Luapan Cinta Untuk Cendol

Aku mengenal cendol dari seseorang. Sebut saja Zahra, nama FB-nya Zahra Putri Azhar. Singkat cerita kami berdua chating kala itu, lalu dia memasukkanku pada sebuah grup. ‘Ini grup keren kak,’ kata Zahra ketika menjelaskan grup yang baru saja kumasuki itu. Tak banyak yang diungkapkannya. Bahkan, Zahra juga menyebut tentang sekolahan. Aku mulai bingung, bahkan teramat bingung, mengapa Zahra menyebut tentang sekolahan? Padahal setahuku Zahra tahu kalau aku sudah tamat sekolah. Apakah dia lupa? Pertanyaan konyol pun bersarang di kepalaku. Kemudian Zahra menghilang entah kemana. Meninggalkanku pada sebuah komunitas asing yang menurutnya keren itu.

Ternyata Zahra membawaku pada sebuah grup yang mana grup ini adalah sebuah sekolah kepenulisan online. Jadi ini bukanlah grup biasa seperti grup lainnya yang ada di FB pada umumnya. Ini adalah grup yang luar biasa. Terbukti beberapa hari yang lalu yayasan online ini sudah resmi disahkan oleh Menkumham Republik Indonesia. Aku merasa sangat beruntung bisa berada disini, setidaknya keinginanku beberapa bulan yang lalu untuk mempelajari sastra sudah berada pada suatu titik terang. Disinilah aku akan mengasah bakatku.

Mau curcol sedikit, ketika pertama kali masuk kelas, aku posting something yang gak penting di dinding, postingan gak pentingku itu berupa pernyataan kalau aku adalah anak baru, sungguh benar-benar pstingan yang gak penting, mendapatkan banyak sekali komentar. Penyambutan yang cukup mengesankan bagiku. Tapi, ada yang menganggapnya kontroversial.

Mengapa? Aku kurang tahu. Ketika itu FB-ku dibanjiri dengan banyak sekali notifikasi. Sumpah, demi Allah malam itu notifku deres banget. Mas Rick Luck yang baru saja kutambahkan sebagai teman tiba-tiba mengirimkan pesan privat kepadaku. Katanya aku dilarang membahas lagi masalah typo. Akupun menurutinya.

"Postingan ini jangan dihapus!" ujar Bunda Titie kepada admin.
Beliau memberikan saran agar admin hanya menghapus semua komentar yang rusuh saja. Namun, nasib berkata lain. Postinganku pun telah musnah dari peredaran. Tak membekas. Meninggalkan cerita yang tak tuntas.


Kak Mega, orang pertama yang kuajak chat sampai berdecak menyindirku di obrolan FB. "Hebat, dua kali posting, dua-duanya pun dihapus." kata Kak Mega.

Kembali ke typo, memang benar, dikala itu aku banyak menyingkat kata-kata. Terus terang, aku maniak SMS, jadi wajar jika aku kebiasaan. Namun arti dari typo itu sendiri adalah salah ketik.
Download Date Note Haris Hirawling Anak Cendol Gratis, Klik Disini
Suhe, orang-orang memanggilnya Om, kupikir dia seumuran ayahku, maka akupun ikutan memanggilnya Om. Orang yang pernah kuanggap tua itu, mengejekku cupu karena aku menyingkat kata. Aku agak dongkol, dongkol sama Suhe, bahkan dongkol banget. Namun setelah itu Madam Crystina menjelaskan bahwa di kelas dilarang menyingkat kata, aku pun langsung mengerti.
Belakangan kutahu dari profilnya, ternyata Suhe lebih muda dariku beberapa bulan. Kita seumuran. Dia keren loh, kemarin mengalahkanku di antologi cermin hati khusus belia 19 tahun kebawah.

Syarat lain, dikelas tidak boleh alay. Namun kata Bunda Titie lebay boleh.
"Loh, katanya gak boleh lebay bun?" tanyaku heran disebuah postingan beliau.
Lalu Bunda pun membalas dengan penuh canda, "Yang dilarang itu alay, kalau lebay ya boleh."


Cendolers juga diwajibkan untuk stres. Stres yang tahu batas tentunya. Jadi yang dimaskud alay disini adalah penulisan kata L1k3 tH15. Bahkan sampai ada Pasukan Pembasmi Alay-nya juga untuk mendisiplinkan cendolers yang nakal.

