Si Bentol Bentol-Bentol

Yuhuuuuuuuuu! Akhirnya paket yang ku tunggu-tunggu sampai juga. Setelah menunggu sekian lama, dan setelah aku terpaksa pura-pura galau juga, untungnya aku ga di tipu. Alhamdulillah.

Menerima kenyataan keterlambatan sampainya paket ini, tak membuatku jera dalam berbelanja online. Hari ini aku kembali melakukan transaksi dengan jumlah uang yang ga sedikit. Ratusan ribu, Booo! Banyak bangetlah.

Yang jelas, untuk transaksi kali ini, sangat menyedot isi rekeningku. Padahal uang yang kukumpulkan selama kurang lebih setahun itu, akan ku pakai buat jalan-jalan ke Jogja liburan nanti, eeeh ga taunya kepake juga.

Flashback, jadi proses pengiriman JNE yang kemaren itu  5 hari lamanya. Semsetinya 2/3 hari sampai sih, Cuma si kurir JNE nya aja yang males nganter ke rumahku. Maklumlah, rumahku juga ada di ujung kota gini kok, takut di culik kali tu orang. Soalnya si kurir ini orangnya gemuk, cewek, rambutnya cepak kayak polwan, tapi suaranya kecil banget kayak anak SMP kecepit lemari.

Berhubunga dia ga tau letak rumahku, meskipun sudah ku kasih tau juga, dia tetep memilih untuk menunggu di depan SD 62 yang jaraknya sekilo dari rumahku.

Pokonya aneh lah, dia menungguku seolah-olah sedang menunggu pacarnya untuk ngedate.

Sesampainya paket itu aku langsung menuju ke rumahnya Bowing. Namun sempat juga aku tiduran sebentar sekitar 2 jam. :D

Sampai di rumah Bowing langsung cabut ke rumahnya Bentol yang, ampuuuun, jauhnya kayak mau ke Ostrali. Ibarat kata rumahku itu ada di ujung kulon, terus rumahnya Bentol itu di ujung wetan. Kurang ngerti juga jaraknya berapa kilo, soalnya amper di motorku sudah rusak,jadi ga bisa ngitung.

Kalo jarak rumahku ke rumah Bowing mah deket, paling-paling sekitar 15 menitan jalan kalo naik motor.

Nah, kedatangan aku sama Bowing ke rumah Bentol yang jauhnya ga ketulungan ini sebenarnya ada 2 hal.
Pertama, kita mau nganter barang yang kita pesen bareng-bareng, terus bukanya juga bareng-bareng.
Kedua, kita mau jenguk dia.

Bentol sedang sakit. Sakitnya dia termasuk sakit yang menular. Si Bowing lumayan cemas juga sebenarnya ketika aku ngajak dia kesana. Pasalnya penyakit yang diderita Bentol ini punya peluang untuk nular ke tubuhnya. Soalnya seumur hidupnya dia belum pernah kena penyakit itu. Sedangkan aku, amaan. Aku sduah pernah menderita sakit yang semacam itu dulu waktu SMP!

Mukanya Si Bentol bentol, kakinya juga bentol, semuanya bentol. Ku prediksikan jika tititnya dia juga bentol.  Aku cukup kesian sebenarnya kepada dia, cuman melihat ekspresinya yang ceria abis rasanya kurang tepat kalo aku sok bela sungkawa gitu. Lagipula Si Bentol cuman sakit cacar.

Temen-temen di kampus mah edan. Ada seseorang yang ketika tahu Bentol sakit cacar, langsung ngetawain. Masa udah gede sakit cacar, katanya. Huaaaaa

Terserahlah, Orang mau ngomong apa. Kemarin waktu aku googling tentang penyakit cacar, disebutin kalo penyakit itu disebabkan oleh virus. Virus itu menyerang manusia yang punya daya tahan tubuh lemah. Ga peduli anak kecil, anak baru gede, anak gede, laki, atau perempuan, semuanya juga bisa kena cacar.

