peluk tau masih kecil :-P

    ReplyDelete
  8. Artikelnya menarik sekali. Mantaff. Salam dari Blogger Pontianak

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha mantep banget ya artikelnya =D LOL

      Delete
  9. hahahaha..
    eh Di, pemakaian nama tanpa minta izin dulu bisa dituntut loh.. trs tuntutannya harus traktir makan :D
    lu kan duda kaya, hahahaha

    ngakak aku baca ini tapi romantis juga, keren :)

    ReplyDelete
  10. wkwkwkwk kayak kenal sama nama2nya ;p

    ReplyDelete
  11. huahahhaa...kembaran gueh duda kaya toh :D :p

    keren cuy, gud luk ye kontes FF :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Saya menghargai setiap komentar yang kamu berikan. Maka jangan pernah sungkan untuk meninggalkan komentarmu. Untuk kepentingan bisnis, silakan hubungi saya via email di hadisujatman@gmail.com

Salam!

Popular posts from this blog

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Kamus Bahasa Linggau