Cendolers, sebutan untuk anak-anak cendol, diwajibkan untuk memakai nama pena. Dengan tujuan, agar lebih gampang dikenali. Awalnya, nama FBku adalah Wawan Cara. Om Donatus A. Nugroho, suker keren dikelas cendol, sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan namaku. Namun, dalam sebuah kasus ada seseorang yang mencelaku.
"Itu bukan nama pena, melainkan kata kerja." kata Mbak Divin, Seniman sekaligus merangkap jadi tukang tanya nama pena.

Aku mendadak galau, separuh hatiku enggan mengubahnya, nasib nama pasaran pun membuatku kian menggalau. Aku harus menerima kenyataan, bahwa Hadi Kurniawan, nama pemberian ayahku belasan tahun yang lalu itu tak dapat dipungkiri kalau ada dimana-mana. Maka kuputuskan untuk memotongnya menjadi Hadi Ku.
***
Aku betah di kelas cendol karena tidak monoton. Setiap hari selalu ada saja yang baru. Entertaintment-nya pun seru. Ada Gosipnya juga. Malahan akupun sempat digosipkan dengan Ayu Ira karena terlibat adu puisi cinta di Pupucen dan tampak akrab di kelas Cencen. Kala itu, reporter unyu Rika Riyanti memboyong Yuna sebagai saksi mata. Ini benar-benar luar biasa. Mengagmkan.
Selain itu aku juga suka dengan kebijakan yang diberikan oleh bapak Mayoko Aiko, kepala sekolah kelas cendol, yang banyak memberikan tanda cinta berupa buku secara Cuma-cuma. Aku selalu mengikuti riset berhadiah dari pak KepSek, dan akupun menang di riset iklan yang ke-2. Doaku, semoga kiriman hadiahnya sampai ke rumahku dengan selamat. Aamiin.

Di cendol juga ada perpustakaanya. Menarik sekali, aku bahkan bisa membacanya berulang-ulang. Dan masih ada juga yang seru di kelas Cendol. Seperti:
  •  MTTAC, itu mirip kayak acara take me out . Heran sekali aku awalnya. Meskipun hanya pura-pura pacaran nantinya, namun acara berjalan seolah take me out di tipi beneran.
  • Pancen Oye, ini kelas yang kusuka, berbalas pantun.
  • Cerpendol, membuat satu cerita, tapi orang banyak. Kayak estafetlah, membawa satu tongkat dari awal sampai ujung, tapi dengan mengoper-oper dulu keteman.
  • Cencen, ini juga aku suka. Sebagai penulis amatir yang susah mikir, kelas inilah yang paling gampang kuikuti. Disini mempelajari fiksimini. Mengarang cerita suatu tema dengan 160 cws, 160 karakter dengan spasi, bukan 160 kata.
  • Pupucen, Ock, Ocb, Cenayang, Cie dan sebagainya.
***
Fakta: tak selamanya kita belajar kepada orang yang lebih tua, karena ada kalanya kita juga harus belajar kepada yang lebih muda untuk mengembangkan diri, bakat, dan sejenisnya.
Itu benar, pengajar di kelas cendol atau yang diistilahkan dengan Suker alias Suhu Keren, tidak melulu orang yang tua. Aku pernah belajar kepada cendoler yang lebih muda, bahkan orang yang lebih muda itu tidak kalah kerennya kok dengan orang yang tua. Buat apa malu-malu bertanya kepada anak kecil kalau masih dalam lingkup yang positif?
Berikut adalah hal-hal positif yang ku dapatkan di kelas Cendol:
Download Date Note Haris Hirawling Anak Cendol Gratis, Klik Disini
  1. Mendapatkan banyak teman baru yang keren.
  2. Bisa diskusi bareng sama teman yang sedang online.
  3. Bisa membaca cerpen dan puisi gratis.
  4. Jadi mempunyai banyak adek yang notabene di dunia nyata aku tak punya.
  5. Bisa belajar menulis sesuai EYD.
  6. Kursus bahasa ingggris gratis.
  7. Bisa melatih bakat berpantun.
  8. Melatih diri untuk berpuisi.
  9. Dan masih banyak lagi yang tak dapat kuuraikan satu per satu.
I LOVE CENDOL. Aku bangga menjadi cendoler.

Karena sudah banyak kesenangan yang kudapatkan, demi Allah aku berani berteriak. CENDOOOOOOOOOOL.... AKU MENCINTAIMUUUUUUUUUUUUU!
Download Date Note Haris Hirawling Anak Cendol Gratis, Klik Disini

Comments

Popular posts from this blog

Cara Paralel Propana Reload ke Jabber

Decolsin Solusi Flu Batuk yang Menyebabkan Kantuk

Kamus Bahasa Linggau