Tapi katanya, orang yang udah pernah kena cacar sekali, ga bakal kena cacar lagi. Jadi intinya, penyakit cacar ini  Cuma menyerang seseorang sekali seumur hidup.

Pulang dari rumahnya Bentol  keadaan langit sedang menghitam. Aku dan Bowing nekat aja. Baru maju beberapa kilo dari sana, udah kegerimisan. Namun hal itu tak membuatku jera dalam berkendara. Aku semakin focus pada jalan yang tak bertuan.

Sampai ketika sekitar setengah perjalanan. Aku yang mengendara dihadapkan pada dua pilihan, nekat atau berhenti. Ketika itu kami - aku dan Bowing - tepat berada di depan perbatasan antara daerah yang kena hujan deras dengan daerah yang kena hujan gerimis. Atau mungkin, saat itu kami sedang berada pada suatu daerah yang belum kena hujan deras. Entahlah bagaimana mendeskripsikannya.

Aku mulai keder. Keder untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Bowing berucap kepadaku “Gimana?”
Aku terdiam. Bingung menentukan pilihan. Dengan tegas Si Bowing menawarkan niat baiknya untuk “Kita tukar posisi!” Bowing kini yang mengendara.

Aku tak begitu paham berapa kecepatannya saat itu. Aku haya terpejam, menyelamatkan mataku dari juri-juri hujan yang menghujam. Ketajaman hujan ketika itu sangat kurasakan sakitnya di jidad. Sementara Bowing aman saja, karena dia memakai helm pelindung di kepalanya yang lonjong.

Dalan keadaan terpejam, aku mendadak terkejut ketika nyaris terpental karena Bowing mengendarai bebekku betapa kencanganya. Pasalnya saat itu kami melewati sebuah tanjakan yang tak begitu tinggi sebenarnya.

Lepas dari marabahaya, kami singgah di waarung bakso. Rencana menghangatkan diri yang sukses.

Aku langsung pulang dari warung itu  setelah mengantar Bowing tepat sampa di depan rumahnya.  Sepulangnya aku ini, langsung aja bergegas mandi. Katanya mandi dengan air sumur adalah penangkal agar tidak sakit setelah kehujannan. Dan untung Alhamdulillah aku beneran masih sehat sampai cerita ini kubuat.

Meskipun begitu, kadinginan yang kurasakan tetap saja mendera. Aku menggigil barang sejam. Kira-kira pukul 7 malam aku mulai mengukur ranjangku. Maksudnya mengatur posisi untuk tidur. Mungkin karena lelah atau terbawa hawa dingin itu, aku terlalu cepat tertidur. Sempat bangun juga tengah malam, karena aku ingat jika belum gosok gigi.

Bangun tengah malam hanya untuk gosok gigi doang tak juga mengusir rasa kantukku. Sampai keesokkan harinya aku di bangunkan ibuku tepat pukul 7 pagi. :D

Tidur kurang lebih 12 jam banyak sekali hal yang kuimpikan.

Yang paling jelas mungkin adalah mimpi yang paling aneh. Dimana kala itu aku masih berada di sekolah dengan pakaian sekolah lengkap.

Yang menimbulkan keanehan adalah  ; aku SMA namun temen sekelasku semuanya teman-teman SMPku dulu, sedangkan gurunya itu adalah guru SD ku.

Seperti biasanya di sekolah-sekolah pada umumnya, saat mau pulang pasti membaca ayat pendek. Biasanya kan membaca Wal asri, inal insa… aku lupa nama ayatnya itu apa.

Tapi ketika itu kami satu kelas yang semuanya hampir laki-laki itu malah membaca doa mau mandi wajib. Entah karena apa, satu kelas malah keliru baca ayat semuanya.

Si guru kontan ketawa. Aku juga sempat nyengir sebelum teriaakan ibuku membuyarkan mimpiku.

Comments

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk