Masuk Kuliah Lagi

Setelah liburan semester satu bulan lebih, rasanya campur aduk. Kangen sama temen-temen. Kangen gosipan. Kangen jailin temen. Kangen nyanyi bareng walaupun fals. Kangen ngerasain kesel ama staf kampus. Kangen ngatain dosen. Kangen berdebat untuk masalah yang sepele, dan sebagainya.

Kampusku, mungkin adalah satu-satunya kampus yang nggak ngikutin musim. Contohnya begini ; Kampus lain musin ujian, kampusku belum. Kampus lain musim libur, kampusku belum. Kampus lain musim belajar, kampusku belum. Dan sudah begitu adanya sejak dulu kala. Aneh bukan?

Tanggal 19 lalu (seharusnya) kampusku baru saja memulai kuliah. Tapi (nyatanya) tidak. Aku masih harus pontang-panting dulu ngelarin KRS. Yang mana sistemnya nggak efektif sama sekali.

Bayangkanlah!
Aku harus menemui dosen PA untuk minta tanda tangannya. Terus ke ruangan akademik untuk minta cap yang jarak gedungnya mungkin ada setengah kilo meter dari ruang dosen PA, lalu nemuin dosen PA lagi untuk ngumpulin KRS. Sungguh nggak efisien. Waktu itu berharga coy! Apalagi teriknya matahari enggan kompromi. Timbul pertanyaan, kenapa ruang dosen PA nggak satu gedung aja dengan ruang akademik? Seenggaknya kan untuk mempercepat pengurusan KRS mahasiswa.

Okay, rasa kangenku untuk kesel sama staf kampus sudah terbayar. Dan rasa kangen itu semakin bergejolak ketika kekesalanku memuncak. KHS mahasiswa belum di cetak. Bagus! Si dosen PA bilang dengan setengah tegas, hari Rabu/Kamis KHS jadi. Rabu tanggal 21 Maret temenku tanya ke itu dosen, cuma dijawab belum ada. Kamisnya, aku yang menghadap, masih juga menggeleng itu dosen. Katanya baru jadi hari Senin, dengan alasan yang tak begitu jelas. Nanti hari apa lagi ya yang dikatakannya?

Aku tak mau banyak cingcong. Temenku dari kelas lain berani bilang kalo manajemen kampusku sedang bermasalah. Benar saja, KRS beberapa temanku ada yang kudu di usut ulang perihal perubahan kurukulum yang mendadak dan aneh.

Awalnya Dosen PA yang mungkin emang P-A' ngasih jadwal tanpa memasukkan matakuliah A, kemudian secara tiba2 matakuliah A tersebut dimasukin aja dengan mudahnya kayak masukin sendok ke mulut. Hal ini merugikan puluhan mahasiswa yang sudah wara-wiri jalan dari gedung ke gedung untuk ngurus KRS sebelumnya. Ribetlah kalau mau di jelasin. Aku sih tidak begitu pusing, karena matakul A tersebut sudah ku ambil tahun lalu. Yang di sayangkan, kenapa loh, kok begini? Apalagi, katanya kalau matakul A tersebut nggak diambil, tementemen yang belum ngambil matakul A itu bakal kena SP, yang mana harus bayar setengah juta lagi. Lucu sekali, mana mungkin ada orang konyol yang mau nyerahin duit sebanyak itu cuma untuk ngambil satu matakul doang?

Intinya, semua rasa kangenku telah terbayar. Bersama temen-temen yang lain aku cuma belajar sabar aja. Nerima. Ngikutin apa yang disuruh kampus. Mungkin yang perlu dipelajari dari kasus ini adalah, betapa pentingnya sebuah perencanaan. Tanpa renca tindakan kita tak keruan arah. Dengan rencana, kita bisa bertindak dan fokus hanya pada rencana. Kecuali kalo masih labil. Jadi janganlah labil!

Comments

Popular posts from this blog

8Share Indonesia Alternatif Mengumpulkan Duit di Internet

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber